Saturday, February 28, 2009

Kangen (puisi Mellow untukmu, Honey…..)

Perlahan kau datang dalam hidupku
mencoba memberi warna
mencoba menghapus luka dari derita lama

aku memberanikan diri, memberi kesempatan itu kepadamu…
dan aku mulai bisa membuka hati

perlahan kau menawarkan sapu tangan
dengan santun kau minta, kuijinkan menyeka darah
yang terus mengalir dari lukaku yang mendera

aku menegarkan hati, membiarkanmu mengobati dan darah itu mulai berhenti
perlahan kau berikan sayang

perhatian tulus, pengertian dan dukungan
kau limpahkan cinta agar aku lupa

aku memberi hati menerima ketulusanmu
dan aku mulai mampu menyingkirkan nyeri

terimakasih, Sayang….
tapi akankah cinta ini sungguh akan jadi milikku???

 

aku berharap kau tak akan pernah pergi
agar aku tak pernah lagi merasakan nyeri

aku mau mencintaimu dengan sepenggal hati

(yang kukumpulkan dari puing luka yang tersisa)

menyayangimu dengan setulus rasa

sampai ajal datang menjemput…

dan aku boleh menutup mata

dengan menyimpan namamu di hatiku hingga denyut terakhir jantungku.

 

Aku mungkin hanyalah gugusan huruf dalam hidupmu
yang memberimu ribuan kata untuk merangkai kalimat
aku mungkin hanya nyata dalam maya
berbahagia dengan impian dan pikiran
mencoba mencintai dengan sepenuh hati

Ya, maafkan aku dengan segala rasaku

(jika kehadiranmu tidak sepenuhnya memberi apa yang kau butuhkan)
tiada aku akan memaksakan diri
cukup kusimpan sayangku sendiri
dalam hati sunyi, dalam ruang di mana aku dapat mengenangmu
selamanya…. sepuas hati…..

 

Sayang….,

jangan biarkan ruang itu menjadi sunyi kembali
ijinkan ruang itu dipenuhi cahaya matahari
bukan lagi ruang redup nan sepi
biarkan wangi ceria lemon grass dan tangerine
dan sesayup harum camelia menyapa hening

 

I love U, Ich liebe dich… Honey!

 

 

Posted by Olin73 at 13:30:27 | Permalink | No Comments »

Friday, February 27, 2009

tentang sebuah keraguan

Mungkin nada yang terdengar dari curahan hati ini tidah semerdu hari-hari kemaren. Namun bukan karena ada yang berubah dengan perasaanku terhadap Honey atau Honey terhadapku. Justru aku tau makin hari “pohon cinta kasih” itu tumbuh makin besar dan akarnyapun semakin kuat nancap di hati. Tadi malam kami terlibat diskusi yang cukup serius mengenai “berkorban”. Cukup serius bagiku karena menguras banyak sekali energiku untuk menganalisa dan perasaan yang jadi tidak karuan.

Ceritanya, kemaren sore aku membantu Ibu Erlina Pardede menyelesaikan Editan Buku hasil Penelitiannya tentang “Kekerasan dalam keseharian perempuan Batak di Dairi dan Sidikalang”. Sembari kerja Honey telpon dan cerita banyak hal tentang aktifitasnya di luar Kantor dan di Kantor (ini tanpa disadari jadi kebiasaan yang baik).  Lalu Honey cerita padaku: “Sayangku, besok siang aku mau Lunch dengan teman yang sudah lama ga ketemu. Dia cewek, sudah seperti adikku sendiri, sangat dekat dengan Mama dan Bapakku, juga dikenal oleh adik-adikku. Dulu ketika kami sama-sama aktif, saat aku masih menggeluti profesi yang sama dengan dia…. Boleh kan???”. Aku terdiam agak lama, memikirkan apa arti dari pernyataan ini. Tanpa sadar perasaanku menggiringku berfikir nyeleneh: ‘duh, Olin… kekasihmu itu kenapa harus segitu-gitunya memberi penjelasan mengenai rencana Lunch-nya besok? Ada apa??? Jangan-jangan kau sudah punya tendensi mengekang kebebasannya sehingga harus sedetil itu dia ceritakan tentang teman lamanya itu!’. Nah lho… setannya mulai nakal menggoda perasaanku. Apa iya begitu?? Tapi kujawab (klo ini jujur tanpa pretensi apapun), “Ga apa-apa, Sayang! Silahkan saja. Kau bebas koq mo kemana-mana. Aku percaya padamu”

Entah apa yang menyebabkan Honey kembali bertanya, “boleh kan, Olin?”. Kujawab lagi: “boleh, sayang!” (kucoba meyakinkan). Eh malah aku ditanya balik: “Kau ga apa-apa kalo aku pergi dengan temanku itu kan? Aku hanya mau menjalani hubungan ini dengan jujur, sedari awal. Aku ga mau kau sampai tau dari orang atau akhirnya mendapat kesan bahwa aku sengaja menyembunyikan sesuatu darimu! Aku tidak ingin kau terganggu, karena aku sangat menjaga perasaanmu. Buatku saat ini kau adalah prioritas utama dalam hidupku, melebihi apapun! Waktuku, fikiranku, seluruh hidupku orientasinya dirimu dan kebahagiaanmu, Honey!”. Mendengar penjelasan ini, aku yang tadinya tidak terganggu akhirnya benar-benar merasa diusik. Mulailah perasaan melankolik yang norak itu muncul. Dadaku bergemuruh kencang, fikiranku jadi kacau dan perasaanku jadi tak nyaman.

Aku sama sekali tidak melihat korelasi antara penjelasan yang sedetil itu dengan pokok masalah. Siapa yang mempersoalkan Honey mo pergi dengan siapa? Siapa yang curiga atau terganggu? Siapa yang dilukai perasaannya dengan rencana lunch itu? Kukira awalnya aku sama sekali tidak punya fikiran yang aneh, sedikitpun. Namun akhirny mau ga mau perasaan terganggu yang sudah mellow itu hampir meledak. “Separah itukah dirimu menilai aku, Sayang? Apakah kau nyaman menjadi kekasihku? Apakah terlihat indikasi bahwa aku sudah mulai mengancam kebebasanmu? Kukira aku tidak butuh penjelasanmu yang panjang lebar itu. Aku sudah sangat berterima kasih dengan kesediaanmu berbagi cerita padaku selama ini. Hampir seluruh kegiatanmu aku dapat ceritanya, tanpa kupaksa, kau memberikan lebih dari yang kubutuhkan, Lalu apa alasanku untuk cemburu / marah padamu?

Pernyataan dan pertanyaanku ditanggapinya: “tidak ada fikiran apapun melatar belakangi niatku cerita padamu. Sejak awal aku sudah kommit pada diriku sendiri, tidak ada yang aku sembunyikan, aku mau hubungan ini berjalan dengan jujur, kita harus membiasakannya dari sekarang, Sayang!”

Aku yang tambah bingung dengan penjelasannya, akhirnya kembali bertanya: “Sayang, benarkah kau menyayangiku, mencintaiku dan membutuhkan aku?”. Lalu Honey bertanya: “Lho, koq pertanyaannya itu-itu lagi? Bukankah kita sudah pernah membahasnya dengan tuntas? Aku tidak mau kau menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk memikirkannya. Aku bukan orang jahat, Honey. Aku tidak bisa berdusta kepada orang lain, bagaimana aku harus mendustai diriku sendiri? Betapa tololnya Honey-mu ini kalau aku selama ini hanya bermanis bibir dan merayu gombal. Betapa tidak bermartabat dan tidak memiliki integritas diriku ini. Aku tau latar belakangmu, Honey.. aku tidak berniat menyakitimu. Memang aku bukan orang yang sangat baik, tapi aku bukan orang jahat! Dan betapa jahatnya aku jika setelah semua cerita perih yang kau katakan padaku harus kubalas dengan menyakitimu dengan kebohongan. Itu akan membuatmu lebih hancur dan aku adalah penjahat paling jahat jika sampai melakukan hal itu!”. Selanjutnya Honey berkata (dan buatku ini memang terdengar keras): “Aku sebenarnya bisa dengan mudah memberikan apa yang kau mau, meyakinkanmu dengan mengatakan: “aku sayang padamu, aku cinta…dll,dst… tapi aku tidak mau melakukan itu, karena aku ingin kau mengambil keputusan sendiri untuk memilihku, bukan karena kuyakinkan, kau bisa yakin dengan keputusanmu… karena bagiku Proses itu sangat mahal harganya…. dan aku ingin kita menikmati proses itu….!”

Lama memang aku bergumul dengan perasaanku, sampai akhirnya (seperti biasa… kesabaran Honey membuatku luluh) aku kembali merasa nyaman. Percakapan berakhir menjelang tengah malam, dan aku bisa tidur dengan nyaman… karena apa yang jadi kupikirkan sebanarnya bukanlah persoalan. Seperti kata Honey: “Sayang, kau sering menakut-nakuti dirimu sendiri dengan bayangan yang gak perlu, yang ga beralasan. Nikmatilah semua proses….. kau pasti bahagia karenanya!”. Hm…. bisa jadi kali ya????

Posted by Olin73 at 08:50:53 | Permalink | No Comments »

Thursday, February 26, 2009

Peranan Mama terhadap gangguan komunikasiku dengan Honey…

Kemaren aku absent ya….?? Iya, karena aku emang ga sempat OL. Aku berangkat ke Medan, mo jemput Mama yang pulang dari “petualangan” di East Borneo. Karena nyampenya udah jam 7-an malam, Mama kurang nekad jalan sendiri, ya, sebagai putri yang manis aku setuju menjemputnya di POLONIA.

Sejujurnya (bukan berarti aku ga jujur sebelumnya), kepulangan Mama ini membuatku sedikit worry. Aku sudah bisa bayangkan apa yang akan terjadi dengan kehidupanku, pasca ketemu Mama lagi setelah 2 bulan memproklamirkan diri menjadi orang merdeka dan mandiri….. Bukan berarti aku ga inginkan Mama ada didekatku… bahkan aku pernah bilang, 2 bulan ga bersama-sama menyisakan kerinduan koq di hatiku… karena diam-diam aku juga kangen dicereweti (selain kangen sama masakannya yang bisa bikin aku jadi genduuuutttt). Tapi klo cerewetnya Mama sampai mengganggu kenyamanan, itu yang jadi masalah…. !

Ceritanya tadi malam, setelah jemput Mama di Polonia, dalam perjalanan Medan - Pematangsiantar Honey telpon sampai berjam-jam. Eh si Mamanya ga trima, katanya apa ga cape ngobrol terus…???  Aku masih senyum. saja menanggapi (walau sudah mulai jengkel) Akibatnya setelah telepon terputus, (padahal masih kurang jika dibandingkan dengan rutinitas dan habbits sebelumnya), kutinggal tidurlah jadinya…

Nah bangun tadi kan ada telepon “selamat pagi” lagi. Kali ini aku yang mulai… tapi karena Honey buru-buru mo ke kantor, harus cepat-cepat mandi, benar-benar hanya sempat say: “Good morning, Dear…”. Dalam perjalanan ke Kantor Honey telpon dan akupun sama-sama lago OTW ke Kantor. Hanya saja, bakalan gawat nih… kenyamanan komunikasi bisa terganggu karena mama yang over protektif. Gimana donk Honey??? I’ll miss U kebanyakan deh.. karena kata-kata yang ada dan ingin kusampein padamu ga sempat nyampe…

Kudu pintar-pintar cari selahnya deh jadinya…. Gimana mengatasi hal ini, Honey??? Aku kangen nih!

Posted by Olin73 at 09:18:24 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 24, 2009

Cinta: haruskah memiliki??

Harus jujur kuakui, semakin hari aku makin yakin dengan cinta yang kumiliki terhadap Honey. Begitupun cinta yang Honey berikan terhadapku, selalu memberikan kenyamanan dalam bathinku. Chemistry yang makin kuat menjadi salah satu indikasi bahwa di antara kami memang sudah semakin jelas pemahaman ke arah mana kami akan membawa biduk cinta kami.Walau aku tetap tidak mau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi untuk relasi seumur jagung ini.

Hari ini aku terusik membaca kata bijak dari Khalil Gibran: “sejatinya cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan pribadi masing-masing”. Aku resah dengan pernyataan ini, karena kupikir aku memang harus menyadari bahwa intensitas komunikasi di antara kami yang kian hari kian meningkat telah menyeretku pada sebuah keadaan (yang tanpa kusadari) membuatku dependent (tergantung) kepada Honey. Memang itu bukan kemauannya, bahkan aku pernah menulis di blog ini, Honey  justru berharap aku merasa bebas terhadapnya dan bersamanya  - jadi bukan sifat Honey yang mau mengatur hidupku apalagi sampai mengendalikan sesuai keinginannya. Bahkan terkadang ada sedikit kejengkelan di hatiku, ketika aku menceritakan sesuatu hal mengenai diriku, masalahku, aku  sebenarnya sedang membutuhkan sedikit komentar dari Honey… tapi dia hanya akan berkata: “Aku bangga padamu, aku yakin kau bisa menyelesaikan semua itu dengan baik!”. Padahal yang kubutuhkan adalah perhatian, sedikit saja…. namun dijawabnya: “kau mungkin akan menganggap aku terlalu tidak peduli terhadapmu, tapi justru dengan sikapku ini aku mau menunjukkan betapa peduli aku pada kemerdekaanmu bertindak dan bersikap. Aku selalu menghargai apapun keputusan yang kau buat, aku akan dukung semampuku!”.

Memang, sebagai perempuan, sejak kecil sangat mandiri karena aku tidak punya saudari untuk diajak sharing, aku ini satu-satunya putri yang dimiliki Papa dan Mamaku, sehingga lucu rasanya bicara masalah ‘jeroan’ perempuan dengan ketiga adik laki-lakiku…. hihihi….. Namun, harus terbuka  kuakui… Cinta ternyata bisa merubah banyak hal. Dan konyolnya, aku yang sebenarnya sangat independent dalam membuat keputusan, bisa dengan pasrah menaklukkan diri supaya ada dalam kendali Honey, bahkan tanpa dia ingini dan dia minta. Kutimbang-timbang dalam hatiku… sepertinya, dengan bersikap demikian aku juga justru sedang berusaha untuk tau banyak hal mengenai dirinya, intervensi dengan segala hal yang dia lakukan sebagai kebiasaan. Dengan mengatas namakan CINTA dan berlindung di balik perasaan sayang, menginginkan yang terbaik untuk seorang kekasih, aku mulai terdengar sering berteriak agar jatah merokoknya dikurang, agar pola hidupnya lebih sehat, agar makannya dijaga dan teratur jadwalnya… agar… agar… dan sekian “agar…” lainnya…

Ah.. aku mulai terseret pada perasaan memiliki yang lebih dalam, menganggap bahwa aku sepertinya lebih berpengetahuan dan lebih teratur hidupnya dari Honey sehingga  aku harus ikut untuk mengorganize dirinya yang diakuinya sangat tidak teratur dan sering tidak terkontrol. Padahal bukan berarti juga ketika Honey bicara mengenai kejelekannya berarti dia sedang meminta aku turun tangan memegang kendali, kan???

Khalil Gibran memang mengusikku: “Cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan masing-masing”. Sekarang aku resah… bagaimana mengatasi perasaan memiliki yang mulai tumbuh…?? Apakah mungkin tendensinya menjadi destruktif terhadap rasa aman dan rasa nyaman yang sudah mulai bisa terbangun ini??? Entahlah….

Posted by Olin73 at 11:27:15 | Permalink | No Comments »

Monday, February 23, 2009

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak bertanya tentang calon suamiku, aku menantinya menjemputku di tempat yang Tuhan sediakan, dan satu hal yang  pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Tuhan. Sehingga aku nikahi seorang suami yang tegar, bertanggungjawab, mencintaiku, menerima apapun keadaanku dan berbati kepada orangtua.

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan calon suamiku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.

Ketika Tuhan menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan calon suamiku, yang rasanya akan sulit aku tandingi.

Ketika Tuhan menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Ya Tuhan, jadikan dia, seorang laki-laki, suami dan ayah anak-anakku kelak, yang dapat bersamaku bergandengan tangan menuju jalan SurgaMu. Amin.

Sahabat-sahabatku, ketika Tuhan menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…., yang….., yang….., dan 1000 “yang”…… lainnya. Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan. Ketika kebersamaan dua insan teruji oleh waktu dan berjalan dalam Takut akan Tuhan.

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, tidak akan ada ego yang menonjol, yang berkeinginan menguasai satu terhadap yang lain, yang ada hanya saling menolong, menganggap seorang lebih utama dari dirinya sendiri, saling mengasihi, saling melayani sebagaimana kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan.

Sahabat-sahabatku, ketika usiaku 22 tahun, saat menyelesaikan studyku, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Tuhan dengan banyak kriteria dan dengan tanda-tanda yang aku tetapkan supaya Tuhan kabilkan. Meskipun saat itu aku memiliki kekasih, Tuhan belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 25 tahun, saat aku mulai memasuki dunia pelayanan dan karirku, aku juga berkeinginan menikah. Namun kekasih yang kupunya ketika itu tidak lolos memenuhi syarat dan kriteria yang diinginkan oleh orangtua dan keluarga besarku. Akupun gagal sampai kepada tahapan perencanaan dan persiapan untuk menikah.

Saat usiaku 27 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang syarat dan kriteriaku untuk jodoh kepada Tuhan. Rupanya masih terlalu banyak. Dan akhirnya aku menikah, dengan orang yang kukenal ketika pelayanan di Gereja. Semuanya Indah di masa 6 bulan penjajakan…. keluarga calon Mertua juga sangat manis kepadaku. Calon suamiku juga sangat care terhadapku. Dan aku merasa sangat nyaman dengan hubungan yang kami bina, meski hati seorang Bunda-Ibuku agak terusik karena beberapa pertimbangan personal yang tidak ingin dia diskusikan terbuka denganku. Namun aku mengabaikan faktor itu, kuanggap tidak terlalu berpengaruh, kukira tidak ada lagi hambatan untukku melanjut ke jenjang pernikahan.

Dan akupun mendoakan rencanaku, kukatakan kepada Tuhan apa yang kurasakan, kuinginkan, kuharapkan dan kurencanakan. Sejauh kenyataan, semua berjalan seperti apa yang kuharapkan. Aku memang tidak lagi terpaku pada kriteria jodoh yang sejak lama kuimpikan, aku tidak lagi terlalu memaksa agar semua keinginanku menjadi kenyataan, akupun belajar mensyukuri bahwa apapun yang sedang berlangsung berada dalam sepengetahuanNya.

Pernikahan yang mewah (ini sama sekali tidak pernah hadir dalam impianku) akhirnya digelar. Gedung yang megah, tamu dan undangan yang melimpah merayakan hari di mana aku dan suamiku menjadi ratu dan raja sehari. Limpahan hadiah, ratusan ulos, karungan beras dan entah berapa banyak amplop berisi kartu dan bingkisan mewarnai pernikahan tah terfikirkan itu. Aku bahagia, suamiku juga tersenyum gagah…. Mungkin dia bangga berhasil menyunting aku menjadi istrinya. Meski lelah, pulang dari gedung usai menyelesaikan semua rangkaian acara Adat, keluarga besar kami tampak lega. “Akhirnya…..” itulah mungkin yang mereka fikirkan.

Aku memulai hari pertama pasca pernikahanku dengan ketaatan kepada suami sebagaimana ketaatan kepada Tuhan, yang menjadi alasan aku untuk menikah. Namun rasanya aku bertepuk sebelah tangan. Apa yang terasa indah dalam 6 bulan perkenalan dan penjajagan, berubah menjadi drama tragis yang menguras air mata. Hari berlalu tanpa kemesraan dan limpahan kasih sayang, Minggu berganti dengan warna kekerasan yang menyesakkan, bulan berjalan dengan kehampaan dan di akhir tahun kedua semuanya harus berakhir tanpa tuntas penyelesaian.

“Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah”, ternyata tidak meninggalkan damai sejahtera dalam perjalanan hidupku. Aku tidak tau dimana letak kesalahannya: apakah aku kurang gigih menggumulkannya, ataukah Tuhan memang merancangkan jalan hidupku harus melewati semua ini, karena dia punya skenario lain dalam kelanjutan hidupku di masa depan?? Tapi aku tidak mau mempersalahkan Tuhan, tidak akan pernah…. Keputusan yang kubuat dengan kesadaran yang kuat, tanpa tekanan siapapun. Dan aku terima serta jalani babak kehidupanku selanjutnya dengan pasrah dan berserah……

Tujuh tahun berlalu tidak seperti apa yang kumau. Aku memiliki kesadaran yang kuat, ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka aku harus berserah pada rancangan Tuhan untukku. Kuingat bahwa Tuhan memang tidak pernah berjanji akan selalu ada mata matahari, atau akan melulu hujan… Tapi Tuhan akan memperhitungkan setiap tetes airmata, mengenal hatiku yang penuh kepasrahan…..

Lalu sekarang… setelah 7 tahun, aku menemukan jalan menuju kebahagiaan. Kuyakini itu dengan hati karena belum pernah pengalaman ini kualami sebelumnya. Salahkah jika aku kemudian berfikir, inilah jawaban atas kepasrahan dan ketaatan memikul salib untuk pergumulanku? Bolehkah aku berharap bahwa kehadiran seseorang yang sangat mempengaruhi seluruh irama hidupku selama 2 bulan terakhir ini sebagai rencana Tuhan yang manis untuk hidupku. Setiap hari selalu ada komunikasi yang baik antara aku dan dia… semakin lama semakin dalam dan larut kepada saling memahami, tanpa hasrat untuk bersandiwara atau menyembunyikan kenyataan yang ada, kubuka semuanya kepada dia. Diapun sangat bisa memahami, bahkan memiliki chemistry yang sama kuatnya dengan apa yang kurasakan. Aku memang tidak mau punya ekspektasi yang terlalu tinggi akan masa depan dari relasi yang masih seumur jagung. Aku juga tidak mau berharap terlalu besar akan kebersamaan yang manis ini. Aku hanya mau menikmatinya sebagaimana air mengalir…. biarkanlah waktu menguji… dalam perjalanannya akan ada batu karang yang mungkin memecahnya menjadi buih, akan ada riak-riak berupa gelombang yang menghadang, dalam proses menyesuaikan diri sampai kepada satu pemahaman, meski tidak harus selalu seragam, namun ada toleransi dan saling pengertian. Aku hanya mau menikmati setiap hari berlalu sebagai sebuah episode dimana Tuhan menjadi sutradaranya.

Aku tidak merasa cantik, karena itu aku tidak berfikir harus mencari yang tampan. Aku tidak mempersoalkan harta yang cukup, karena aku sadar bahwa hartakupun tiada. Aku tidak menuntut dia harus baik, karena aku sadar aku juga tidak cukup baik. Aku tidak meminta dia harus mengerti aku, karena belum tentu juga aku bisa sepenuhnya mengerti dirinya. Aku tidak minta dia harus pintar, karena akupun belum tentu sepintar apa yang dia inginkan. Akhirnya aku hanya meminta sedikit: “Ya Tuhan, berikan pada kami hati yang terbuka, yang mau menerima satu sama lain apa adanya, jadilah kehendakMu! (Tapi aku percaya Tuhan tetap mempertimbangkan kebutuhan kami).”

Dan aku akan terus menjalani hari-hari ini dengan suka cita, menerobos berbagai rintangan di depan sana. Dengan pengalaman kegagalan sebelumnya, berharap aku bisa membuat keputusan yang lebih baik, yang sungguh-sungguh bersasar kepada dalil: “Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah”. Sehingga aku tidak akan pernah menyesal lagi… selamanya. Karena ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, isak tangis akan berubah menjadi damai yang membahagiakan. Dan aku akan bersabar menanti saatnya tiba…..

Posted by Olin73 at 08:48:25 | Permalink | No Comments »

Saturday, February 21, 2009

hmmmm…. tulisan suka-suka…..

Aku bangun tidur kesiangan, hampir jam 8 pagi, abisnya “online” sampai jam 2  lewat tengan malam.  Sebenarnya sih badan masih belum ingin bangkit, masih pingin malas-malasn, toh hari ini Kantor libur. Menghabiskan waktu di hari libur tanpa rencana yang terstruktur mungkin menyenangkan. Jadi aku bisa menghabiskan waktu suka-sukanya aku, mo ngapain kek, mo cemmana kek, pokoknya aku senang.

Tapi ternyata baru saja fikiran itu muncul di benakku, sudah masuk telepon dari Bu RD, Bendahara Kantorku, yang meminta aku datang ke Kantor. Sebenarnya bukan untuk kerja, namun untuk membereskan Ruanganku yang lama, memindahkan isinya ke ruangan yang lebih kecil karena Ruangan itu akan dipakai oleh teman-teman lain: Tulus, Ronald dan Uly juga mungkin. Segera aku mandi dan guyuran air yang dingin menyegarkan. Dengan langkah mantap kubawa Backpack Laptopku menuju kantor. Kubereskan ruangan itu sendirian, secepat yang aku bisa. Karena kupikir, makin cepat selesai, makin banyak waktuku untuk nge-Net, ber Feizbuuk, kirim e-mail, Chatting dan ga lupa nulis Blog ini. Sebenarnya aku juga ga tau apa yang akan kutulis karena kupikir tidak ada juga pengalaman yang sangat istimewa hari ini.

Aku sempat telpon-telpon dengan adikku Melky di Jakarta dan Ricky di Balikpapapn, juga dengan Mama. Akhirnya aku tau kalo mama sudah 2 hari kurang enak badan. Mama sih ga mau ngaku kenapa dirinya, “hanya kurang enak badan!”, itu saja jawabannya. Tapi aku bisa menduga kenapa Mama begitu dan sangat mengerti mengapa Mama akhirnya kurang enak badan. Sudah sejak sebulan yang lalu Mama minta pulang dari Balikpapan, dari rumah anak kesayangannya. Katanya ga betah. Padahal dia belum genap 3 Minggu berada di sana, sejak lewat Natal, tanggal 28 Desember yang lalu. Itupun tidak melulu di Balikpapan, karena aku yang sudah lebih dulu ada di sana dari awal Desember, akhirnya mendapat reward dari Ricky, diajak berlibur ke Yogya bersama Edaku July, Paramanku Paulus dan Phillip juga. Mereka kembali tanggal 7 Januari ke Balikpapan sementara aku meneruskan perjalanan ke Jakarta dan kembali ke Pematangsiantar. Saat itu Mama sebenarnya minta ikut pulang sekalian ke Siantar, kota yang sudah ditinggali Mama sejak berusia 8 tahun. Namun aku, Ricky dan Melky bersekongkol dan sudah sepakat untuk menahan Mama agar lebih lama berlibur di Balikpapan. Toh dalam usia yang hampir 63 tahun Mama itu sudah terlalu letih mengurusi kami, mendukung kami supaya semuanya bisa menyelesaikan study Sarjana. Sejak masih muda hingga sekarang Mama itu selalu mandiri, tidak mau menyusahkan siapapun anaknya, padahal hidupnya sangatlah sederhana….

Hal yang membuat Mama memaksa pulang adalah Kios kecilnya di pasar Horas Pematangsiantar, yang sebenarnya juga sudah tidak terlalu menggembirakan hasilnya. Kami sudah menyarankan agar Mama “pensiun” saja dari ‘karir’nya itu dan menenangkan diri dengan melakukan apa yang bisa menyenangkan hatinya. Namun Mama adalah Mama. Mana bisa dia itu duduk diam…? Sekalipun lagi sakit, semuanya pasti diurusinnya. Kalo kita anak-anaknya flu dikit, Mama pasti merepotkan dirinya dengan segala hal menaggapi keluhan kecil kita. Tapi kalo kita yang berniat baik untuk dia, selalu salah ditanggapi, dia akan bilang: “dang ringkot dope asian muna au, boi dope huula saluhutna” (belum perlu kalian mengasihani aku, aku masih bisa mengerjakan semuanya). Wah… payah! Tapi itulah Mama. Dan hari inipun bisa kubayangkan betapa Mama merepotkan dirinya. Hari ini adikku Ricky genap 32 tahun usianya. Salah satu alasan yang dipakai Ricky untuk mencegah pulangnya Mama segera bulan kemaren adalah: “nunggu aku ulang tahun, Mama… sekalian acara selamatan Rumah ini” (kebetulan Ricky baru membeli sebuah Rumah di Perumahan Balikpapan Baru).

Namun aku menjadi khawatir mendengar suara Mama di telpon tadi.. lemas, tidak berdaya. Mama kehilangan semua semangat dan vitalitasnya. Dan aku sangat yakin itu disebabkan oleh kebosanan yang sudah memuncak di Balikpapan. Seharian kerjaan Mama paling menonton siaran dari saluran Indovision, bermain dengan cucunya Phillip, karena Paulus dan Mamanya, dr. Julyanti sudah disibukkan dengan jadwal rutin: ke Sekolah, Speech Theraphy dan Behaviour Theraphy. Sesekali Mama diajak ke Mall, tapi dia jarang mau ikut, karena capek katanya. Mama juga sudah diajak ke Pantai (lokasi pavoritnya adalah segala yang berhubungan dengan air… lebih luas sudut pandangnya - itu kata Mama). Mama juga sudah diajak kemana-mana, tapi toh tidak berhasil membuatnya betah….

Menjelang sore tadi kutelpon kedua adikku, supaya mereka itu mengalah… mengijinkan Mama pulang tanpa harus menunggu jadwal tiketnya yang sudah dibeli sejak Desember yang lalu. Aku tidak ingin Mama menjadi sakit benaran karena merasa keinginan dan haknya untuk pulang ke rumahnya sendiri diabaikan. Adikku berjanji akan mengurus semuanya sebaik mungkin.

Sempat juga aku curhat kepada Honey tentang ini, saat kami telponan siang tadi (sampai batre abis dan terpaksa dilanjutkan dengan Chatting). Honey sudah mengingatkan aku sejak bulan yang lalu, bahaya dari mengabaikan kebutuhan psikhis orangtua dan dampaknya terhadap semangat hidup dan kesehatannya. Apa yang dikatakan Honey itu terbukti dialami oleh Mama saat ini. Aku menjadi sedih sekali…. Di satu pihak, akupun sudah bosan sendirian di Rumah selama satu setengah bulan ini, sejak kembali dari Yogya. Namun akhirnya kusadari juga bahwa kemerdekaanku untuk mengatur diriku akan ikut terkebiri jika Mama kembali nanti. Aku tidak akan bisa lagi sebebas ini mengatur hidupku. Karena memang sudah terbukti Intervensi Mama sangat dominan terhadap aku, dengan alasan: aku ini boru panggoaran dan boru sasada yang dia punya. Memang Mama tidak pernah punya rancangan yang jahat bagi hidupku, namun seringkali perspektif yang kita ginakan berbeda sehingga terjadi salah pengertian. Niat yang sama-sama baik akhirnya hasilnya berantakan. Tapi apapun… aku akan berusaha mengerti Mama, semampuku, sebagaimana pesan Honey padaku: “Mama tidak akan lama lagi menikmati perannya, jika Honey sayang padanya, apa salahnya membuat orang yang Honey kasihi merasa bahagia?”. Aku kembali teringat statemennya padaku di Valentine’s day seminggu yang lalu: KEBAHAGIAAN adalah KATA KERJA. So kalau aku ingin kebahagiaan, aku ingin membahagiakan Mama, maka aku harus mau bekerja untuk itu, meskipun akan banyak ketidaknyamanan dalam perjuangan mencapainya. Mampukah aku yang temperamental ini melakukannya??? 

Posted by Olin73 at 12:11:49 | Permalink | No Comments »

Friday, February 20, 2009

Bad mood….

Akhirnya… setelah absen seharian kemaren, aku kembali bisa buka lembaran catatan harianku ini. Kemaren itu hatiku sama sekali ga nyaman… letih, penat dan mengalami banyak hal yang terasa janggal dan menjengkelkan. Aku mengikuti Seminar di Hotel bintang lima di Kota Medan, Ballroom Hotel Grand Angkasa. Seminarnya diberi judul “KONSULTASI REFORMULASI DAN PENGUATAN PELAYANAN DIAKONIA HKBP”. Pembicaranya keren-keren, topik yang dibahas juga keren. Keynote speechnya orang no 1 HKBP, Ephorus… tapi karena banyaknya kesibukan beliau yang sama-sama menuntut perhatian, terpaksa diwakilkan kepada Praeses Medan, Pdt. SMP Marpaung. Ada juga Informasi tentang HIV/AIDS oleh Dr. Josia Ginting, tentang Bahaya Narkoba oleh AKP Tuty Herawaty dari Dept Penanggulangan Bahaya Narkoba POLDASU, Makalah Refleksi Masalah Pendidikan dan Partisipasi Gereja untuk meminimalisir permasalahan sosial di Indonesia dibawakan oleh DR. Bornok Sinaga, dan tanggungjawab manusia terhadap kerusakan alam pembahasannya disampaikan oleh Pdt. Gomar Gultom dengan memberi judul makalah: “Ketika Alam semakin Rusak, dimanakah engkau?”. Makalah terakhir yang sebenarnya membuat aku risih dan miris, sebagaimana pengakuan bapak Polin Pospos yang menyampaikan makalah “PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI KALANGAN WARGA GEREJA OLEH GEREJA”. Mengapa risih dan Miris? Peserta yang hadiri seminar sekirat 150 orang, padahal kursi yang tersedia untuk 200-an orang. Yang dibicarakan adalah penanggulangan kemiskinan, tapi yang membicarakan sedang duduk dengan nyaman di kursi empuk dan menikmati sajian Hotel bintang 5. Ironis memang…. Tapi begitulah. Bang Gomar bilang, penting Gereja mengkaji ulang, apakah mungkin meninjau kembali lokasi atau tempat yang dipakai untuk berseminar mengenai pelayanan Gereja dan kemasyarakatan. Karena dia juga baru pulang dari Sidang Raya PGI di Makassar, yang juga membahas tema yang hampir sama dan sama-sama dilakukan di Hotel bintang 5.

Sebenaranya pembahasan menarik, namun menurutku Panitia salah memperhitungkan waktu sesuai dengan kontent pembahasan. Apa mungkin 5 pembicara menyampaikan makalahnya bersama dengan tanya jawab hanya dalam 1 jam? Belum lagi Ibadah penutupan dalam schedule hanya 15 menit berubah menjadi 1 jam karena Pendeta yang berkotbah sangat bersemangat menyampaikan kotbahnya, sehingga lalai dan kurang sensitive melihat keletihan peserta Seminar yang sangat setia duduk mengikuti jalannya acara sejak jam 8.30 pagi sampai jam 7.30 malam? Ah…. Aku menjadi bad mood karena hal ini. Letih dan capek mikirin… apa kira-kira kontribusi yang bisa disumbangkan sebagai hasil dari Seminar yang menghabiskan budget puluhan juta ini bagi penguatan Pelayanan Diakonia di HKBP?

Pulang ke rumah suasana hatiku jadi terbawa bad mood. Belum lagi sepanjang hari aku lost kontak dengan’Honey’, karena kami berdua sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing? Dia disibukkan dengan 2 jadwal meeting, aku harus duduk manis mendengarkan buah-buah pikiran yang hebat untuk HKBP. Akhirnya Honey telpon juga, tapi aku juga ga ngerti dengan suasana hatiku. Jawaban yang kuberikan, tanggapan yang diberikannya sama-sama ga jelas juntrungannya, menurutku. Sebenarnya aku sadar, tidak adil bagi Honey untuk menanggung dampak dari kondisi psikhisku yang sedang komplikasi. Dia sadar bahwa kekasihnya ini memang butuh ditenangkan. Diberinya aku berbagai hal yang bisa mengalihkan pikiran yang kelewat nancap pada hal yang tak sanggup kupikirkan… namun aku justru menanggapinya dari sudut yang beda… aku menganggap dia terlalu mengalah untukku karena kasihan padaku… dan aku benci dikasihani. Honey mencoba terus membujukku, membuatku merasa nyaman, namun yang ada jadi salah paham. Sampai jelang tengah malam (hampir 3 jam ngobrol di telpon) aku belum berhasil menentramkan bathinku. Aku tidur dengan gundah yang membuncah… walau kekasihku memintaku untuk menuliskan semua kegelisahanku melalui e-mail dan mengirimkan kepadanya supaya hatiku lega…. tapi aku ga janji bisa melakukannya. Entah jam berapa aku benar-benar tertidur tadi malam…

Pagi ini aku bangun kesiangan sudah hampir jam 7, langsung mandi dan siap-siap pulang ke Siantar. Perjalanan dari Medan tadi diawali jam 10.15 pagi dengan Tulang, Nantulang, Ito, Eda dan Jeremy anak mereka. Aku nyampe di Siantar tadi jam 2. Seharusnya sebelum jam 1 siang sudah tiba, sayangnya menjelang Sei Rampah ada masalah dengan Dynamo mobil… terpaksalah diperbaiki dulu, takut kenapa-kenapa di jalan, karena Rombongan Tulang masih akan melanjutkan perjalanan ke Tarutung, menemui anak, manantu dan cucu mereka yang baru lahir Kamis malam kemarin jam 12.

Aku langsung ke Kantor dan menikmati kemewahan ini, bisa ngeNet, ngeBlog, ngeFeizbuuk-ria. Ini pengalihan yang manis untuk bad mood yang masih terus berlangsung… Belum lagi sepanjang hari ini aku dibuat agak kesal dengan beberapa janji yang yang ga ditepati. Entah kenapa… Beberapa hari ini aku agak aneh… mendadak melow…. gampang tersinggung, kelewat sensitif dan bad mood melulu. Mungkin ada orang yang tersinggung karena sikapku. Aku sendiri juga tersiksa dengan keadaan ini. Aku ga tau ada apa denganku… Tapi sudahlah.. kuharap Honey-ku ngerti, memahami, bukan dengan niat mengasihani….

 

Posted by Olin73 at 11:27:47 | Permalink | No Comments »

Wednesday, February 18, 2009

Kesulitan menulis

Sebenarnya tidak seorangpun yang pernah memaksa dan mengharuskan aku untuk setiap hari selalu menulis di blog ini. Tapi aku sendiri telah  membuat komitmen kepada diriku sendiri, mewajibkan diriku untuk melakukannya, karena aku memang mau belajar disiplin, konsekuen dengan komitmen pribadi. Persoalannya, ternyata tidak mudah untuk mendapatkan mood yang baik untuk menulis setiap saat. Dari tadi aku hanya melotot di new page blogku ini. Bingung apa yang harus kutulis dan dari mana aku harus mulai. Bukan karena tidak ada kejadian atau pengalaman yang bisa kubagikan, tapi aku memang kehilangan mood untuk menulis.

Sejak pagi tadi aku sedikit sibuk mempersiapkan beberapa bahan yang akan kubawa ke Medan. Tadi  pagi, secara tiba-tiba pimpinanku yang baru memberi instruksi (melalui SMS pula) agar aku membawa bahan-bahan itu sebagai pegangan untuknya saat mengikuti seminar Tahun Diakonia HKBP di Hotel Grand Angkasa-Medan. Mungkin inilah sebabnya.. suasana hati yang ketika tiba di Kantor sangat fresh dan peace berubah menjadi complicated.Gimana ngga? Panik donk klo apa-apa harus dikerjain buru-buru. Padahal aku sedang bergumul harus nginap di Medan malam ini. Aku benci dengan iklim Medan yang panas dan sering mengganggu kenyamanan tidurku. Mending kalo aku terganggu tidur karena asyik ngobrol dengan kekasihku….Itu kan gangguan yang menyenangkan dan diharapkan…

Tapi sudahlah… Walau sulit sekali bagiku untuk mencari ide bagi catatan hari ini, kutuliskan jugalah… walau aku ga tau bagaimana bobot dari apa yang kutulis ini (kesannya maksa sekali ya?!). Akhirnya aku harus mengakui kebenaran dari pernyataanku sebelumnya: bahwa menulis memang sangat ditentukan oleh suasana hati….

Aku sempat Chatting dengan Iyet, adik sepupuku. Kukatakan padanya kegundahanku.. belum lagi koneksi Internet yang agak kacau sejak pagi tadi: lambat dan eror. Saran singkat cute cousinku ini sangat simpel: “Teleponlah Abang itu, Kak… supaya ditenangkannya hatimu”. Tapi gimana mo nelpon kalo dianya lagi sibuk dengan segala keruwetan pekerjaannya? Aku juga ga boleh egois, menularkan aura negatif yang kurasakan kepadanya. Ternyata… beberapa menit kemudian kekasihku menelpon. Dan benar saja… dia memang berhasil mengurangi perasaan jengkel dan mood yang jelek yang sangat mempengaruhiku sejak tadi. Sederhana saja caranya memotivasi: “Honey… jangan kesal… katakan pada dirimu, ‘kecillah masalah itu… bisa kuatasi!’ Sederhanakan saja persoalan, kau akan nyaman…”. Aku kemudian diajak untuk berfikir yang manis-manis… tentang rencana dan programku ke depan, rencana perjalananku beberapa bulan ke depan, rencana kami bertemu di Yogra, trip to Kaliurang, atau mungkin dia yang akan datang bulan depan ke Siantar… Dia juga mengajakku berfikir, bagaimana kalo punya rumah di tepi danau toba yang berbatasan dengan di Balige atau Porsea. Dan itu impiannya sejak lama, di hari tuanya nanti… sehingga dia bisa menghabiskan waktu dengan santai dan tenang, sambil menulis tanpa pernah merasaterisolasi karena berharap bahwa sekian belas tahun yang akan datang koneksi Internet sudah bisa dinikmati merata di seluruh kawasan Danau toba.

Aku senyum-senyum…. kugoda dia: “emang rencananya akan menghabiskan hari tua dengan siapa di sana?”. Dia tertawa… “Iya ya? Siapa kira-kira yang mau menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, mengomeliku karena kebanyakan merokok, karena menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menulis, karena tidak bisa rapi dan terlalu berfikir praktis… karena….hahahaha”. Kujawab dengan ringan: “Iya, asyik juga kali kalo ngomelnya bukan dengan marah-marah, tapi dinyanyikan dengan cinta… Pasti tidak akan terjadi ketegangan… tidak akan pernah berantem… Indah ya hidup yang begitu”. Kami berdua tertawa ngakak. Itu asyik… bagaimana mewujudkannya??

Ah… aku koq jadi ngelantur kemana-mana ya? Aku masih bingung bagaimana aku harus menulis dan mengisi lembaran catatan harian di blogku untuk hari ini. Tapi berhubung aku sedang kesulitan menulis. Kayaknya tulisan ini tidak harus kuperpanjang lagi. Takut makin ngaco dan ngawur. Lagi pula aku memang harus segera berangkat ke Medan beberapa saat lagi. File-file yang kubutuhkan juga sudah selesai dicetak sambil aku menulis di sini. Mudah-mudahan di perjalanan nanti ada hal menarik yang bisa mengubah moodku jadi lebih baik lagi, sehingga lebih creatif dan ada yang bisa kutuliskan untuk blog ini besok hari. Tapi kalo jadwal seminarnya padat, apalagi sulit dapat koneksi internet… mungkin besok aku tidak akan menulis… karena bisa jadi juga aku masih kesulitan mencari ide unbtuk ditulis… Ada yang bisa bantu aku ga???

Posted by Olin73 at 07:12:59 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 17, 2009

Cara berkomunikasi

Sebenarnya aku bingung mau menuliskan apa di sini, karena terlalu banyak yang ingin kutuliskan dan kubagikan. Media ini takkan cukup untuk menampung semuanya sekaligus. Namun terlalu berat juga bagiku untuk menyimpan dan tidak mengatakannya. Hmmm…. mungkin aku akan cerita mengenai kejadian tadi malam saja ya….

Menjelang malam, pulang dari kantor… Setiba di Rumah aku mengirimkan Pesan singkat untuk kekasihku: “Malam sayang, Kutelpon tapi ga dijawab, masih meeting? Maaf klo aku ganggu ya?! Aku hanya mo bilang: aku tiba-tiba kengen banget padamu, sampe nyesak mo meledak.. Take care, Honey”. SMS ini kukirimkan karena 2 kali kutelpon tidak ada jawaban. Namun 20 menit kemudian, sehabis meeting dengan Sekum di Kantornya aku menerima Pesan singkat darinya sebagai balasan atas SMSku; Isi SMS kekasihku cukup membuatku senyum sipu: “Aku baru selesai, sekarang OTW pulang ke rumah. Aku harap dirimu tidak sampai meledak, Sayang…. karena aku ingin mendekapmu utuh”. Dan seperti biasa, beberapa menit menyusul aku menerima telpon darinya. Jam masih menunjukkan pukul 9.45pm ketika telpon dimulai. Banyak hal yang akhirnya kami perbincangkan, seperti biasa…: kejadian yang masing-masing kami alami sepanjang hari itu, rencana besok, dari hal sepele sampai yang serius, dari persoalan budaya, politik, agama, sampai hal-hal konyol yang akhirnya membuat kami berdua sama-sama tertawa. Dan perbincangan ditelpon berlangsung berjam-jam. Kami berdua mungkin harus berterima kasih kepada TELKOMSEL, Provider Telepon Selular yang mengijinkan kami menggunakan layanan mereka dengan tarif murah. Biasanya telepon akan terputus dengan sendirinya ketika durasi sudah mencapai 1 jam 59 menit 40-an detik. Kalau itu terjadi, dengan spontan masing-masing kami akan langsung menelpon kembali.

(Pernah suatu waktu, hampir selama 30 menit kami tidak pernah berhasil melanjutkan sambungan telepon karena ternyata keduanya sama-sama sedang melakukan panggilan telepon terhadap yang lainnya (sama-sama ga sabaran nunggu ditelpon).Akhirnya kami membuat komitmen, jika telpon terputus, maka yang menerima panggilan yang akan melakukan panggilan kembali. Adil kan??). Tapi kadang kala kami juga jengkel, kalo jaringan lagi padat, belum 15 menit panggilan akan terputus. Sampai-sampai pernah terfikir, TELKOMSEL tidak tulus memberikan fasilitas Tarif murah, karena sasarannya adalah 130 detik pertama (jika panggilan dilakukan malam hari) yang cukup mahal, apalagi jika dilakukan dari pulau Sumatra, akan berlaku skema berulang tiap 13 menit. Wuuuiiihhh! Nyebalin…!!!!

Dan tadi malam TELKOMSEL sedang baik hari kepada kami, sampai 3 kali telpon dilakukan benar-benar terputus karena sudah tiba saatnya (1 jam 59 menit 52 detik). Orang lain mungkin akan bertanya: “apa sih yang diomongin sampai 6 jam… hampir setiap hari…. apa tidak bosan dan kehabisan bahan cerita?”. Tapi disinilah letak keanehan dan keunikan  yang terjadi dalam hubungan kami. Bukan berarti kami adalah orang yang kurang kerjaan… Kekasihku bahkan bisa punya 3-4 jadwal meeting (work task) sepanjang hari kerja sampai malam. Belum lagi dia harus mengorganisir beberapa project sosial berbasis idealisme… Sehingga sangat jarang memang di siang hari kami punya waktu untuk ngobrol lama. Yang pasti komunikasi tetap jalan, sekalipun hanya sekedar untuk mengucapkan: “selamat pagi, menanyakan apa sudah makan siang, atau hanya  sekedar untuk mengucapkan kata-kata manis yang menyemangati dalam bekerja”. (“gangguan yang diharapkan dan mengasikkan”, itu istilah yang selalu dipakainya untuk menggambarkan suasana berkomunikasi kami).

Ada hal esensial yang kami bicarakan malam tadi… sebenarnya topiknya menegangkan dan bisa memicu konflik, jika cara penyampaiannya meleng dikit saja. Ini masalah prinsipil dan pandangan terhadap sesuatu yang sangat erat dengan manusia dan kemanusiaan, kebutuhan jasmani dan rohani, prinsip hidup, dan lain sebagainya. Pokoknya sangat personal. Namun kembali aku harus bersyukur dihadiahi Tuhan seorang kekasih baik hati yang sangat mature dan dewasa dalam menghadapi masalah… Sebelum akhirnya menjadi ketegangan yang tak terjembatani, dia berhasil memecahnya menjadi tawa renyah… (Untung saja Mamaku masih di Kalimantan, kalo gak, pasti aku sudah habis diomeli sampai pagi karena sibuk mojok sampai pagi. Diapun harus setengah berbisik ngomongnya, karena takut ketauan orang seisi Rumah di Jakarta sana…). Cara berkomuniaksi… ini yang kupelajari darinya.. Bagaimana dia bisa mengendalikan alur percakapan sehingga tidak sampai membosankan. Padahal dia bukan alumni sekolah Public speaking,  juga ga pernah mengecap pendidikan di sekolah kepribadian. Tapi dia punya kemampuan yang sangat baik untuk itu. Aku iri.. dan itu kuutarakan padanya… Aku dengan tulus mengagumi dan memujinya, bukan karena pertimbangan “personal”, karena dia kekasihku, tapi lebih kepada kejujuran untuk melihat dan menilai abilitynya. Itu saja…

Sejujurnya, di hati kecilku juga muncul tanda tanya… “koq bisa aku jadi orang yang sangat sabar mendengar orang lain bicara, padahal aku ini seorang Sanguine Populer yang cenderung Narcis (wuiiihhh). Aku katakan bahwa itu karena ada sisi dari kebutuhan rohani, kebutuhan bathin yang terpenuhi, meski hanya dengan bicara lewat telepon, dibentang jarak yang sangat luas (aku coba liat di googleearth, lumayanlah jauhnya kami terpisah). Pertanyaanku dijawabnya dengan pernyataan: “Aku juga keran dengan diriku… kenapa aku sanggup melakukan ini, tanpa rasa bosan atau jengkel sedikitpun… karena aku sedang bicara dengan perempuan hebat, yang sejak awal sudah membuatku terpesona… ya, kau memang berbeda, Honey…!!” (wow… so sweet….). Mungkin disinilah letak kekuatannya. Tidak mudah memelihara keselarasan perasaan dan fikiran tanpa kontak nyata, bertemu fisik, face to face. Tapi untuk kami itu terjadi. Dan bagiku ini adalah muzizat, miracle. Konyol mungkin karena kami hanya pernah bertemu beberapa jam di awal tahun ini, namun semua yang ada di dalam momen biasa-biasa saja itu bisa kami ingat dengan jelas… Dan itu yang kami resapi… sehingga bisa merasakannya, percakapan yang bukan hanya meninggalkan kehangatan di sekujur tubuh, tapi juga melegakan dalam hati… Inilah kekuatan dalam cara berkomunikasi, ketika kita bersedia memberi telinga dan hati untuk meraih perasaan dan hati pasangan kita…. Kiranya ini bisa terus kami pelihara…. Karena tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, duduk bersama di “meja yang bundar”.

Perbincangan tadi malam ngalor ngidul kemana-mana… dan ga terasa sudah menjelang subuh, belum sedikitpun terasa mengantuk. Hanya karena sadar kalo pagi harus berangkat ke Kantor dan kerja lagi… sementara perjalanan dari Rumah ke Kantornya sekitar 3 jam (Jakarta emang craowded dan biangnya macet), akhirnya telepon harus diakhiri. Memang terasa berat… karena berkali-kali telepon mau diputus, dia kembali mengatakan: “Aku sangat tidak ingin mengakhiri kebersamaan dalam perbincangan ini… tapi ini dilema sih… Aku akan merindukanmu, dalam mimpiku” (apa iya masih sempat mimpi klo berangkat tidurnya sudah hampir jam 4 pagi sementara jam 6 harus sudah bangun lagi??).

Dan pagi tadi… aku terbangun dengan sangat fresh dan bahagia… (walau hanya sempat tidur kurang dari 2 jam). Yang pertama kusyukuri adalah mutu dari percakapan kami, membuat tidurku sangat nyenyak dan berkualitas. Kuambil ponselku, kukirimkan SMS padanya: “jika KEBAHAGIAAN adalah kata kerja, aku mau bekerja keras untuk itu. Aku mau kau juga membantuku, supaya selalu ada inspirasi untuk menghadirkannya. Karena aku ga mau kehilangan apa yang kurasakan saat aku menyelami hatimu”. Dan seperti biasa akan segera ada jawaban dari seberang sana: “Aku kagum padamu, Honey.. pada semangat yang tak bisa patah, pada kegigihan untuk tak menyerah meski dikalahkan berkali-kali, pada keteguhan hati untuk membuat bermakna segala yang sia-sia, dan pada keberanian menjadi diri sendiri sambil menyembuhkan semua luka”. Disinilah letak kekuatan cara kami berkomunikasi… Dia tau apa yang kubutuhkan: bukan belas kasihan, atau pembelaan membabi-buta, tapi dukungan yang membuat hidupku berwarna pelangi…. demikian sebaliknya. I love you, honey…. day by day… more deppest!

Posted by Olin73 at 06:40:41 | Permalink | No Comments »

Monday, February 16, 2009

I do like Monday….

Ini hari pertama masuk Kantor. Banyak orang bilang : “I don’t like Monday”. Dulu sih aku ga ngerti kenapa… toh menurutku semua hari sama saja. Namun akhirnya aku paham kenapa hari Senin itu menjadi hari yang kurang disukai, karena merupakan hari pertama dalam satu Minggu untuk memulai aktifitas. Jadi buat “orang Kantoran” ini memang agak menyebalkan. Bayangkan harus kembali berhadapan dengan tumpukan file-file dan pekerjaan yang pending selama Kantor libur Sabtu dan Minggu. Selain itu akan terjadi perubahan ritme hidup dari bersantai di Weekend menjadi serius di hari pertama.

Kalo bulan-bulan kemaren, aku juga berpikiran sama dengan orang-orang kebanyakan.. nyebalin kali harus kerja lagi abis liburan…. Tapi hari ini aku berubah memandang hari Senin / Monday. Setelah terjadi lost Contact dengan kekasihku sejak Sabtu sore sampai Senin subuh, akhirnya aku bisa berkomunikasi lagi. Tadi pagi aku menerima Pesan Singkat yang membuat hatiku tergetar: :”Semalam aku memelukmu dan menciummu….. dalam mimpi. Aku terbangun dan merasa kecele, tapi rindu dan hasratku padamu tetap membara”. Hatiku langsung tenang dan damai menerimanya, karena 5 menit kemudian kekasihku menelpon dan menceritakan semua yang dialaminya selama lebih dari 48 jam terputus kontak denganku. Dan aku mempercayainya, karena tidak jauh dari apa yang kupikirkan dan kubayangkan. It’s OK Dear… Aku mendukungmu dan berdoa juga untukmu dalam pergumulanmu….

Terkadang menghadapi masalah dibutuhkan ketenangan dan kearifan. Dan itu yang ditunjukkan kekasihku dalam perjalanan cinta kami, bagaimana cara bertutur, menjelaskan hal-hal yang tidak kupahami, menenangkan kegelisahanku, bukan dengan rayuan gombal yang menyesakkan, tapi dengan sangat lugas dan tegas… namun tidak menyakiti atau membuatku kecewa. Bahkan sungguh-sungguh harus kuakui.. banyak yang berubah dalam diriku karena dia… bukan karena aturan-aturan yang membuatku merasa kemerdekaan dan kebebasanku terpenjara, tapi Dia berhasil membuatku berubah dengan kesadaranku sendiri.. karena aura energi positif yang setiap hari ditularkannya padaku.

Aku serasa terbang ke langit ketika dia kembali mengirimkan Pesan singkat 5 menit setelah percakapan kami di Telepon berakhir: “Setiap kali aku merasa Honey sedang berusaha menjangkauku, ada rasa hangat melumuri jiwaku, ada kesadaran yang kuat dan membahagiakan: ternyata aku dicintai, dibutuhkan, diinginkan dan dirindukan. Terima kasih Olin”.  Sebagai balasannya aku kembali menelponnya, untuk mengucapkan terima kasih atas cintanya yang kurasakan mengubah warna hidupku. Dan seperti biasa…. ada damai dalam bathinku… Disinilah kekuatan cinta kami.. saling membutuhkan dan saling menguatkan. Aku merasakan kehadirannya adalah berkat untuk kesendirianku yang sudah berlangsung sangat lama…. 7 tahun bergumul dalam ketidakpastian… Dan dia juga mengakui kehadiranku sebagai penyemangat yang memberi nuansa “merah jambu” dalam kondisi hidupnya yang porak poranda selama enam tahun terakhir…. Bahkan setiap hari dia selalu merindukan “gangguan yang mengasikkan dan ditunggu-tunggu”, berupa telepon atau sekedar Pesan singkat… separah apapun kesibukan yang menumpuk di meja kerjanya… Dalam hati aku bergumam: ‘hmmmm perasaan kita sama, Sayang.. Justru aku selalu menunggu diganggu lebih sering!!”

Aku bersyukur menemukan dia dalam perjalanan hidupku.. tidak perduli itu terlambat atau terlalu cepat. Yang pasti… bersamanya aku sangat bahagia… kukirimkan juga Pesan singkat untuknya: “Kian hari chemistry itu kian kuat. Aku ingin selalu ada dalam tiap helaan nafasmu sebagaimana aku merasakan kehangatan cintamu dalam detak jantungku. I need you coz I love you, Dear….”. Dan hanya 2 menit dia juga menelpon kembali sekedar mengatakan” I love you, Olin… I miss you..”.

Aku suka hari senin, I like Monday… karena biasanya lebih banyak cerita yang bisa kami sharingkan di hari senin, mencuri waktu disela-sela tumpukan kerja yang tertunda…. Thanx to be mine, Honey…

Posted by Olin73 at 10:21:43 | Permalink | No Comments »