Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak bertanya tentang calon suamiku, aku menantinya menjemputku di tempat yang Tuhan sediakan, dan satu hal yang pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Tuhan. Sehingga aku nikahi seorang suami yang tegar, bertanggungjawab, mencintaiku, menerima apapun keadaanku dan berbati kepada orangtua.
Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan calon suamiku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.
Ketika Tuhan menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan calon suamiku, yang rasanya akan sulit aku tandingi.
Ketika Tuhan menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Ya Tuhan, jadikan dia, seorang laki-laki, suami dan ayah anak-anakku kelak, yang dapat bersamaku bergandengan tangan menuju jalan SurgaMu. Amin.
Sahabat-sahabatku, ketika Tuhan menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…., yang….., yang….., dan 1000 “yang”…… lainnya. Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan. Ketika kebersamaan dua insan teruji oleh waktu dan berjalan dalam Takut akan Tuhan.
Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, tidak akan ada ego yang menonjol, yang berkeinginan menguasai satu terhadap yang lain, yang ada hanya saling menolong, menganggap seorang lebih utama dari dirinya sendiri, saling mengasihi, saling melayani sebagaimana kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan.
Sahabat-sahabatku, ketika usiaku 22 tahun, saat menyelesaikan studyku, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Tuhan dengan banyak kriteria dan dengan tanda-tanda yang aku tetapkan supaya Tuhan kabilkan. Meskipun saat itu aku memiliki kekasih, Tuhan belum mengabulkan niatku.
Ketika usiaku 25 tahun, saat aku mulai memasuki dunia pelayanan dan karirku, aku juga berkeinginan menikah. Namun kekasih yang kupunya ketika itu tidak lolos memenuhi syarat dan kriteria yang diinginkan oleh orangtua dan keluarga besarku. Akupun gagal sampai kepada tahapan perencanaan dan persiapan untuk menikah.
Saat usiaku 27 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang syarat dan kriteriaku untuk jodoh kepada Tuhan. Rupanya masih terlalu banyak. Dan akhirnya aku menikah, dengan orang yang kukenal ketika pelayanan di Gereja. Semuanya Indah di masa 6 bulan penjajakan…. keluarga calon Mertua juga sangat manis kepadaku. Calon suamiku juga sangat care terhadapku. Dan aku merasa sangat nyaman dengan hubungan yang kami bina, meski hati seorang Bunda-Ibuku agak terusik karena beberapa pertimbangan personal yang tidak ingin dia diskusikan terbuka denganku. Namun aku mengabaikan faktor itu, kuanggap tidak terlalu berpengaruh, kukira tidak ada lagi hambatan untukku melanjut ke jenjang pernikahan.
Dan akupun mendoakan rencanaku, kukatakan kepada Tuhan apa yang kurasakan, kuinginkan, kuharapkan dan kurencanakan. Sejauh kenyataan, semua berjalan seperti apa yang kuharapkan. Aku memang tidak lagi terpaku pada kriteria jodoh yang sejak lama kuimpikan, aku tidak lagi terlalu memaksa agar semua keinginanku menjadi kenyataan, akupun belajar mensyukuri bahwa apapun yang sedang berlangsung berada dalam sepengetahuanNya.
Pernikahan yang mewah (ini sama sekali tidak pernah hadir dalam impianku) akhirnya digelar. Gedung yang megah, tamu dan undangan yang melimpah merayakan hari di mana aku dan suamiku menjadi ratu dan raja sehari. Limpahan hadiah, ratusan ulos, karungan beras dan entah berapa banyak amplop berisi kartu dan bingkisan mewarnai pernikahan tah terfikirkan itu. Aku bahagia, suamiku juga tersenyum gagah…. Mungkin dia bangga berhasil menyunting aku menjadi istrinya. Meski lelah, pulang dari gedung usai menyelesaikan semua rangkaian acara Adat, keluarga besar kami tampak lega. “Akhirnya…..” itulah mungkin yang mereka fikirkan.
Aku memulai hari pertama pasca pernikahanku dengan ketaatan kepada suami sebagaimana ketaatan kepada Tuhan, yang menjadi alasan aku untuk menikah. Namun rasanya aku bertepuk sebelah tangan. Apa yang terasa indah dalam 6 bulan perkenalan dan penjajagan, berubah menjadi drama tragis yang menguras air mata. Hari berlalu tanpa kemesraan dan limpahan kasih sayang, Minggu berganti dengan warna kekerasan yang menyesakkan, bulan berjalan dengan kehampaan dan di akhir tahun kedua semuanya harus berakhir tanpa tuntas penyelesaian.
“Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah”, ternyata tidak meninggalkan damai sejahtera dalam perjalanan hidupku. Aku tidak tau dimana letak kesalahannya: apakah aku kurang gigih menggumulkannya, ataukah Tuhan memang merancangkan jalan hidupku harus melewati semua ini, karena dia punya skenario lain dalam kelanjutan hidupku di masa depan?? Tapi aku tidak mau mempersalahkan Tuhan, tidak akan pernah…. Keputusan yang kubuat dengan kesadaran yang kuat, tanpa tekanan siapapun. Dan aku terima serta jalani babak kehidupanku selanjutnya dengan pasrah dan berserah……
Tujuh tahun berlalu tidak seperti apa yang kumau. Aku memiliki kesadaran yang kuat, ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka aku harus berserah pada rancangan Tuhan untukku. Kuingat bahwa Tuhan memang tidak pernah berjanji akan selalu ada mata matahari, atau akan melulu hujan… Tapi Tuhan akan memperhitungkan setiap tetes airmata, mengenal hatiku yang penuh kepasrahan…..
Lalu sekarang… setelah 7 tahun, aku menemukan jalan menuju kebahagiaan. Kuyakini itu dengan hati karena belum pernah pengalaman ini kualami sebelumnya. Salahkah jika aku kemudian berfikir, inilah jawaban atas kepasrahan dan ketaatan memikul salib untuk pergumulanku? Bolehkah aku berharap bahwa kehadiran seseorang yang sangat mempengaruhi seluruh irama hidupku selama 2 bulan terakhir ini sebagai rencana Tuhan yang manis untuk hidupku. Setiap hari selalu ada komunikasi yang baik antara aku dan dia… semakin lama semakin dalam dan larut kepada saling memahami, tanpa hasrat untuk bersandiwara atau menyembunyikan kenyataan yang ada, kubuka semuanya kepada dia. Diapun sangat bisa memahami, bahkan memiliki chemistry yang sama kuatnya dengan apa yang kurasakan. Aku memang tidak mau punya ekspektasi yang terlalu tinggi akan masa depan dari relasi yang masih seumur jagung. Aku juga tidak mau berharap terlalu besar akan kebersamaan yang manis ini. Aku hanya mau menikmatinya sebagaimana air mengalir…. biarkanlah waktu menguji… dalam perjalanannya akan ada batu karang yang mungkin memecahnya menjadi buih, akan ada riak-riak berupa gelombang yang menghadang, dalam proses menyesuaikan diri sampai kepada satu pemahaman, meski tidak harus selalu seragam, namun ada toleransi dan saling pengertian. Aku hanya mau menikmati setiap hari berlalu sebagai sebuah episode dimana Tuhan menjadi sutradaranya.
Aku tidak merasa cantik, karena itu aku tidak berfikir harus mencari yang tampan. Aku tidak mempersoalkan harta yang cukup, karena aku sadar bahwa hartakupun tiada. Aku tidak menuntut dia harus baik, karena aku sadar aku juga tidak cukup baik. Aku tidak meminta dia harus mengerti aku, karena belum tentu juga aku bisa sepenuhnya mengerti dirinya. Aku tidak minta dia harus pintar, karena akupun belum tentu sepintar apa yang dia inginkan. Akhirnya aku hanya meminta sedikit: “Ya Tuhan, berikan pada kami hati yang terbuka, yang mau menerima satu sama lain apa adanya, jadilah kehendakMu! (Tapi aku percaya Tuhan tetap mempertimbangkan kebutuhan kami).”
Dan aku akan terus menjalani hari-hari ini dengan suka cita, menerobos berbagai rintangan di depan sana. Dengan pengalaman kegagalan sebelumnya, berharap aku bisa membuat keputusan yang lebih baik, yang sungguh-sungguh bersasar kepada dalil: “Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah”. Sehingga aku tidak akan pernah menyesal lagi… selamanya. Karena ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, isak tangis akan berubah menjadi damai yang membahagiakan. Dan aku akan bersabar menanti saatnya tiba…..