Cinta: haruskah memiliki??
Hari ini aku terusik membaca kata bijak dari Khalil Gibran: “sejatinya cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan pribadi masing-masing”. Aku resah dengan pernyataan ini, karena kupikir aku memang harus menyadari bahwa intensitas komunikasi di antara kami yang kian hari kian meningkat telah menyeretku pada sebuah keadaan (yang tanpa kusadari) membuatku dependent (tergantung) kepada Honey. Memang itu bukan kemauannya, bahkan aku pernah menulis di blog ini, Honey justru berharap aku merasa bebas terhadapnya dan bersamanya - jadi bukan sifat Honey yang mau mengatur hidupku apalagi sampai mengendalikan sesuai keinginannya. Bahkan terkadang ada sedikit kejengkelan di hatiku, ketika aku menceritakan sesuatu hal mengenai diriku, masalahku, aku sebenarnya sedang membutuhkan sedikit komentar dari Honey… tapi dia hanya akan berkata: “Aku bangga padamu, aku yakin kau bisa menyelesaikan semua itu dengan baik!”. Padahal yang kubutuhkan adalah perhatian, sedikit saja…. namun dijawabnya: “kau mungkin akan menganggap aku terlalu tidak peduli terhadapmu, tapi justru dengan sikapku ini aku mau menunjukkan betapa peduli aku pada kemerdekaanmu bertindak dan bersikap. Aku selalu menghargai apapun keputusan yang kau buat, aku akan dukung semampuku!”.
Memang, sebagai perempuan, sejak kecil sangat mandiri karena aku tidak punya saudari untuk diajak sharing, aku ini satu-satunya putri yang dimiliki Papa dan Mamaku, sehingga lucu rasanya bicara masalah ‘jeroan’ perempuan dengan ketiga adik laki-lakiku…. hihihi….. Namun, harus terbuka kuakui… Cinta ternyata bisa merubah banyak hal. Dan konyolnya, aku yang sebenarnya sangat independent dalam membuat keputusan, bisa dengan pasrah menaklukkan diri supaya ada dalam kendali Honey, bahkan tanpa dia ingini dan dia minta. Kutimbang-timbang dalam hatiku… sepertinya, dengan bersikap demikian aku juga justru sedang berusaha untuk tau banyak hal mengenai dirinya, intervensi dengan segala hal yang dia lakukan sebagai kebiasaan. Dengan mengatas namakan CINTA dan berlindung di balik perasaan sayang, menginginkan yang terbaik untuk seorang kekasih, aku mulai terdengar sering berteriak agar jatah merokoknya dikurang, agar pola hidupnya lebih sehat, agar makannya dijaga dan teratur jadwalnya… agar… agar… dan sekian “agar…” lainnya…
Ah.. aku mulai terseret pada perasaan memiliki yang lebih dalam, menganggap bahwa aku sepertinya lebih berpengetahuan dan lebih teratur hidupnya dari Honey sehingga aku harus ikut untuk mengorganize dirinya yang diakuinya sangat tidak teratur dan sering tidak terkontrol. Padahal bukan berarti juga ketika Honey bicara mengenai kejelekannya berarti dia sedang meminta aku turun tangan memegang kendali, kan???
Khalil Gibran memang mengusikku: “Cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan masing-masing”. Sekarang aku resah… bagaimana mengatasi perasaan memiliki yang mulai tumbuh…?? Apakah mungkin tendensinya menjadi destruktif terhadap rasa aman dan rasa nyaman yang sudah mulai bisa terbangun ini??? Entahlah….