Friday, February 20, 2009

Bad mood….

Akhirnya… setelah absen seharian kemaren, aku kembali bisa buka lembaran catatan harianku ini. Kemaren itu hatiku sama sekali ga nyaman… letih, penat dan mengalami banyak hal yang terasa janggal dan menjengkelkan. Aku mengikuti Seminar di Hotel bintang lima di Kota Medan, Ballroom Hotel Grand Angkasa. Seminarnya diberi judul “KONSULTASI REFORMULASI DAN PENGUATAN PELAYANAN DIAKONIA HKBP”. Pembicaranya keren-keren, topik yang dibahas juga keren. Keynote speechnya orang no 1 HKBP, Ephorus… tapi karena banyaknya kesibukan beliau yang sama-sama menuntut perhatian, terpaksa diwakilkan kepada Praeses Medan, Pdt. SMP Marpaung. Ada juga Informasi tentang HIV/AIDS oleh Dr. Josia Ginting, tentang Bahaya Narkoba oleh AKP Tuty Herawaty dari Dept Penanggulangan Bahaya Narkoba POLDASU, Makalah Refleksi Masalah Pendidikan dan Partisipasi Gereja untuk meminimalisir permasalahan sosial di Indonesia dibawakan oleh DR. Bornok Sinaga, dan tanggungjawab manusia terhadap kerusakan alam pembahasannya disampaikan oleh Pdt. Gomar Gultom dengan memberi judul makalah: “Ketika Alam semakin Rusak, dimanakah engkau?”. Makalah terakhir yang sebenarnya membuat aku risih dan miris, sebagaimana pengakuan bapak Polin Pospos yang menyampaikan makalah “PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI KALANGAN WARGA GEREJA OLEH GEREJA”. Mengapa risih dan Miris? Peserta yang hadiri seminar sekirat 150 orang, padahal kursi yang tersedia untuk 200-an orang. Yang dibicarakan adalah penanggulangan kemiskinan, tapi yang membicarakan sedang duduk dengan nyaman di kursi empuk dan menikmati sajian Hotel bintang 5. Ironis memang…. Tapi begitulah. Bang Gomar bilang, penting Gereja mengkaji ulang, apakah mungkin meninjau kembali lokasi atau tempat yang dipakai untuk berseminar mengenai pelayanan Gereja dan kemasyarakatan. Karena dia juga baru pulang dari Sidang Raya PGI di Makassar, yang juga membahas tema yang hampir sama dan sama-sama dilakukan di Hotel bintang 5.

Sebenaranya pembahasan menarik, namun menurutku Panitia salah memperhitungkan waktu sesuai dengan kontent pembahasan. Apa mungkin 5 pembicara menyampaikan makalahnya bersama dengan tanya jawab hanya dalam 1 jam? Belum lagi Ibadah penutupan dalam schedule hanya 15 menit berubah menjadi 1 jam karena Pendeta yang berkotbah sangat bersemangat menyampaikan kotbahnya, sehingga lalai dan kurang sensitive melihat keletihan peserta Seminar yang sangat setia duduk mengikuti jalannya acara sejak jam 8.30 pagi sampai jam 7.30 malam? Ah…. Aku menjadi bad mood karena hal ini. Letih dan capek mikirin… apa kira-kira kontribusi yang bisa disumbangkan sebagai hasil dari Seminar yang menghabiskan budget puluhan juta ini bagi penguatan Pelayanan Diakonia di HKBP?

Pulang ke rumah suasana hatiku jadi terbawa bad mood. Belum lagi sepanjang hari aku lost kontak dengan’Honey’, karena kami berdua sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing? Dia disibukkan dengan 2 jadwal meeting, aku harus duduk manis mendengarkan buah-buah pikiran yang hebat untuk HKBP. Akhirnya Honey telpon juga, tapi aku juga ga ngerti dengan suasana hatiku. Jawaban yang kuberikan, tanggapan yang diberikannya sama-sama ga jelas juntrungannya, menurutku. Sebenarnya aku sadar, tidak adil bagi Honey untuk menanggung dampak dari kondisi psikhisku yang sedang komplikasi. Dia sadar bahwa kekasihnya ini memang butuh ditenangkan. Diberinya aku berbagai hal yang bisa mengalihkan pikiran yang kelewat nancap pada hal yang tak sanggup kupikirkan… namun aku justru menanggapinya dari sudut yang beda… aku menganggap dia terlalu mengalah untukku karena kasihan padaku… dan aku benci dikasihani. Honey mencoba terus membujukku, membuatku merasa nyaman, namun yang ada jadi salah paham. Sampai jelang tengah malam (hampir 3 jam ngobrol di telpon) aku belum berhasil menentramkan bathinku. Aku tidur dengan gundah yang membuncah… walau kekasihku memintaku untuk menuliskan semua kegelisahanku melalui e-mail dan mengirimkan kepadanya supaya hatiku lega…. tapi aku ga janji bisa melakukannya. Entah jam berapa aku benar-benar tertidur tadi malam…

Pagi ini aku bangun kesiangan sudah hampir jam 7, langsung mandi dan siap-siap pulang ke Siantar. Perjalanan dari Medan tadi diawali jam 10.15 pagi dengan Tulang, Nantulang, Ito, Eda dan Jeremy anak mereka. Aku nyampe di Siantar tadi jam 2. Seharusnya sebelum jam 1 siang sudah tiba, sayangnya menjelang Sei Rampah ada masalah dengan Dynamo mobil… terpaksalah diperbaiki dulu, takut kenapa-kenapa di jalan, karena Rombongan Tulang masih akan melanjutkan perjalanan ke Tarutung, menemui anak, manantu dan cucu mereka yang baru lahir Kamis malam kemarin jam 12.

Aku langsung ke Kantor dan menikmati kemewahan ini, bisa ngeNet, ngeBlog, ngeFeizbuuk-ria. Ini pengalihan yang manis untuk bad mood yang masih terus berlangsung… Belum lagi sepanjang hari ini aku dibuat agak kesal dengan beberapa janji yang yang ga ditepati. Entah kenapa… Beberapa hari ini aku agak aneh… mendadak melow…. gampang tersinggung, kelewat sensitif dan bad mood melulu. Mungkin ada orang yang tersinggung karena sikapku. Aku sendiri juga tersiksa dengan keadaan ini. Aku ga tau ada apa denganku… Tapi sudahlah.. kuharap Honey-ku ngerti, memahami, bukan dengan niat mengasihani….

 

Posted by Olin73 at 11:27:47 | Permalink | No Comments »

Wednesday, February 18, 2009

Kesulitan menulis

Sebenarnya tidak seorangpun yang pernah memaksa dan mengharuskan aku untuk setiap hari selalu menulis di blog ini. Tapi aku sendiri telah  membuat komitmen kepada diriku sendiri, mewajibkan diriku untuk melakukannya, karena aku memang mau belajar disiplin, konsekuen dengan komitmen pribadi. Persoalannya, ternyata tidak mudah untuk mendapatkan mood yang baik untuk menulis setiap saat. Dari tadi aku hanya melotot di new page blogku ini. Bingung apa yang harus kutulis dan dari mana aku harus mulai. Bukan karena tidak ada kejadian atau pengalaman yang bisa kubagikan, tapi aku memang kehilangan mood untuk menulis.

Sejak pagi tadi aku sedikit sibuk mempersiapkan beberapa bahan yang akan kubawa ke Medan. Tadi  pagi, secara tiba-tiba pimpinanku yang baru memberi instruksi (melalui SMS pula) agar aku membawa bahan-bahan itu sebagai pegangan untuknya saat mengikuti seminar Tahun Diakonia HKBP di Hotel Grand Angkasa-Medan. Mungkin inilah sebabnya.. suasana hati yang ketika tiba di Kantor sangat fresh dan peace berubah menjadi complicated.Gimana ngga? Panik donk klo apa-apa harus dikerjain buru-buru. Padahal aku sedang bergumul harus nginap di Medan malam ini. Aku benci dengan iklim Medan yang panas dan sering mengganggu kenyamanan tidurku. Mending kalo aku terganggu tidur karena asyik ngobrol dengan kekasihku….Itu kan gangguan yang menyenangkan dan diharapkan…

Tapi sudahlah… Walau sulit sekali bagiku untuk mencari ide bagi catatan hari ini, kutuliskan jugalah… walau aku ga tau bagaimana bobot dari apa yang kutulis ini (kesannya maksa sekali ya?!). Akhirnya aku harus mengakui kebenaran dari pernyataanku sebelumnya: bahwa menulis memang sangat ditentukan oleh suasana hati….

Aku sempat Chatting dengan Iyet, adik sepupuku. Kukatakan padanya kegundahanku.. belum lagi koneksi Internet yang agak kacau sejak pagi tadi: lambat dan eror. Saran singkat cute cousinku ini sangat simpel: “Teleponlah Abang itu, Kak… supaya ditenangkannya hatimu”. Tapi gimana mo nelpon kalo dianya lagi sibuk dengan segala keruwetan pekerjaannya? Aku juga ga boleh egois, menularkan aura negatif yang kurasakan kepadanya. Ternyata… beberapa menit kemudian kekasihku menelpon. Dan benar saja… dia memang berhasil mengurangi perasaan jengkel dan mood yang jelek yang sangat mempengaruhiku sejak tadi. Sederhana saja caranya memotivasi: “Honey… jangan kesal… katakan pada dirimu, ‘kecillah masalah itu… bisa kuatasi!’ Sederhanakan saja persoalan, kau akan nyaman…”. Aku kemudian diajak untuk berfikir yang manis-manis… tentang rencana dan programku ke depan, rencana perjalananku beberapa bulan ke depan, rencana kami bertemu di Yogra, trip to Kaliurang, atau mungkin dia yang akan datang bulan depan ke Siantar… Dia juga mengajakku berfikir, bagaimana kalo punya rumah di tepi danau toba yang berbatasan dengan di Balige atau Porsea. Dan itu impiannya sejak lama, di hari tuanya nanti… sehingga dia bisa menghabiskan waktu dengan santai dan tenang, sambil menulis tanpa pernah merasaterisolasi karena berharap bahwa sekian belas tahun yang akan datang koneksi Internet sudah bisa dinikmati merata di seluruh kawasan Danau toba.

Aku senyum-senyum…. kugoda dia: “emang rencananya akan menghabiskan hari tua dengan siapa di sana?”. Dia tertawa… “Iya ya? Siapa kira-kira yang mau menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, mengomeliku karena kebanyakan merokok, karena menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menulis, karena tidak bisa rapi dan terlalu berfikir praktis… karena….hahahaha”. Kujawab dengan ringan: “Iya, asyik juga kali kalo ngomelnya bukan dengan marah-marah, tapi dinyanyikan dengan cinta… Pasti tidak akan terjadi ketegangan… tidak akan pernah berantem… Indah ya hidup yang begitu”. Kami berdua tertawa ngakak. Itu asyik… bagaimana mewujudkannya??

Ah… aku koq jadi ngelantur kemana-mana ya? Aku masih bingung bagaimana aku harus menulis dan mengisi lembaran catatan harian di blogku untuk hari ini. Tapi berhubung aku sedang kesulitan menulis. Kayaknya tulisan ini tidak harus kuperpanjang lagi. Takut makin ngaco dan ngawur. Lagi pula aku memang harus segera berangkat ke Medan beberapa saat lagi. File-file yang kubutuhkan juga sudah selesai dicetak sambil aku menulis di sini. Mudah-mudahan di perjalanan nanti ada hal menarik yang bisa mengubah moodku jadi lebih baik lagi, sehingga lebih creatif dan ada yang bisa kutuliskan untuk blog ini besok hari. Tapi kalo jadwal seminarnya padat, apalagi sulit dapat koneksi internet… mungkin besok aku tidak akan menulis… karena bisa jadi juga aku masih kesulitan mencari ide unbtuk ditulis… Ada yang bisa bantu aku ga???

Posted by Olin73 at 07:12:59 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 17, 2009

Cara berkomunikasi

Sebenarnya aku bingung mau menuliskan apa di sini, karena terlalu banyak yang ingin kutuliskan dan kubagikan. Media ini takkan cukup untuk menampung semuanya sekaligus. Namun terlalu berat juga bagiku untuk menyimpan dan tidak mengatakannya. Hmmm…. mungkin aku akan cerita mengenai kejadian tadi malam saja ya….

Menjelang malam, pulang dari kantor… Setiba di Rumah aku mengirimkan Pesan singkat untuk kekasihku: “Malam sayang, Kutelpon tapi ga dijawab, masih meeting? Maaf klo aku ganggu ya?! Aku hanya mo bilang: aku tiba-tiba kengen banget padamu, sampe nyesak mo meledak.. Take care, Honey”. SMS ini kukirimkan karena 2 kali kutelpon tidak ada jawaban. Namun 20 menit kemudian, sehabis meeting dengan Sekum di Kantornya aku menerima Pesan singkat darinya sebagai balasan atas SMSku; Isi SMS kekasihku cukup membuatku senyum sipu: “Aku baru selesai, sekarang OTW pulang ke rumah. Aku harap dirimu tidak sampai meledak, Sayang…. karena aku ingin mendekapmu utuh”. Dan seperti biasa, beberapa menit menyusul aku menerima telpon darinya. Jam masih menunjukkan pukul 9.45pm ketika telpon dimulai. Banyak hal yang akhirnya kami perbincangkan, seperti biasa…: kejadian yang masing-masing kami alami sepanjang hari itu, rencana besok, dari hal sepele sampai yang serius, dari persoalan budaya, politik, agama, sampai hal-hal konyol yang akhirnya membuat kami berdua sama-sama tertawa. Dan perbincangan ditelpon berlangsung berjam-jam. Kami berdua mungkin harus berterima kasih kepada TELKOMSEL, Provider Telepon Selular yang mengijinkan kami menggunakan layanan mereka dengan tarif murah. Biasanya telepon akan terputus dengan sendirinya ketika durasi sudah mencapai 1 jam 59 menit 40-an detik. Kalau itu terjadi, dengan spontan masing-masing kami akan langsung menelpon kembali.

(Pernah suatu waktu, hampir selama 30 menit kami tidak pernah berhasil melanjutkan sambungan telepon karena ternyata keduanya sama-sama sedang melakukan panggilan telepon terhadap yang lainnya (sama-sama ga sabaran nunggu ditelpon).Akhirnya kami membuat komitmen, jika telpon terputus, maka yang menerima panggilan yang akan melakukan panggilan kembali. Adil kan??). Tapi kadang kala kami juga jengkel, kalo jaringan lagi padat, belum 15 menit panggilan akan terputus. Sampai-sampai pernah terfikir, TELKOMSEL tidak tulus memberikan fasilitas Tarif murah, karena sasarannya adalah 130 detik pertama (jika panggilan dilakukan malam hari) yang cukup mahal, apalagi jika dilakukan dari pulau Sumatra, akan berlaku skema berulang tiap 13 menit. Wuuuiiihhh! Nyebalin…!!!!

Dan tadi malam TELKOMSEL sedang baik hari kepada kami, sampai 3 kali telpon dilakukan benar-benar terputus karena sudah tiba saatnya (1 jam 59 menit 52 detik). Orang lain mungkin akan bertanya: “apa sih yang diomongin sampai 6 jam… hampir setiap hari…. apa tidak bosan dan kehabisan bahan cerita?”. Tapi disinilah letak keanehan dan keunikan  yang terjadi dalam hubungan kami. Bukan berarti kami adalah orang yang kurang kerjaan… Kekasihku bahkan bisa punya 3-4 jadwal meeting (work task) sepanjang hari kerja sampai malam. Belum lagi dia harus mengorganisir beberapa project sosial berbasis idealisme… Sehingga sangat jarang memang di siang hari kami punya waktu untuk ngobrol lama. Yang pasti komunikasi tetap jalan, sekalipun hanya sekedar untuk mengucapkan: “selamat pagi, menanyakan apa sudah makan siang, atau hanya  sekedar untuk mengucapkan kata-kata manis yang menyemangati dalam bekerja”. (“gangguan yang diharapkan dan mengasikkan”, itu istilah yang selalu dipakainya untuk menggambarkan suasana berkomunikasi kami).

Ada hal esensial yang kami bicarakan malam tadi… sebenarnya topiknya menegangkan dan bisa memicu konflik, jika cara penyampaiannya meleng dikit saja. Ini masalah prinsipil dan pandangan terhadap sesuatu yang sangat erat dengan manusia dan kemanusiaan, kebutuhan jasmani dan rohani, prinsip hidup, dan lain sebagainya. Pokoknya sangat personal. Namun kembali aku harus bersyukur dihadiahi Tuhan seorang kekasih baik hati yang sangat mature dan dewasa dalam menghadapi masalah… Sebelum akhirnya menjadi ketegangan yang tak terjembatani, dia berhasil memecahnya menjadi tawa renyah… (Untung saja Mamaku masih di Kalimantan, kalo gak, pasti aku sudah habis diomeli sampai pagi karena sibuk mojok sampai pagi. Diapun harus setengah berbisik ngomongnya, karena takut ketauan orang seisi Rumah di Jakarta sana…). Cara berkomuniaksi… ini yang kupelajari darinya.. Bagaimana dia bisa mengendalikan alur percakapan sehingga tidak sampai membosankan. Padahal dia bukan alumni sekolah Public speaking,  juga ga pernah mengecap pendidikan di sekolah kepribadian. Tapi dia punya kemampuan yang sangat baik untuk itu. Aku iri.. dan itu kuutarakan padanya… Aku dengan tulus mengagumi dan memujinya, bukan karena pertimbangan “personal”, karena dia kekasihku, tapi lebih kepada kejujuran untuk melihat dan menilai abilitynya. Itu saja…

Sejujurnya, di hati kecilku juga muncul tanda tanya… “koq bisa aku jadi orang yang sangat sabar mendengar orang lain bicara, padahal aku ini seorang Sanguine Populer yang cenderung Narcis (wuiiihhh). Aku katakan bahwa itu karena ada sisi dari kebutuhan rohani, kebutuhan bathin yang terpenuhi, meski hanya dengan bicara lewat telepon, dibentang jarak yang sangat luas (aku coba liat di googleearth, lumayanlah jauhnya kami terpisah). Pertanyaanku dijawabnya dengan pernyataan: “Aku juga keran dengan diriku… kenapa aku sanggup melakukan ini, tanpa rasa bosan atau jengkel sedikitpun… karena aku sedang bicara dengan perempuan hebat, yang sejak awal sudah membuatku terpesona… ya, kau memang berbeda, Honey…!!” (wow… so sweet….). Mungkin disinilah letak kekuatannya. Tidak mudah memelihara keselarasan perasaan dan fikiran tanpa kontak nyata, bertemu fisik, face to face. Tapi untuk kami itu terjadi. Dan bagiku ini adalah muzizat, miracle. Konyol mungkin karena kami hanya pernah bertemu beberapa jam di awal tahun ini, namun semua yang ada di dalam momen biasa-biasa saja itu bisa kami ingat dengan jelas… Dan itu yang kami resapi… sehingga bisa merasakannya, percakapan yang bukan hanya meninggalkan kehangatan di sekujur tubuh, tapi juga melegakan dalam hati… Inilah kekuatan dalam cara berkomunikasi, ketika kita bersedia memberi telinga dan hati untuk meraih perasaan dan hati pasangan kita…. Kiranya ini bisa terus kami pelihara…. Karena tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, duduk bersama di “meja yang bundar”.

Perbincangan tadi malam ngalor ngidul kemana-mana… dan ga terasa sudah menjelang subuh, belum sedikitpun terasa mengantuk. Hanya karena sadar kalo pagi harus berangkat ke Kantor dan kerja lagi… sementara perjalanan dari Rumah ke Kantornya sekitar 3 jam (Jakarta emang craowded dan biangnya macet), akhirnya telepon harus diakhiri. Memang terasa berat… karena berkali-kali telepon mau diputus, dia kembali mengatakan: “Aku sangat tidak ingin mengakhiri kebersamaan dalam perbincangan ini… tapi ini dilema sih… Aku akan merindukanmu, dalam mimpiku” (apa iya masih sempat mimpi klo berangkat tidurnya sudah hampir jam 4 pagi sementara jam 6 harus sudah bangun lagi??).

Dan pagi tadi… aku terbangun dengan sangat fresh dan bahagia… (walau hanya sempat tidur kurang dari 2 jam). Yang pertama kusyukuri adalah mutu dari percakapan kami, membuat tidurku sangat nyenyak dan berkualitas. Kuambil ponselku, kukirimkan SMS padanya: “jika KEBAHAGIAAN adalah kata kerja, aku mau bekerja keras untuk itu. Aku mau kau juga membantuku, supaya selalu ada inspirasi untuk menghadirkannya. Karena aku ga mau kehilangan apa yang kurasakan saat aku menyelami hatimu”. Dan seperti biasa akan segera ada jawaban dari seberang sana: “Aku kagum padamu, Honey.. pada semangat yang tak bisa patah, pada kegigihan untuk tak menyerah meski dikalahkan berkali-kali, pada keteguhan hati untuk membuat bermakna segala yang sia-sia, dan pada keberanian menjadi diri sendiri sambil menyembuhkan semua luka”. Disinilah letak kekuatan cara kami berkomunikasi… Dia tau apa yang kubutuhkan: bukan belas kasihan, atau pembelaan membabi-buta, tapi dukungan yang membuat hidupku berwarna pelangi…. demikian sebaliknya. I love you, honey…. day by day… more deppest!

Posted by Olin73 at 06:40:41 | Permalink | No Comments »

Monday, February 16, 2009

I do like Monday….

Ini hari pertama masuk Kantor. Banyak orang bilang : “I don’t like Monday”. Dulu sih aku ga ngerti kenapa… toh menurutku semua hari sama saja. Namun akhirnya aku paham kenapa hari Senin itu menjadi hari yang kurang disukai, karena merupakan hari pertama dalam satu Minggu untuk memulai aktifitas. Jadi buat “orang Kantoran” ini memang agak menyebalkan. Bayangkan harus kembali berhadapan dengan tumpukan file-file dan pekerjaan yang pending selama Kantor libur Sabtu dan Minggu. Selain itu akan terjadi perubahan ritme hidup dari bersantai di Weekend menjadi serius di hari pertama.

Kalo bulan-bulan kemaren, aku juga berpikiran sama dengan orang-orang kebanyakan.. nyebalin kali harus kerja lagi abis liburan…. Tapi hari ini aku berubah memandang hari Senin / Monday. Setelah terjadi lost Contact dengan kekasihku sejak Sabtu sore sampai Senin subuh, akhirnya aku bisa berkomunikasi lagi. Tadi pagi aku menerima Pesan Singkat yang membuat hatiku tergetar: :”Semalam aku memelukmu dan menciummu….. dalam mimpi. Aku terbangun dan merasa kecele, tapi rindu dan hasratku padamu tetap membara”. Hatiku langsung tenang dan damai menerimanya, karena 5 menit kemudian kekasihku menelpon dan menceritakan semua yang dialaminya selama lebih dari 48 jam terputus kontak denganku. Dan aku mempercayainya, karena tidak jauh dari apa yang kupikirkan dan kubayangkan. It’s OK Dear… Aku mendukungmu dan berdoa juga untukmu dalam pergumulanmu….

Terkadang menghadapi masalah dibutuhkan ketenangan dan kearifan. Dan itu yang ditunjukkan kekasihku dalam perjalanan cinta kami, bagaimana cara bertutur, menjelaskan hal-hal yang tidak kupahami, menenangkan kegelisahanku, bukan dengan rayuan gombal yang menyesakkan, tapi dengan sangat lugas dan tegas… namun tidak menyakiti atau membuatku kecewa. Bahkan sungguh-sungguh harus kuakui.. banyak yang berubah dalam diriku karena dia… bukan karena aturan-aturan yang membuatku merasa kemerdekaan dan kebebasanku terpenjara, tapi Dia berhasil membuatku berubah dengan kesadaranku sendiri.. karena aura energi positif yang setiap hari ditularkannya padaku.

Aku serasa terbang ke langit ketika dia kembali mengirimkan Pesan singkat 5 menit setelah percakapan kami di Telepon berakhir: “Setiap kali aku merasa Honey sedang berusaha menjangkauku, ada rasa hangat melumuri jiwaku, ada kesadaran yang kuat dan membahagiakan: ternyata aku dicintai, dibutuhkan, diinginkan dan dirindukan. Terima kasih Olin”.  Sebagai balasannya aku kembali menelponnya, untuk mengucapkan terima kasih atas cintanya yang kurasakan mengubah warna hidupku. Dan seperti biasa…. ada damai dalam bathinku… Disinilah kekuatan cinta kami.. saling membutuhkan dan saling menguatkan. Aku merasakan kehadirannya adalah berkat untuk kesendirianku yang sudah berlangsung sangat lama…. 7 tahun bergumul dalam ketidakpastian… Dan dia juga mengakui kehadiranku sebagai penyemangat yang memberi nuansa “merah jambu” dalam kondisi hidupnya yang porak poranda selama enam tahun terakhir…. Bahkan setiap hari dia selalu merindukan “gangguan yang mengasikkan dan ditunggu-tunggu”, berupa telepon atau sekedar Pesan singkat… separah apapun kesibukan yang menumpuk di meja kerjanya… Dalam hati aku bergumam: ‘hmmmm perasaan kita sama, Sayang.. Justru aku selalu menunggu diganggu lebih sering!!”

Aku bersyukur menemukan dia dalam perjalanan hidupku.. tidak perduli itu terlambat atau terlalu cepat. Yang pasti… bersamanya aku sangat bahagia… kukirimkan juga Pesan singkat untuknya: “Kian hari chemistry itu kian kuat. Aku ingin selalu ada dalam tiap helaan nafasmu sebagaimana aku merasakan kehangatan cintamu dalam detak jantungku. I need you coz I love you, Dear….”. Dan hanya 2 menit dia juga menelpon kembali sekedar mengatakan” I love you, Olin… I miss you..”.

Aku suka hari senin, I like Monday… karena biasanya lebih banyak cerita yang bisa kami sharingkan di hari senin, mencuri waktu disela-sela tumpukan kerja yang tertunda…. Thanx to be mine, Honey…

Posted by Olin73 at 10:21:43 | Permalink | No Comments »

Sunday, February 15, 2009

Kegelisahanku di hari Minggu….

Hari ini aku gelisah. Padahal seharusnya aku bahagia… karena perlahan-lahan, aku mulai semangat lagi melakukan apa yang memang sudah seharusnya kulakukan karena itu memang merupakan bahagian dari pelayanan profesi. Aku berkotbah di HKBP Dolok Sinumbah dalam Ibadah Minggu Siang. Natnya mengenai Penabur dan benih… kontur tanah dan bagaimana nasib benih itu… bagaimana integritas manusia yang sudah menerima Firman… masihkah beriman timbul tenggelam, kerempeng atau masa bodoh? Apakah ada yang telah benar-benar mengerti, memahami firman dan buahnya nyata dalam hidupnya sehari-hari? Memang, seringkali pergumulan dan masalah dalam hidup membuat sebagian manusia justru menjauh dari penciptanya… Aku berkotbah 40 menit. kupandangi satu persatu, mereka semangat mendengarkan kotbahku…Semoga bukan terpesona dengan penampilanku semata (duih… narcis…!!!). Ibadah berakhir dengan damai, aku pulang dan langsung menuju ke Kantor, untuk kemudian menulis catatan ini.

Sejujurnya aku sangat gelisah… Sejak kemarin sore aku kehilangan kontak dengan kekasihku. Aku tidak mau berprasangka buruk, aku bahkan sangat bisa mengerti mengapa ini terjadi. Bukan maksudnya menyakiti aku, atau dengan sengaja membuatku kecewa. Aku tau persis apa alasannya.. Bahkan aku justru iba pada pergumulannya. Pastilah dia di sana tidak kalah gelisahnya denganku.. mungkin bukan melulu karena mikirin aku, tapi mikirin orang-orang yang ada di sekitarnya. Sayang… mengingat betapa galaunya hatiku, sebenarnya aku enggan menulis… Tapi engkau selalu mendorongku untuk melakukannya.. “Sayang, kau punya bakat itu.. talenta itu ada…aku sudah membaca beberapa tulisanmu dan aku melihat itu. Hanya perlu perbaikan dalam metode dan penggunaan kata-kata. Namun kemampuan bertuturmu lumayanlah untuk pemula…Latihlah terus dirimu… selama masih ada kegelisahan, itu momen yang tepat untuk mulai menulis. Jangan pedulikan betapapun kacaunya isi tulisanmu, setidaknya kau telah berusaha. Dengan terus berlatih kau akan semakin creatif dan trampil menulis di kemudian hari!”. Itulah caramu menyemangati aku. Aku terima dengan tangan terbuka semua saranmu. Aku tau bahwa kau adalah penulis berbakat. Pengalaman belasan tahun di dunia jurnalisme dan betapa banyaknya peminat yang memberi aplaus terhadap isi blogmu adalah garansi bagiku. Satu hal yang kuyakini, karena engkau sayang padaku, tidak akan aku kau tuntun ke jalan yang salah….

Terima kasih sayang, setidaknya aku bisa mengalihkan sedikit perhatian dari kegalauan yang membuncah dengan mencurahkannya di sini. Aku yakin hari ini kau pasti berkunjung ke Warnet, meng-update blogmu, mengecek e-mail. Dan kau akan menemukan juga disana pesan-pesan terbalut kerinduan yang dalam, dari hati dan jiwaku… untukmu. O ya, tadi juga aku mengirimkan pesan singkat di Ponselmu, tapi statusnya masih pending karena Ponselmu masih tidak aktif. Mungkin boleh kuumumkan kepada dunia apa isi hatiku itu: “Hari ini kubuatkan sebuah kalung untukmu, kuuntai dengan sukacita, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan dan kelemahlembutan. Kalung itu kuberi nama KASIH. Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskan pada Loh Hatimu, supaya dalam mengasihi sesama dan menyayangiku engkau tidak hanya melihat dengan matamu, tetapi mendengar apa yang dibisikkan HATI. Selamat Hari Minggu, Sayangku… Jesus Christ Loves you”.

Kegalauan dan kegelisahan hatiku kusimpan sendiri… kalau kau meneleponku nanti.. akan kutumpahkan kepadamu semua kerinduan ini. Aku sayang padamu, Honey… Kiranya hidupmu bahagia karena aku….

Posted by Olin73 at 07:26:38 | Permalink | No Comments »

Saturday, February 14, 2009

Valentine’s day…

Aku memang bangun lebih awal pagi ini karena hari ini adalah hari spesial dalam hidupku. Bukan sekedar karena hari ini oleh seluruh dunia dirayakan sebagai “Hari Kasih Sayang”, namun memang ada beberapa momen bermakna yang kualami hari ini.
pertama, untuk pertama kali sejak ditahbiskan sebagai Pendeta, aku berkesempatan melayankan Pemberkatan Nikah. Mungkin orang akan berkata: Apa istimewanya? Bukankan memang sudah menjadi tugas Pendeta untuk memberkati Nikah? Pertanytaan yang sangat rasional, jika saja aku adalah Pendeta yang melayani jemaat. Tetapi momen pertama ini menjadi begitu berarti bagiku, karena selama 11 tahun aku hanya berkesempatan menjadi “Pendeta Struktural”… yang setiap hari hanya berurusan dengan persoalan administrasi dan perkantoran… Pemberkatan itu berlangsung di HKBP Dolok Sinumbah. Nats yang kupilih dari Pengkotbah 9:9, “Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari”. Aku melihat binar bahagia di wajah kedua mempelai ketika mereka mendengarkan kotbahku. Kucoba menyelami perasaan mereka… Pengalaman yang kurasakan 9 tahun yang lalu: ‘bahagia karena akhirnya menikah’ itu juga yang mungkin ada di benak mereka. (walau dalam kenyataannya, perjalanan hidup tak seindah apa yang ada dalam impian). Kuuraikan bahwa harkat dan hakikat pernikahan yang bahagia yang bisa dinikmati tidak hanya membutuhkan cinta. Paling tidak ditentukan oleh 3 faktor lain yang menentukan: Saling mengampuni: bersedia memaafkan bahkan melupakan kesalahan, kekurangan, kelemahan, kekhilafan yang dilakukan pasangan, baik sengaja maupun tidak disadari; Saling menghormati:” menyadari bahwa keduanya memiliki tugas dan tanggungjwab, hak dan kewajiban yang harus dijalankan dengan baik dengan saling memahami, tidak saling merendahkan, menyadari bahwa hidup akan sempurna ketika keduanya saling menolong dan melengkapi di bawah kepatuhan kepada Hukum Kristus, hukum Kasih (I Korint 13); dan Saling percaya: dengan menghindari curiga yang tanpa alasan, apalagi sampai mencari-cari pertengkaran. Sejujurnya aku juga sedang berbincang dengan hatiku…. Dari pengalamanku, ketiga  faktor ini tidak berjalan dengan baik, sehingga konsekuensinya juga tidak seindah impian. Namun kekasihku pernah mengatakan padaku: “jangan sesali, ini tidak melulu kesalahanmu… Ideal hanya mungkin jika kedua pihak berperan”. Atau di kesempatan lain dia juga membesarkan hatiku:”meski kau tak berhasil melaksanakan apa yang ada dalam kotbah-kotbahmu, minimal kau bisa belajar dan membiarkan orang lain juga belajar dari ketegaranmu menghadapi masalah dan pergumulanmu. Aku bangga padamu”. (Kematangan dan kesabaran, pengertian dan penerimaan tak bersyarat yang ditunjukkannya padaku, itulah yang membuatku makin hari makin membutuhkannya, karena aku memang mencintainya).

kedua, hari ini keponakanku: Aurora Valencia genap berusia 8 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia juga menagih seloyang Black Forest buatanku sebagai hadiah. Biasanya aku dengan senang hati memasak untuknya. Dan sebenarnya hari ini juga aku telah berjanji untuk melakukannya, namun karena hari-hariku telah disita oleh Seremoni pemberkatan Nikah, akhirnya dengan jujur aku harus meminta maaf padanya. Kutawarkan untuk menggantinya dengan reward yang lain, dan dia bersedia. Aku harus (dengan terpaksa, karena aku tau ini sebenarnya tidak baik untuk kesehatannya) menraktirnya makan Ayam goreng Fast food. Dan aku akan melakukannya setelah ini. Dalam hati aku bersyukur, meski belum diberi Tuhan kepercayaan dan kesempatan untuk melahirkan anak dari rahimku, aku tidak pernah batal menjalankan peranku sebagai “Ibu”. Aku punya 5 keponakan yang lucu-lucu.. yang mewarnai hari-hariku… membuatku tersenyum dan bangga, karena aku tau mereka juga mencintaiku, sama seperti aku mencintai mereka. Dan di moment “hari kasih sayang” ini.. aku boleh membagikan kasih kepada anak yang tidak pernah menjadi buah rahimku. Inilah makna kasih sayang dalam bentuk yang lain

ketiga, hari ini menjadi “Valentine’s day pertamaku dengan kekasih baik hati yang baru kutemukan beberapa bulan yang lalu. Aku sebenarnya tidak mengkultuskan “Val’s day”-nya, namun, aku bisa merayakan hari ini walau masih terhalang untuk bertemu, karena bentangan jarak dan waktu. Namun begitu, aku masih tetap bisa merasakan getaran itu.. getaran cinta yang menghidupkan. Kebahagiaanku makin disempurnakan dengan kiriman 3 pesan singkat darinya: “I Love you, Olin”; “Aku ikut senang dalam semua momen spesial yang terjadi dalam kehidupanmu hari ini, Honey… Aku bangga padamu, Olin…”; dan  “Berkatilah sejoli itu Olin, dengan pesan sederhana tapi benar dan fundamental, bahwa KEBAHAGIAAN adalah KATA KERJA”. Sayangnya SMS ketiga kuterima setelah Pemberkatan usai karena Ponsel kunonaktifkan selama Ibadah berlangsung.

Aku terpaku pada pernyataan: KEBAHAGIAAN itu adalah KATA KERJA. Segera kutelpon kekasihku untuk minta argumennya, karena yang kutau KEBAHAGIAAN adalah KATA SIFAT menurut kaidah Bahasa Indonesia. Dan seperti biasa, dia selalu berhasil meyakinkanku, bahwa pernyataannya mendasar dan mengakar. KEBAHAGIAAN hanya mungkin dicapai jika ada usaha, kerja keras untuk mewujudkannya. Dan dengan Cinta yang tulus kukatakan padanya: Aku akan melakukan apapun sekuat dayaku, untuk memberi kebahagiaan bagimu, karena aku tau kebahagiannya akan membuatku bahagia, energi positif itu akan memantul dan membuat hidupku lebih berarti.. (seperti pengakuan teman-teman di Kantor: aku memang lebih wise dan cool dalam menjalani rutinitasku.. dan mereka ikut merasakan aura kebahagiaanku juga). Betapa beruntungnya aku memiliki kekasih seperti dirimu, Honey….

Terima kasih kalau engkau mau membaca curahan hatiku ini sayang, terima kasih juga ketika kau meyakinkanku dengan Pernyataan yang membuatku makin nyaman: “Honey…, aku mau kau merasa bebas denganku dan terhadapku. Just do it karena itu pasti baik buatku, dan buat kita. Menarilah Olin, seirama musik dalam jiwamu, dan menangislah sampai rasa haru tuntas. Aku sayang padamu, tanpa syarat apapun: Just the way you are, Honey”.

Inilah Kado Valentine terindah yang pernah kuterima….



Posted by Olin73 at 11:33:05 | Permalink | Comments (1) »

Percakapan tadi malam

Pagi ini aku bangun agak pagi… masih gelap di luar sana…  Aku merasa sangat fresh.. karena tidurku nyenyak. Padahal kalau mau dihitung dari waktu tidur, tidak sampai 4 jam, karena tadi malam aku berbincang di telepon dengan kekasihku sampai lewat tengah malam.. bahkan akhirnya komunikasi terputus benar-benar hanya karena Ponselnya Low-battery. Perbincangan tadi malam begitu hangat… mengenai banyak hal yang terjadi dalam kehidupan ini: kehidupan kesehariannya kemarin dan kehidupan keseharianku juga. Kekasihku menceritakan betapa galaunya dia dengan beberapa masalah yang dihadapinya, yang timbul dari “penindasan” oleh orang yang sebenarnya pernah menjadi bahagian dari hidupnya… Aku juga sedikit geram mendengarnya, apa iya ada manusia yang se-sadis itu??

Namun tak perlulah kutunjukkan kepadanya bagaimana sikapku, aku tidak ingin menambah keresahan di hatinya. Aku justru sangat ingin memberikan rasa nyaman yang saat ini pasti sangat dia butuhkan. Tapi jarak yang terlalu jauh membatasi aku melaksanakan niatku. Kutemani kekasihku menghabiskan waktunya di Warnet (karena dia enggan pulang ke rumah) dengan menghabiskan waktu berbincang di telepon. Aku salut setinggi-tingginya, karena dengan calm dan cool  dia selalu berhasil meminimalisasi resiko. Aku belajar banyak.. sangat banyak dari dirinya selama beberapa bulan kami berkomunikasi…. (pernah suatu hari kemarin dia berkata: Honey, jika kau katakan kau telah belajar banyak dariku, suatu hari nanti aku akan menagih pertanggungan jawabmu atas apa yang sudah kau pelajari.. jadi bersiaplah)…. Kesabaran dan pengertiannya terhadapku, penerimaan yang tanpa syarat… membuat aku makin mencintainya.Aku santa bersyukur dan bangga menjadi kekasihnya.

Setiap hari kami memang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbincang. Beberapa menit di pagi hari, sekerar mengucapkan: “selamat pagi, kiranya sepanjang hari ini engkau bahagia”, atau menjelang siang dengan mengingatkan untuk tidak lupa mengisi perut dengan makan bergizi, lalu sore menjelang jam Kantor berakhir, kami akan bercerita tentang segala aktivitas dan kesibukan Kantor masing-masing. Kalau jalanan macet, dia juga lebih suka kutemani membunuh rasa bosan… dan aku suka itu, karena itu juga menolongku untuk tidak merasa kesepian. Terkadang kami juga bisa sama-sama menertawakan hal-hal yang memang lucu menurut kami, mendiskusikan dengan serius hal-hal yang menurut kami pantas untuk diberi perhatian lebih.

Tanpa sadar percakapan kami tadi malam tergiring untuk kembali mereview perjalanan kebersamaan kami… bagaimana berawal… apa momen-momen yang berpengaruh dan mempengaruhi… bagaimana proses berlangsung…. Dan semua bisa kami ingat dengan sangat jelas.. seperti memutar rekaman video peristiwa. Sejujurnya aku resah.. resah… karena memang terlalu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Buatku hingga kini masih seperti sebuah mimpi, menemukan orang yang bisa benar-benar membuatku sangat damai… hidup lebih santai dan ceria.. berawal dari perkenalan tak terduga di dunia maya. Aku juga sadar bahwa  keputusanku untuk membangun commitment in a relationship dengannya mengandung banyak resiko, mungkin untuknya, istimewa untukku. Terkait berbagai-bagai ikatan yang mempengaruhi masing-masing kami…. terkadang aku juga gusar dan ragu… Namun bagaimana, hatiku terlanjur tertawan oleh kuatnya pesona yang diberikannya. Dia selalu berhasil meyakinkan aku dengan argumen yang kuat agar aku memupus ragu yang membuncah… Dia juga berhasil membangun rasa percaya diriku bahwa aku berhak untuk berbahagia, terlepas dari resiko apapun yang ada di depan sana….

Aku menjadi sedikit lebih tenang, karena kurasakan sejenak kesejukan yang membuatku nyaman. Kupikir.. sudah saatnya memang aku keluar dari beban yang selama lebih dari 7 tahun memenjarakan kebebasanku berekspresi sebagai manusia yang memiliki kehidupan yang normal…  Terima kasih sayang.. untuk semua yang kau laukan untukku. Aku tau kau tulus melakukannya, aku bisa merasakan getaran yang sama seperti apa yang kau akui sedang kau rasakan di ujung sana…

Posted by Olin73 at 10:20:44 | Permalink | No Comments »

Friday, February 13, 2009

Curahan hatiku…

Hmm… akhirnya aku harus memberanikan diri menumpahkan seluruh isi hatiku dalam tulisan, supaya ga nyesak dan aku bisa lebih lega. Dalam 2 Minggu terakhir ada yang berubah dalam hari-hariku… lebih berwarna.. lebih ceria… dan kukira menjadi lebih bermakna. Kehadiran seseorang adalah penyebabnya. Berawal dari perkenalan tidak terduga di dunia Maya.. berlanjut dengan diskusi yang terkadang menguras fikiran… kadang kala ditimpali dengan chatting yang menggelikan, atau bahkan percakapan di telepon semalaman, sampai menjelang pagi… Begitu berlangsung hampir setiap hari… Namun anehnya, aku tidak pernah merasa bosan.. Kuyakin diapun demikian. Terkadang aku geli sendiri… apa yang terjadi di antara kami tidak mampu kupahami.. Namun kenyataannya.. aku merasakan ada ikatan bathin yang begitu kuat di antara kami. Sering kali, baru saja aku berniat mengirimkan SMS, ternyata Telpon darinya sudah masuk di Ponselku.. Atau sebaliknya. Apa yang sedang kupikirkan, itu pula yang dia percakapkan dalam perbincangan kami… Hal yang sama berlaku timbal balik. Ada rasa rindu yang begitu menyesak… Terkadang seperti lahar panas yang berharap boleh dimuntahkan oleh puncak gunung berapi…

Setiap hari semangat hidupku bertambah, depresi menurun drastis, karena aku selalu menerima kiriman SMS yang memberi gairah.. untuk berkarya lebih baik… Di tengah kesibukanku menjalankan rutinitas.. sebuah Pesan Singkat cukup membuatku tersenyum sipu dan berbuah pada rasa kangen yang dalam… Karena kami memang dipisahkan oleh jarak dan waktu yang begitu lebar. Terasa sangat singkat pertemuan sesaat yang pernah kami lakukan di awal tahun ini. Walau ketika itu pesona yang ditorehkannya belumlah sedalam ini… namun pada akhirnya aku tau.. hari lepas hari aku semakin membutuhkannya… begitu pula pengakuannya padaku. Banyak hal berarti yang dia bagikan padaku.. yang membantuku semakin berani menatap kehidupan dengan realistis dan lebih confident. Ketika aku ragu melangkah.. dia selalu meneguhkanku.. Ketika aku merasa rendah diri, dia membangkitkan semangatku… Aku membutuhkanmu.. Honey…. Lebih dari apa yang mampu kujelaskan… Aku tidak menginginkan apapun yang lain, jika engkau telah memberi dirimu untuk selalu ada disisiku….

Memang… aneh juga kukira hidup ini… Selama bertahun2, bersosialisasi, ketemu banyak orang live, aku ga pernah nemuin chemistry yang begini dahsyat… Apa yang terjadi diantara kami kukira adalah muzizat. Aku percaya dengan suara hati (walau terkadang aku bisa juga salah karena terlalu meyakininya, akhirnya kecewa.. tapi aku tidak pernah menyesal). Karena itu kuserahkan pada Tuhan, kudoakan.. biarlah kehendaknya yang jadi (tak perlu kubilangpun, Tuhan pasti mempertimbangkan kebutuhanku, hehehe)… Terima kasih sayang.. untuk penerimaan tanpa syarat.. untuk kebebasan yang memerdekakan, untuk dukungan yang menguatkan dan untuk cinta yang menghidupkan.. I love U so much…. Ich Liebe Dich… Wo ai ni…

Posted by Olin73 at 11:00:58 | Permalink | No Comments »

Aku ingin kau….

Aku ingin kau mendekapku…..
Aku ingin kau mendekapku
Karena aku ingin kau memberiku kekuatan
Yang tak sanggup kau ucapkan
Dengan kata-kata apapun

Aku ingin kau mendekapku
Karena telah kau saksikan banyak air mata
Mengalir dari pelupuk mataku
Dengan hati bergetar kau melihatnya

Aku ingin kau mendekapku
Karena aku ingin berjalan bersamamu
Dalam menempuh liku hidup
Dengan bergandeng tangan

Aku ingin kau mendekapku
Karena aku ingin menangis di dadamu
Kala hati dan pikiranku sesak
Ketika tak menemukan jalan-jalan tenang

Aku ingin kau mendekapku
Karena aku tak punya bahasa lain
Untuk bicara tulus
Bahwa aku sungguh sayang padamu

Aku ingin kau mendekapku
Karena tak mampu kulukiskan
Betapa aku ingin berbagi hidup
Dan kau jadi belahan diriku

Aku ingin kau mendekapku
Karena aku ingin kau membisikkan kata-kata lembut
“selalu ada waktu untukmu, kau takkan pernah sendiri dan sunyi…
Dan takkan kubiarkan hatimu gentar”

Aku ingin kau mendekapku
Karena aku ingin kau mengusap rambutku
Memberi ketenangan dalam hatiku
Ketika kau mengalirkan kehangatan yang membuatku nyaman

Aku ingin kau mendekapku
Aku ingin kau mengecup keningku dan ucapkan selamat bobo…
Agar aku tidur dengan damai,
Dengan hati yang tenang dan wajah tersenyum

Aku ingin kau mendekapku
Aku ingin kau mengecup kelopak mataku
Membuatku terpejam dalam kehangatan
Dan bahagia memenuhi relung dadaku

Aku ingin kau mendekapku
Aku ingin kau mengecup pipiku
Agar kurasakan bersemu merah
Membiaskan binar dan wajah tersipu

Aku ingin kau mendekapku
Karena bagiku kau sungguh berarti
Membuat hatiku hangat dan ringan
Penuh syukur tak terkira

Karena itu, dekaplah aku dengan tanganmu yang kekar
Agar dapat kurasakan degup jantung kita berdebar
Tenggelam dalam rasa bahagia

Posted by Olin73 at 10:42:59 | Permalink | No Comments »

Aku ingin memilikimu….

Aku ingin memilikimu….
Di kala sedih aku selalu bisa datang padamu
Di kala gembira aku bisa berbagi tawa denganmu
Di kala bahagia aku bisa menularkannya bagimu
Di kala gemas aku bisa mengacak-acak rambutmu
Di kala sebal aku bisa memencet hidungmu
Di kala goyah aku bisa memelukmu
Di kala greget aku bisa mencium keningmu
Di kala rindu aku bisa mengecup mata dan pipimu

Jika orang lain hanya bisa berkata:
“Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu”
Aku justu berkata: “aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu”

Jika orang lain hanya bisa berkata:
“aku siap membantumu jika engkau membutuhkanku”
Aku justru berkata:
“engkau tidak pernah membutuhkan apapun karena aku selalu ada untukmu”

Aku mencintaimu, ingin memilikimu…
Bahkan sejak pertama kali kita bertemu

Karena itu berilah dirimu, bukakan hatimu…
Biarkan dadamu menjadi tempat bagi seluruh sisa hidupku berlabuh…..

Posted by Olin73 at 10:42:08 | Permalink | No Comments »