hmmmm…. tulisan suka-suka…..
Tapi ternyata baru saja fikiran itu muncul di benakku, sudah masuk telepon dari Bu RD, Bendahara Kantorku, yang meminta aku datang ke Kantor. Sebenarnya bukan untuk kerja, namun untuk membereskan Ruanganku yang lama, memindahkan isinya ke ruangan yang lebih kecil karena Ruangan itu akan dipakai oleh teman-teman lain: Tulus, Ronald dan Uly juga mungkin. Segera aku mandi dan guyuran air yang dingin menyegarkan. Dengan langkah mantap kubawa Backpack Laptopku menuju kantor. Kubereskan ruangan itu sendirian, secepat yang aku bisa. Karena kupikir, makin cepat selesai, makin banyak waktuku untuk nge-Net, ber Feizbuuk, kirim e-mail, Chatting dan ga lupa nulis Blog ini. Sebenarnya aku juga ga tau apa yang akan kutulis karena kupikir tidak ada juga pengalaman yang sangat istimewa hari ini.
Aku sempat telpon-telpon dengan adikku Melky di Jakarta dan Ricky di Balikpapapn, juga dengan Mama. Akhirnya aku tau kalo mama sudah 2 hari kurang enak badan. Mama sih ga mau ngaku kenapa dirinya, “hanya kurang enak badan!”, itu saja jawabannya. Tapi aku bisa menduga kenapa Mama begitu dan sangat mengerti mengapa Mama akhirnya kurang enak badan. Sudah sejak sebulan yang lalu Mama minta pulang dari Balikpapan, dari rumah anak kesayangannya. Katanya ga betah. Padahal dia belum genap 3 Minggu berada di sana, sejak lewat Natal, tanggal 28 Desember yang lalu. Itupun tidak melulu di Balikpapan, karena aku yang sudah lebih dulu ada di sana dari awal Desember, akhirnya mendapat reward dari Ricky, diajak berlibur ke Yogya bersama Edaku July, Paramanku Paulus dan Phillip juga. Mereka kembali tanggal 7 Januari ke Balikpapan sementara aku meneruskan perjalanan ke Jakarta dan kembali ke Pematangsiantar. Saat itu Mama sebenarnya minta ikut pulang sekalian ke Siantar, kota yang sudah ditinggali Mama sejak berusia 8 tahun. Namun aku, Ricky dan Melky bersekongkol dan sudah sepakat untuk menahan Mama agar lebih lama berlibur di Balikpapan. Toh dalam usia yang hampir 63 tahun Mama itu sudah terlalu letih mengurusi kami, mendukung kami supaya semuanya bisa menyelesaikan study Sarjana. Sejak masih muda hingga sekarang Mama itu selalu mandiri, tidak mau menyusahkan siapapun anaknya, padahal hidupnya sangatlah sederhana….
Hal yang membuat Mama memaksa pulang adalah Kios kecilnya di pasar Horas Pematangsiantar, yang sebenarnya juga sudah tidak terlalu menggembirakan hasilnya. Kami sudah menyarankan agar Mama “pensiun” saja dari ‘karir’nya itu dan menenangkan diri dengan melakukan apa yang bisa menyenangkan hatinya. Namun Mama adalah Mama. Mana bisa dia itu duduk diam…? Sekalipun lagi sakit, semuanya pasti diurusinnya. Kalo kita anak-anaknya flu dikit, Mama pasti merepotkan dirinya dengan segala hal menaggapi keluhan kecil kita. Tapi kalo kita yang berniat baik untuk dia, selalu salah ditanggapi, dia akan bilang: “dang ringkot dope asian muna au, boi dope huula saluhutna” (belum perlu kalian mengasihani aku, aku masih bisa mengerjakan semuanya). Wah… payah! Tapi itulah Mama. Dan hari inipun bisa kubayangkan betapa Mama merepotkan dirinya. Hari ini adikku Ricky genap 32 tahun usianya. Salah satu alasan yang dipakai Ricky untuk mencegah pulangnya Mama segera bulan kemaren adalah: “nunggu aku ulang tahun, Mama… sekalian acara selamatan Rumah ini” (kebetulan Ricky baru membeli sebuah Rumah di Perumahan Balikpapan Baru).
Namun aku menjadi khawatir mendengar suara Mama di telpon tadi.. lemas, tidak berdaya. Mama kehilangan semua semangat dan vitalitasnya. Dan aku sangat yakin itu disebabkan oleh kebosanan yang sudah memuncak di Balikpapan. Seharian kerjaan Mama paling menonton siaran dari saluran Indovision, bermain dengan cucunya Phillip, karena Paulus dan Mamanya, dr. Julyanti sudah disibukkan dengan jadwal rutin: ke Sekolah, Speech Theraphy dan Behaviour Theraphy. Sesekali Mama diajak ke Mall, tapi dia jarang mau ikut, karena capek katanya. Mama juga sudah diajak ke Pantai (lokasi pavoritnya adalah segala yang berhubungan dengan air… lebih luas sudut pandangnya - itu kata Mama). Mama juga sudah diajak kemana-mana, tapi toh tidak berhasil membuatnya betah….
Menjelang sore tadi kutelpon kedua adikku, supaya mereka itu mengalah… mengijinkan Mama pulang tanpa harus menunggu jadwal tiketnya yang sudah dibeli sejak Desember yang lalu. Aku tidak ingin Mama menjadi sakit benaran karena merasa keinginan dan haknya untuk pulang ke rumahnya sendiri diabaikan. Adikku berjanji akan mengurus semuanya sebaik mungkin.
Sempat juga aku curhat kepada Honey tentang ini, saat kami telponan siang tadi (sampai batre abis dan terpaksa dilanjutkan dengan Chatting). Honey sudah mengingatkan aku sejak bulan yang lalu, bahaya dari mengabaikan kebutuhan psikhis orangtua dan dampaknya terhadap semangat hidup dan kesehatannya. Apa yang dikatakan Honey itu terbukti dialami oleh Mama saat ini. Aku menjadi sedih sekali…. Di satu pihak, akupun sudah bosan sendirian di Rumah selama satu setengah bulan ini, sejak kembali dari Yogya. Namun akhirnya kusadari juga bahwa kemerdekaanku untuk mengatur diriku akan ikut terkebiri jika Mama kembali nanti. Aku tidak akan bisa lagi sebebas ini mengatur hidupku. Karena memang sudah terbukti Intervensi Mama sangat dominan terhadap aku, dengan alasan: aku ini boru panggoaran dan boru sasada yang dia punya. Memang Mama tidak pernah punya rancangan yang jahat bagi hidupku, namun seringkali perspektif yang kita ginakan berbeda sehingga terjadi salah pengertian. Niat yang sama-sama baik akhirnya hasilnya berantakan. Tapi apapun… aku akan berusaha mengerti Mama, semampuku, sebagaimana pesan Honey padaku: “Mama tidak akan lama lagi menikmati perannya, jika Honey sayang padanya, apa salahnya membuat orang yang Honey kasihi merasa bahagia?”. Aku kembali teringat statemennya padaku di Valentine’s day seminggu yang lalu: KEBAHAGIAAN adalah KATA KERJA. So kalau aku ingin kebahagiaan, aku ingin membahagiakan Mama, maka aku harus mau bekerja untuk itu, meskipun akan banyak ketidaknyamanan dalam perjuangan mencapainya. Mampukah aku yang temperamental ini melakukannya???