Aku ga bisa ngomong langsung.. jadinya nulis disini….
Menjalang siang tadi, entah mengapa kita tiba-tiba membicarakan masalah itu, masalah yang sebenarnya bukan masalah jika tidak dipermasalahkan. Aku sadar… selama ini aku kayaknya telah lumayan banyak intervensi (sekalipun sebatas saran, permintaan, harapan) terhadap kehidupan pribadimu: menyangkut Rokok, nge-Net, pola hidup, pola makan, kesehatan dll)… yang secara langsung tidak ada hubungannya dengan diriku.
Sejujurnya aku terganggu dengan kalimat (yang sebenarnya kau pinjam dariku): “Silahkan ditinjau ulang, Honey….”. Aku sedih dan merasa kau takut-takuti Honey: “kekasihmu ini beli ember dan gayungpun ga sanggup, jadi perlu ditinjau ulang”. Walau aku sudah menjawabnya: I’m fine, it’s OK… ga masalah…. (aku yakin masih ada yang bisa diarrange dan dibargain, selama ada kejujuran, ketulusan dan kerelaan menyikapinya dengan egaliter). Namun koq dikau menggunakan kata “Tinjau ulang” untuk topik yang satu ini agak sedikit kebanyakan ya? Perasaanku sontak berubah, moody jadi bad, I lost my spirit dan kayaknya ga pingin ngapa-ngapain lagi hari ini. Drop dan blank banget kurasakan seketika.
Fikiran khas perempuan batak (berfikir terbalik) mendadak kerja: jangan-jangan Honeyku ini sengaja menyuruh aku meninjau ulang karena sebenarnya Honey yang sudah ga mulai jengah menghadapi aku….?? Kenapa berkali-kali aku disuruh tinjau ulang hanya untuk topik yang sama??? Mungkin aku tolol membiarkan perasaan mempengaruhi fikiranku: “mungkin ini signal dari Honey untuk mengingatkan aku bahwa dirinya sudah mulai ga nyaman bersisian denganku… Tapi ga tega harus ngomong langsung???” Waduh.. bodoh kali aku ya??? Tapi itulah yang spontan muncul dalam fikiran dan hatiku. Mengingat, menimbang apa yang kulakukan selama kurang dari 1 bulan ini….
Sayang… aku tidak ingin membebanimu dengan berbagai masalah… kalo kehadiranku membuat irama hidupmu berubah menjadi ga nyaman, belum terlambat bagimu untuk mengembalikannya kenyamananmu, tanpa diriku…. Aku ga mau semua plan-ku di bulan April akan menjadi beban bagimu. Semua itu bisa dibatalkan, toh perasaanku padamu tidak butuh pengorbanan yang sedemikian besar. Secara samar-samar aku menangkap bahwa kehadiranku akan menimbulkan masalah baru bagimu….
Honey, maafkan aku (meski kau katakan: no need for sorry, cinta akan bisa mengerti dengan sendirinya kalaupun ada kesalahan yang dilakukan tanpa kata maaf)…. aku mendadak sensi, ga jelas kenapa. Mungkin karena aku makin nervous dengan semakin mendekatnya jadwalku ke Jakarta dan waktu bertemu dikau kian besar. Tapi ini juga tidak bisa kujadikan pembenaran bagi diriku untuk ketidakmampuan mengelola perasaanku…
Tapi jujur, aku memang sedih sekali… Selama ini dikau juga tau bahwa aku selalu krisis percaya diri menyangkut hubungan kita… aku tidak yakin bahwa diriku cukup layak menerima semua perhatian, kasih sayang, pengertian dan cinta darimu… Aku selalu tidak percaya bahwa tersedia banyak stok dalam hatimu untuk memahami diriku…. aku ragu dengan diriku sendiri… aku ditakuti oleh fikiranku sendiri - begitu dikau menilai aku.
Perasaan yang muncul saat ini begitu nyesak, aku pengen nangis, tapi air matanya ga mau tumpah, aku ingin menuntaskan apa yang mengganjal di hatiku, tapi hatinya ga mau meledak…. Aku senewen, Honey.. mungkin hanya dengan menuliskan messege inilah perasaanku bisa sedikit kudamaikan. Tapi terlepas dari semuanya… Dengan tulus dan jujur aku kembalikan padamu: seleksilah, tinjau ulang… mungkin aku benar-benar bukan orang yang tepat menjadi partnermu meneruskan semua idealismemu, karena aku mungkin tidak pernah benar-benar punya kemampuan untuk memahamimu seperti yang engkau lakukan terhadapku. Kita tidak ballace, Honey.. dan aku tidak ingin dikau berkorban terlalu banyak untukku… Aku tidak butuh dikasihani…
Maafkan aku, Honey…