Valentine’s day…
Aku memang bangun lebih awal pagi ini karena hari ini adalah hari spesial dalam hidupku. Bukan sekedar karena hari ini oleh seluruh dunia dirayakan sebagai “Hari Kasih Sayang”, namun memang ada beberapa momen bermakna yang kualami hari ini.
pertama, untuk pertama kali sejak ditahbiskan sebagai Pendeta, aku berkesempatan melayankan Pemberkatan Nikah. Mungkin orang akan berkata: Apa istimewanya? Bukankan memang sudah menjadi tugas Pendeta untuk memberkati Nikah? Pertanytaan yang sangat rasional, jika saja aku adalah Pendeta yang melayani jemaat. Tetapi momen pertama ini menjadi begitu berarti bagiku, karena selama 11 tahun aku hanya berkesempatan menjadi “Pendeta Struktural”… yang setiap hari hanya berurusan dengan persoalan administrasi dan perkantoran… Pemberkatan itu berlangsung di HKBP Dolok Sinumbah. Nats yang kupilih dari Pengkotbah 9:9, “Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari”. Aku melihat binar bahagia di wajah kedua mempelai ketika mereka mendengarkan kotbahku. Kucoba menyelami perasaan mereka… Pengalaman yang kurasakan 9 tahun yang lalu: ‘bahagia karena akhirnya menikah’ itu juga yang mungkin ada di benak mereka. (walau dalam kenyataannya, perjalanan hidup tak seindah apa yang ada dalam impian). Kuuraikan bahwa harkat dan hakikat pernikahan yang bahagia yang bisa dinikmati tidak hanya membutuhkan cinta. Paling tidak ditentukan oleh 3 faktor lain yang menentukan: Saling mengampuni: bersedia memaafkan bahkan melupakan kesalahan, kekurangan, kelemahan, kekhilafan yang dilakukan pasangan, baik sengaja maupun tidak disadari; Saling menghormati:” menyadari bahwa keduanya memiliki tugas dan tanggungjwab, hak dan kewajiban yang harus dijalankan dengan baik dengan saling memahami, tidak saling merendahkan, menyadari bahwa hidup akan sempurna ketika keduanya saling menolong dan melengkapi di bawah kepatuhan kepada Hukum Kristus, hukum Kasih (I Korint 13); dan Saling percaya: dengan menghindari curiga yang tanpa alasan, apalagi sampai mencari-cari pertengkaran. Sejujurnya aku juga sedang berbincang dengan hatiku…. Dari pengalamanku, ketiga faktor ini tidak berjalan dengan baik, sehingga konsekuensinya juga tidak seindah impian. Namun kekasihku pernah mengatakan padaku: “jangan sesali, ini tidak melulu kesalahanmu… Ideal hanya mungkin jika kedua pihak berperan”. Atau di kesempatan lain dia juga membesarkan hatiku:”meski kau tak berhasil melaksanakan apa yang ada dalam kotbah-kotbahmu, minimal kau bisa belajar dan membiarkan orang lain juga belajar dari ketegaranmu menghadapi masalah dan pergumulanmu. Aku bangga padamu”. (Kematangan dan kesabaran, pengertian dan penerimaan tak bersyarat yang ditunjukkannya padaku, itulah yang membuatku makin hari makin membutuhkannya, karena aku memang mencintainya).
kedua, hari ini keponakanku: Aurora Valencia genap berusia 8 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia juga menagih seloyang Black Forest buatanku sebagai hadiah. Biasanya aku dengan senang hati memasak untuknya. Dan sebenarnya hari ini juga aku telah berjanji untuk melakukannya, namun karena hari-hariku telah disita oleh Seremoni pemberkatan Nikah, akhirnya dengan jujur aku harus meminta maaf padanya. Kutawarkan untuk menggantinya dengan reward yang lain, dan dia bersedia. Aku harus (dengan terpaksa, karena aku tau ini sebenarnya tidak baik untuk kesehatannya) menraktirnya makan Ayam goreng Fast food. Dan aku akan melakukannya setelah ini. Dalam hati aku bersyukur, meski belum diberi Tuhan kepercayaan dan kesempatan untuk melahirkan anak dari rahimku, aku tidak pernah batal menjalankan peranku sebagai “Ibu”. Aku punya 5 keponakan yang lucu-lucu.. yang mewarnai hari-hariku… membuatku tersenyum dan bangga, karena aku tau mereka juga mencintaiku, sama seperti aku mencintai mereka. Dan di moment “hari kasih sayang” ini.. aku boleh membagikan kasih kepada anak yang tidak pernah menjadi buah rahimku. Inilah makna kasih sayang dalam bentuk yang lain
ketiga, hari ini menjadi “Valentine’s day pertamaku dengan kekasih baik hati yang baru kutemukan beberapa bulan yang lalu. Aku sebenarnya tidak mengkultuskan “Val’s day”-nya, namun, aku bisa merayakan hari ini walau masih terhalang untuk bertemu, karena bentangan jarak dan waktu. Namun begitu, aku masih tetap bisa merasakan getaran itu.. getaran cinta yang menghidupkan. Kebahagiaanku makin disempurnakan dengan kiriman 3 pesan singkat darinya: “I Love you, Olin”; “Aku ikut senang dalam semua momen spesial yang terjadi dalam kehidupanmu hari ini, Honey… Aku bangga padamu, Olin…”; dan “Berkatilah sejoli itu Olin, dengan pesan sederhana tapi benar dan fundamental, bahwa KEBAHAGIAAN adalah KATA KERJA”. Sayangnya SMS ketiga kuterima setelah Pemberkatan usai karena Ponsel kunonaktifkan selama Ibadah berlangsung.
Aku terpaku pada pernyataan: KEBAHAGIAAN itu adalah KATA KERJA. Segera kutelpon kekasihku untuk minta argumennya, karena yang kutau KEBAHAGIAAN adalah KATA SIFAT menurut kaidah Bahasa Indonesia. Dan seperti biasa, dia selalu berhasil meyakinkanku, bahwa pernyataannya mendasar dan mengakar. KEBAHAGIAAN hanya mungkin dicapai jika ada usaha, kerja keras untuk mewujudkannya. Dan dengan Cinta yang tulus kukatakan padanya: Aku akan melakukan apapun sekuat dayaku, untuk memberi kebahagiaan bagimu, karena aku tau kebahagiannya akan membuatku bahagia, energi positif itu akan memantul dan membuat hidupku lebih berarti.. (seperti pengakuan teman-teman di Kantor: aku memang lebih wise dan cool dalam menjalani rutinitasku.. dan mereka ikut merasakan aura kebahagiaanku juga). Betapa beruntungnya aku memiliki kekasih seperti dirimu, Honey….
Terima kasih kalau engkau mau membaca curahan hatiku ini sayang, terima kasih juga ketika kau meyakinkanku dengan Pernyataan yang membuatku makin nyaman: “Honey…, aku mau kau merasa bebas denganku dan terhadapku. Just do it karena itu pasti baik buatku, dan buat kita. Menarilah Olin, seirama musik dalam jiwamu, dan menangislah sampai rasa haru tuntas. Aku sayang padamu, tanpa syarat apapun: Just the way you are, Honey”.
Inilah Kado Valentine terindah yang pernah kuterima….
wow kk.. crita2 dong kisah cintanya..
I understand your feeling.. cos i think i feel the same way..
keep up of what is good in your thinking.. listen to your heart..
spread out the good things..
gbu..
Elisa sirait