Rumah kayu di tepi danau dan Novel biografi
Sepanjang perjalanan yang kurang nyaman itu, Honey terus ‘menemani’ dengan percakapan di telepon. Ada rasa nyaman karena aku tidak merasa sendirian. Memang percakapan terpaksa terputus karena HPnya Low Batt, padahal Honey juga sedang dalam perjalanan. It’s OK… Aku ngerti, itu ga disengaja… Aku akhirnya tiba di rumah jam 11 malam. Dan 1 jam kemudian Honey telpon koq, jelasin percakapan yang terputus itu… dan kami berbincang sampai pagi… sampai habis cerita yang bisa dibagi.
Dalam percakapan itu tercetus niat untuk mendirikan sebuah pondok kecil di tepi danau Toba, mungkin di sekitar Meat atau Tao Silalahi. Akan kami tinggali 15 tahun yang akan datang, setelah dia merasa cukup waktunya untuk meninggalkan semua aktifitasnya, dan total menyerahkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Di sana, di pondok kayu aren dan bambu itu kami akan menghabiskan hari-hari dengan bahagia, bersama…. so sweet…
Tiap hari keinginan untuk membangun pondok itu makin kuat. Terpikir untuk menyisihkan beberapa rupiah setiap hari dari pengeluaran rutin yang masih mungkin ditekan supaya tidak menjadi pemborosan. Tadi malam kami kembali teringat dengan pondok mungil yang ada dalam angan… bagaimana kalau kami menuliskan kisah cinta kami ini sebagai sebuah Novel biography. Honey sangat yakin bahwa Novel ini akan laris manis karena mengukir kisah hidup 2 anak manusia dalam petualangannya di dunia ini, akhirnya harus terpaut dengan cara yang tidak biasa. Belum lagi pengalaman dan pergumulan hidupku selama 9 tahun yang sangat real akan menjadi kekuatan dan ruh dari kisah itu. Honey juga punya kisah yang sama kuatnya memberi nuansa dalam novel itu… akan sangat mengguncangkan dunia, minimal dunia orang-orang di sekitarku. Latar belakang kami berdua yang menjadi ornamen kecil dan kebetulan berada di antara “orang-orang besar”, dalam lembaga yang settle dan mungkin sulit menerima perkembangan yang mengejutkan, seperti cerita kami…
Aku berfikir, ada baiknya cerita ini di share, supaya orang juga bisa memetik pelajaran tentang kehidupan dan realitasnya, yang terkadang tidak konvensional. Tadi malam, sesaat setelah kami mengakhiri bincang di telepon (karena Honey harus menulis beberapa artikel untuk pimpinannya dan untuk organisasi di mana dia mendedikasikan dirinya sebagai wujud idealisme), Honey mengirimkan sebuah SMS: “Dalam lamunanku, kita berdiri di beranda, menatap danau keperakan ditimpa cahaya purnama. Aku memelukmu lekat dari belakang, sambil menghirup aroma rambutmu. Kita jadi kanak-kanak yang riang dalam pelukan alam raya”. Aku tersenyum… Rumah kayu di tepi danau masih sebatas angan, tapi Honey sudah melamunkan banyak hal untuk cita-citanya itu.
Dalam hati aku bergumam… kiranya TUHAN merestui… jangan biarkan kebahagiaan yang kami rasakan hanya tinggal sebagai kenangan… biarlah DIA juga menolong kami untuk mewujudkan bahagia ini… dan untuk itu kami harus bekerja, karena kebahagiaan dan Cinta adalah Kata kerja…. Kita akan sama-sama bekerja mewujudkannya bukan, Honey???