Tuesday, March 10, 2009

Rumah kayu di tepi danau dan Novel biografi

Sudah 5 hari aku absent menulis. Aku bukan sengaja, namun kesibukan yang menyebabkannya. Beberapa hari yang lalu, aku harus ke medan, mendukung kegiatan aksi “tolak politisi busuk, dukung caleg perempuan” dalam rangka peringatan Women’s International Day, seyogyanya dirayakan 8 Maret, tapi karena sesuatu dan lain hal, LSM PESADA dan JARAK PEREMPUAN (Jaringan Aktivis Perempuan) Medan mengadakan aksi Damai di Lapangan Merdeka dan rally ke Bundaran tugu SIB di Gatsu Medan. Lumayan melelahkan kegiatan itu… Mana sorenya ada insiden yang ga enak, penumpang Bis kebanyakan, sarananya ga memadai, Taxi juga full, aku terancam ga bisa pulang…. Untungnya aku bareng Maman, meskipun dia laki-laki tapi sangat mendukung bahkan menjadi aktifis gerakan Perempuan.

Sepanjang perjalanan yang kurang nyaman itu, Honey terus ‘menemani’ dengan percakapan di telepon. Ada rasa nyaman karena aku tidak merasa sendirian.  Memang percakapan terpaksa terputus karena HPnya Low Batt, padahal Honey juga sedang dalam perjalanan. It’s OK… Aku ngerti, itu ga disengaja… Aku akhirnya tiba di rumah jam 11 malam. Dan 1 jam kemudian Honey telpon koq, jelasin percakapan yang terputus itu… dan kami berbincang sampai pagi… sampai habis cerita yang bisa dibagi.

Dalam percakapan itu tercetus niat untuk mendirikan sebuah pondok kecil di tepi danau Toba, mungkin di sekitar Meat atau Tao Silalahi. Akan kami tinggali 15 tahun yang akan datang, setelah dia merasa cukup waktunya untuk meninggalkan semua aktifitasnya, dan total menyerahkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Di sana, di pondok kayu aren dan bambu itu kami akan menghabiskan hari-hari dengan bahagia, bersama…. so sweet…

Tiap hari keinginan untuk membangun pondok itu makin kuat. Terpikir untuk menyisihkan beberapa rupiah setiap hari dari pengeluaran rutin yang masih mungkin ditekan supaya tidak menjadi pemborosan. Tadi malam kami kembali teringat dengan pondok mungil yang ada dalam angan… bagaimana kalau kami menuliskan kisah cinta kami ini sebagai sebuah Novel biography. Honey sangat yakin bahwa Novel ini akan laris manis karena mengukir kisah hidup 2 anak manusia dalam petualangannya di dunia ini, akhirnya harus terpaut dengan cara yang tidak biasa. Belum lagi pengalaman dan pergumulan hidupku selama 9 tahun yang sangat real akan menjadi kekuatan dan ruh dari kisah itu. Honey juga punya kisah yang sama kuatnya memberi nuansa dalam novel itu… akan sangat mengguncangkan dunia, minimal dunia orang-orang di sekitarku. Latar belakang kami berdua yang menjadi ornamen kecil dan kebetulan berada di antara “orang-orang besar”, dalam lembaga yang settle dan mungkin sulit menerima perkembangan yang mengejutkan, seperti cerita kami…

Aku berfikir, ada baiknya cerita ini di share, supaya orang juga bisa memetik pelajaran tentang kehidupan dan realitasnya, yang terkadang tidak konvensional. Tadi malam, sesaat setelah kami mengakhiri bincang di telepon (karena Honey harus menulis beberapa artikel untuk pimpinannya dan untuk organisasi di mana dia mendedikasikan dirinya sebagai wujud idealisme), Honey mengirimkan sebuah SMS: “Dalam lamunanku, kita berdiri di beranda, menatap danau keperakan ditimpa cahaya purnama. Aku memelukmu lekat dari belakang, sambil menghirup aroma rambutmu. Kita jadi kanak-kanak yang riang dalam pelukan alam raya”. Aku tersenyum… Rumah kayu di tepi danau masih sebatas angan, tapi Honey sudah melamunkan banyak hal  untuk cita-citanya itu.

Dalam hati aku bergumam… kiranya TUHAN merestui… jangan biarkan kebahagiaan yang kami rasakan hanya tinggal sebagai kenangan… biarlah DIA juga menolong kami untuk mewujudkan bahagia ini… dan untuk itu kami harus bekerja, karena kebahagiaan dan Cinta adalah Kata kerja…. Kita akan sama-sama bekerja mewujudkannya bukan, Honey???
 

Posted by Olin73 at 09:48:47 | Permalink | No Comments »

Thursday, March 5, 2009

Malas… achhh!!!!!!

Hmm… sudah beberapa hari ini aku malas menulis, malas mengupdate blog ini. Ga tau kenapa…Sebenarnya bukan karena ga ada cerita yang bisa kutuliskan, secara sehari ada 24 jam yang penuh dinamika. Boleh jadi kemalasan menulis muncul karena aku agak sedikit disibukkan dengan persiapan Test di Yogya bulan depan: aku harus nyari dan mengcopy buku Dietrich Boenhoeffer yang textnya full English, aku harus selesaikan 5 buku Gerrit Singgih yang sampai sekarang masih on the way dari Jakarta (untuk yang satu ini aku terpaksa minta tolong Honey nyari di Kwitang, tapi laaaammaaaa…bangeeeettt nyampenya??). Tapi yang pasti alasan itu ga keren banget… Artinya, aku sudah melanggar komitmenku kepada diriku sendiri.

Kemalasan mungkin hal yang tidak menjadi masalah, apalagi jika sudah dipelihara dan dibiasakan. Ini pula yang menyebabkan aku sering “ribut” dengan Mama, karena Mama menganggap aku sangat pemalas, apalagi menurut standardnya dia yang emang sangat luar biasa rajinnya.Sering tuh cerita tentang Malas jadi sumber pertengkaran dari tingkat kecil-kecilan sampai yang gede-gedean… Wuiihhh!!!! Gimana ya cara mengatasi malas? Orang Rupat bilang: “ko’ ade obatnye”. Aku suka ngiri tuh sebenarnya sama orang yang rajin, apalagi yang super rajin seperti Mamaku. Tapi aku juga suka kasihan sama Mama, karena kerajinannya membuat Mama kebanyakan ngeluh: “aku capek, ga ada waktu istirahat, dari pagi belum berhenti sebentarpun, aku sampe ga sempat makan….dll, dsb..”. 

Terkadang jika sudah kesal aku suka nyahutin Mama: “salah sendiri! Siapa suruh juga kebangetan rajin?? Wong yang atur hidup kita ya diri kita sendiri… Mbok ya istirahat, nyantai dikit….” Tapi dasar Mama, santai itu adalah “dosa” baginya, sayang kalau ada hari-hari atau waktu yang terbuang percuma tanpa berbuat sesuatu. Hmmm…. Mo diapain lagi, itulah prinsip hidupnya. Kalau difikir-fikir sebenarnya Mama ga salah juga, justru karena kerajinan yang luar biasa dia bisa melahirkan, mangasuh, mendidik, bahkan mencari uang untuk support kebutuhan sekolah dan kesejahteraan keempat anakny dengan baik tanpa bantuan pengasuh atau pembantu. Beda banget sama kedua Edaku (Istri adik laki-lakiku), yang masih punya 2 anak sudah keteteran kemana-mana. Tapi kedua Edaku juga ga bisa disalahkan, mereka punya prinsip yang rada sama dengan aku, “bukan kerjaan yang mengatur diriku, tapi aku yang harus mengatur apa yang akan kukerjakan”. Hidup kita bertiga rada nyantai. Akibatnya ya suka keteteran sendiri, yang rugi ya diri sendiri juga.

Aku sih ngadu juga ke Honey… Sudah beberapa hari ini kayaknya males nulis di blog ini. Aku merasa bersalah karena udah jadi orang yang komit pada diri sendiri, gimana aku bisa komit ke hal lain ya??? Tapi dasat si Honey, dia emang ga pernah mau matahin semangatku. Segimananya juga dia mo kritik aku selalu pake cara yang paling halus.. sampe aku sedih sendiri, jangan-jangan Honey kebanyakan ngalah hanya untuk nyenang-nyenangin hatiku, begitu ga kuat lagi meledak deh akumulasi kegelisahan yang dipendam-pendam. Tapi Honey bilang, sesekali malas itu biasa, ga harus maksain diri nulis. Ato kalo takut merasa bersalah, tuliskan aja announce di blogmu dengan satu dua kalimat: “lagi blank, ga ada ide!”, “Lagi sibuk”, atau apa aja.. Jadi tetap punya self confidence klo udah berusaha koq memenuhi kewajiban…. Aku nyengir aja, paling bisa deh Honey ngeles…

Tapi begitupun ada benarnya, mungkin tulisan hari ini ga jelas juntrungannya, aku hanya mau bilang, aku emang lagi malas nulis, dan yang kutulis ini juga terpaksa kulakukan, karena aku ga bisa berdamai dengan feeling guilty karena sudah absent beberapa hari. Ah… aku akan berusaha ga malas lagi besok-besok ya….

Posted by Olin73 at 08:59:47 | Permalink | No Comments »

Tuesday, March 3, 2009

Aku ga bisa ngomong langsung.. jadinya nulis disini….

Selamat siang Sayangku… Aku mau bikin pengakuan dulu ya…. Sesungguhnya aku sangat menikmati kebersamaan kita day by day…. Hari ini aku mengawali pagi dengan manis bersmamu. Mama lagi pergi sehingga sejenak aku menikmati romantisme bersamamu meski sebentar. Sebagaimana biasanya, kita membiasakan diri mendiskusikan banyak hal mengenai kita setiap hari dan aku menikmatinya sebagai brain storming (kalo terlalu keras disebut sebagai proses brain washing). Aku banyak dapat pelajaran berharga yang menuntun aku pada kemampuan untuk merubah mindset.

Menjalang siang tadi, entah mengapa kita tiba-tiba membicarakan masalah itu, masalah yang sebenarnya bukan masalah jika tidak dipermasalahkan. Aku sadar… selama ini aku kayaknya telah lumayan banyak intervensi (sekalipun sebatas saran, permintaan, harapan) terhadap kehidupan pribadimu: menyangkut Rokok, nge-Net, pola hidup, pola makan, kesehatan dll)… yang secara langsung tidak ada hubungannya dengan diriku.

Sejujurnya aku terganggu dengan kalimat (yang sebenarnya kau pinjam dariku): “Silahkan ditinjau ulang, Honey….”. Aku sedih dan merasa kau takut-takuti Honey: “kekasihmu ini beli ember dan gayungpun ga sanggup, jadi perlu ditinjau ulang”. Walau aku sudah menjawabnya: I’m fine, it’s OK… ga masalah…. (aku yakin masih ada yang bisa diarrange dan dibargain, selama ada kejujuran, ketulusan dan kerelaan menyikapinya dengan egaliter). Namun koq dikau menggunakan kata “Tinjau ulang” untuk topik yang satu ini agak sedikit kebanyakan ya? Perasaanku sontak berubah, moody jadi bad, I lost my spirit dan kayaknya ga pingin ngapa-ngapain lagi hari ini. Drop dan blank banget kurasakan seketika.

Fikiran khas perempuan batak (berfikir terbalik) mendadak kerja: jangan-jangan Honeyku ini sengaja menyuruh aku meninjau ulang karena sebenarnya Honey yang sudah ga mulai jengah menghadapi aku….?? Kenapa berkali-kali aku disuruh tinjau ulang hanya untuk topik yang sama??? Mungkin aku tolol membiarkan perasaan mempengaruhi fikiranku: “mungkin ini signal dari Honey untuk mengingatkan aku bahwa dirinya sudah mulai ga nyaman bersisian denganku… Tapi ga tega harus ngomong langsung???” Waduh.. bodoh kali aku ya??? Tapi itulah yang spontan muncul dalam fikiran dan hatiku. Mengingat, menimbang apa yang kulakukan selama kurang dari 1 bulan ini….

Sayang… aku tidak ingin membebanimu dengan berbagai masalah… kalo kehadiranku membuat irama hidupmu berubah menjadi ga nyaman, belum terlambat bagimu untuk mengembalikannya kenyamananmu, tanpa diriku…. Aku ga mau semua plan-ku di bulan April akan menjadi beban bagimu. Semua itu bisa dibatalkan, toh perasaanku padamu tidak butuh pengorbanan yang sedemikian besar. Secara samar-samar aku menangkap bahwa kehadiranku akan menimbulkan masalah baru bagimu….

Honey, maafkan aku (meski kau katakan: no need for sorry, cinta akan bisa mengerti dengan sendirinya kalaupun ada kesalahan yang dilakukan tanpa kata maaf)…. aku mendadak sensi, ga jelas kenapa. Mungkin karena aku makin nervous dengan semakin mendekatnya jadwalku ke Jakarta dan waktu bertemu dikau kian besar. Tapi ini juga tidak bisa kujadikan pembenaran bagi diriku untuk ketidakmampuan mengelola perasaanku…

Tapi jujur, aku memang sedih sekali… Selama ini dikau juga tau bahwa aku selalu krisis percaya diri menyangkut hubungan kita… aku tidak yakin bahwa diriku cukup layak menerima semua perhatian, kasih sayang, pengertian dan cinta darimu… Aku selalu tidak percaya bahwa tersedia banyak stok dalam hatimu untuk memahami diriku…. aku ragu dengan diriku sendiri… aku ditakuti oleh fikiranku sendiri - begitu dikau menilai aku.

Perasaan yang muncul saat ini begitu nyesak, aku pengen nangis, tapi air matanya ga mau tumpah, aku ingin menuntaskan apa yang mengganjal di hatiku, tapi hatinya ga mau meledak…. Aku senewen, Honey.. mungkin hanya dengan menuliskan messege inilah perasaanku bisa sedikit kudamaikan. Tapi terlepas dari semuanya… Dengan tulus dan jujur aku kembalikan padamu: seleksilah, tinjau ulang… mungkin aku benar-benar bukan orang yang tepat menjadi partnermu meneruskan semua idealismemu, karena aku  mungkin tidak pernah benar-benar punya kemampuan untuk memahamimu seperti yang engkau lakukan terhadapku. Kita tidak ballace, Honey.. dan aku tidak ingin dikau berkorban terlalu banyak untukku… Aku tidak butuh dikasihani…

Maafkan aku, Honey…

Posted by Olin73 at 08:48:32 | Permalink | No Comments »

Sunday, March 1, 2009

Ternyata…..

Beberapa hari terakhir ini kondisi emosional dan psikhisku benar-benar gak stabil. Dari hari yang sangat riang gembira bisa sontak sedih sekali (sampai ‘terdengar sangat lirih’, kata Honey). Aku juga sebenarnya terganggu dengan kondisi itu karena membuatku menjadi ga nyaman. Aku jadi serba salah, lawanku berkomunikasi lebih serba salah lagi. Dan yang paling bisa merasakan kondisi yang berubah drastis itu adalah Honey, karena dengannyalah aku paling intens berkomunikasi.

Aku kesal dengan perasaanku itu. Selera makanku juga turun drastis… (sebenarnya ini blessing karena berat badanku ikut menyusut, dan itu memang sangat kuharapkan, bukan karena takut gendut jadi klihatan jelek, tapi lebih kepada rasa nyaman yang terganggu karena badan sulit dibawa bergerakk dengan lincah). Berkali-kali kukatakan kepada Honey, koq rasanya nyesak banget… tapi aku ga tau kenapa dan ga akibatnya juga jadi bingung menjelaskannya. Honey lebih bingung lagi, karena ternyata dia bisa merasakan ada yang ga beres dengan perasaanku. Berkali-kali juga kucoba mengelak (menyembunyikannya dari Honey), karena aku ga mau dia jadi susah mikirin aku. Tapi seringkali terbongkar juga, karena Honey dengan kesabaran dan pengertiannya berhasil membangun rasa nyaman yang membuatku yakin mengatakan apapun padanya.

Kemaren itu, waktu  kami lagi ngobrol, kuceritakan pendapat teman-temanku tentang diriku. Honey komentar bahwa teman-temanku mungkin bercanda, mereka ga mengenali aku dengan baik, jangan dibawa serius… eh aku justru menanggapi: “masih banyak kesempatan bagimu untuk meninjau ulang, dikau tidak mengenal aku dengan baik, makanya kau anggap aku ini punya banyak sekali kelebihan. Teman-temankulah ‘cermin’ paling jujur, karena mereka telah mengenalku dengan baik dan bersosialisasi denganku selama bertahun-tahun. Karena itu jika ingin ditinjau ulang, terbuka banyak kesempatan, mumpung perasaan ini belum nancap terlalu jauh!”. Gantian Honey yang bingung: “apa-apaan? Memang harus ditinjau ulang, tapi pendapat teman-temanmu itu yang harus ditinjau ulang, karena mereka tidak melihat dan menilaimu secara utuh! Aku sangat percaya dengan keputusanku, karena harus kau ingat, Honey.. aku lebih matang dan lebih berpengalaman dari dirimu! Aku tidak hanya mengikuti perasaan impulsif sesaat….”. Sejenak aku tenang mendengarnya, namun beberapa saat kemudian kembali melow dan pengen nangis.

Honey menenangkanku… “semua itu karena kau kangen padaku, Honey… sama seperti rasa kangenku padamu yang membuncah. Semua tanya dan perasaan ga nyaman itu akan selesai, begitu kita ketemu. Jadi bersabarlah… toh 5 Minggu itu ga lama….”. Tapi apa iya dengan ketemu semua masalah bisa selesai?? Aku ga terlalu yakin juga bahwa perasaan yang terkadang berantakan ini melulu karena kangen. Ya… kutrima saja dulu, sembari diuji dan dibuktikan kebenarnannya.

Dan sepanjang hari kemaren aku menghabiskan seluruh waktu di depan Laptopku, menulis dan membalas e-mail, memposting tulisan di blog ini dan chatting dengan beberapa teman. Aku pulang ke rumah sudah malam dan tiba hampir jam 9. Sesampai di rumah baru aku sadar… panggilan alamiah sebagai perempuan ternyata telah memanggil. Uuupsss, aku lupa kalo kemaren tanggal 28, dan memang sudah seharusnya untuk siklus 28 hari. Akhirnya aku senyum-senyum sendiri… Semua ketidak nyamanan ini terjadi karena Pre Menstrual Syndrome ternyata… Hahahaha.. sorry, Honey! Dikau telah menjadi sasaran dari kegagalanku mengenali diriku sendiri. Dasar…. ada-ada saja Olin!!!

Posted by Olin73 at 10:00:26 | Permalink | No Comments »