tentang sebuah keraguan
Ceritanya, kemaren sore aku membantu Ibu Erlina Pardede menyelesaikan Editan Buku hasil Penelitiannya tentang “Kekerasan dalam keseharian perempuan Batak di Dairi dan Sidikalang”. Sembari kerja Honey telpon dan cerita banyak hal tentang aktifitasnya di luar Kantor dan di Kantor (ini tanpa disadari jadi kebiasaan yang baik). Lalu Honey cerita padaku: “Sayangku, besok siang aku mau Lunch dengan teman yang sudah lama ga ketemu. Dia cewek, sudah seperti adikku sendiri, sangat dekat dengan Mama dan Bapakku, juga dikenal oleh adik-adikku. Dulu ketika kami sama-sama aktif, saat aku masih menggeluti profesi yang sama dengan dia…. Boleh kan???”. Aku terdiam agak lama, memikirkan apa arti dari pernyataan ini. Tanpa sadar perasaanku menggiringku berfikir nyeleneh: ‘duh, Olin… kekasihmu itu kenapa harus segitu-gitunya memberi penjelasan mengenai rencana Lunch-nya besok? Ada apa??? Jangan-jangan kau sudah punya tendensi mengekang kebebasannya sehingga harus sedetil itu dia ceritakan tentang teman lamanya itu!’. Nah lho… setannya mulai nakal menggoda perasaanku. Apa iya begitu?? Tapi kujawab (klo ini jujur tanpa pretensi apapun), “Ga apa-apa, Sayang! Silahkan saja. Kau bebas koq mo kemana-mana. Aku percaya padamu”
Entah apa yang menyebabkan Honey kembali bertanya, “boleh kan, Olin?”. Kujawab lagi: “boleh, sayang!” (kucoba meyakinkan). Eh malah aku ditanya balik: “Kau ga apa-apa kalo aku pergi dengan temanku itu kan? Aku hanya mau menjalani hubungan ini dengan jujur, sedari awal. Aku ga mau kau sampai tau dari orang atau akhirnya mendapat kesan bahwa aku sengaja menyembunyikan sesuatu darimu! Aku tidak ingin kau terganggu, karena aku sangat menjaga perasaanmu. Buatku saat ini kau adalah prioritas utama dalam hidupku, melebihi apapun! Waktuku, fikiranku, seluruh hidupku orientasinya dirimu dan kebahagiaanmu, Honey!”. Mendengar penjelasan ini, aku yang tadinya tidak terganggu akhirnya benar-benar merasa diusik. Mulailah perasaan melankolik yang norak itu muncul. Dadaku bergemuruh kencang, fikiranku jadi kacau dan perasaanku jadi tak nyaman.
Aku sama sekali tidak melihat korelasi antara penjelasan yang sedetil itu dengan pokok masalah. Siapa yang mempersoalkan Honey mo pergi dengan siapa? Siapa yang curiga atau terganggu? Siapa yang dilukai perasaannya dengan rencana lunch itu? Kukira awalnya aku sama sekali tidak punya fikiran yang aneh, sedikitpun. Namun akhirny mau ga mau perasaan terganggu yang sudah mellow itu hampir meledak. “Separah itukah dirimu menilai aku, Sayang? Apakah kau nyaman menjadi kekasihku? Apakah terlihat indikasi bahwa aku sudah mulai mengancam kebebasanmu? Kukira aku tidak butuh penjelasanmu yang panjang lebar itu. Aku sudah sangat berterima kasih dengan kesediaanmu berbagi cerita padaku selama ini. Hampir seluruh kegiatanmu aku dapat ceritanya, tanpa kupaksa, kau memberikan lebih dari yang kubutuhkan, Lalu apa alasanku untuk cemburu / marah padamu?
Pernyataan dan pertanyaanku ditanggapinya: “tidak ada fikiran apapun melatar belakangi niatku cerita padamu. Sejak awal aku sudah kommit pada diriku sendiri, tidak ada yang aku sembunyikan, aku mau hubungan ini berjalan dengan jujur, kita harus membiasakannya dari sekarang, Sayang!”
Aku yang tambah bingung dengan penjelasannya, akhirnya kembali bertanya: “Sayang, benarkah kau menyayangiku, mencintaiku dan membutuhkan aku?”. Lalu Honey bertanya: “Lho, koq pertanyaannya itu-itu lagi? Bukankah kita sudah pernah membahasnya dengan tuntas? Aku tidak mau kau menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk memikirkannya. Aku bukan orang jahat, Honey. Aku tidak bisa berdusta kepada orang lain, bagaimana aku harus mendustai diriku sendiri? Betapa tololnya Honey-mu ini kalau aku selama ini hanya bermanis bibir dan merayu gombal. Betapa tidak bermartabat dan tidak memiliki integritas diriku ini. Aku tau latar belakangmu, Honey.. aku tidak berniat menyakitimu. Memang aku bukan orang yang sangat baik, tapi aku bukan orang jahat! Dan betapa jahatnya aku jika setelah semua cerita perih yang kau katakan padaku harus kubalas dengan menyakitimu dengan kebohongan. Itu akan membuatmu lebih hancur dan aku adalah penjahat paling jahat jika sampai melakukan hal itu!”. Selanjutnya Honey berkata (dan buatku ini memang terdengar keras): “Aku sebenarnya bisa dengan mudah memberikan apa yang kau mau, meyakinkanmu dengan mengatakan: “aku sayang padamu, aku cinta…dll,dst… tapi aku tidak mau melakukan itu, karena aku ingin kau mengambil keputusan sendiri untuk memilihku, bukan karena kuyakinkan, kau bisa yakin dengan keputusanmu… karena bagiku Proses itu sangat mahal harganya…. dan aku ingin kita menikmati proses itu….!”
Lama memang aku bergumul dengan perasaanku, sampai akhirnya (seperti biasa… kesabaran Honey membuatku luluh) aku kembali merasa nyaman. Percakapan berakhir menjelang tengah malam, dan aku bisa tidur dengan nyaman… karena apa yang jadi kupikirkan sebanarnya bukanlah persoalan. Seperti kata Honey: “Sayang, kau sering menakut-nakuti dirimu sendiri dengan bayangan yang gak perlu, yang ga beralasan. Nikmatilah semua proses….. kau pasti bahagia karenanya!”. Hm…. bisa jadi kali ya????