Tuesday, March 10, 2009

Rumah kayu di tepi danau dan Novel biografi

Sudah 5 hari aku absent menulis. Aku bukan sengaja, namun kesibukan yang menyebabkannya. Beberapa hari yang lalu, aku harus ke medan, mendukung kegiatan aksi “tolak politisi busuk, dukung caleg perempuan” dalam rangka peringatan Women’s International Day, seyogyanya dirayakan 8 Maret, tapi karena sesuatu dan lain hal, LSM PESADA dan JARAK PEREMPUAN (Jaringan Aktivis Perempuan) Medan mengadakan aksi Damai di Lapangan Merdeka dan rally ke Bundaran tugu SIB di Gatsu Medan. Lumayan melelahkan kegiatan itu… Mana sorenya ada insiden yang ga enak, penumpang Bis kebanyakan, sarananya ga memadai, Taxi juga full, aku terancam ga bisa pulang…. Untungnya aku bareng Maman, meskipun dia laki-laki tapi sangat mendukung bahkan menjadi aktifis gerakan Perempuan.

Sepanjang perjalanan yang kurang nyaman itu, Honey terus ‘menemani’ dengan percakapan di telepon. Ada rasa nyaman karena aku tidak merasa sendirian.  Memang percakapan terpaksa terputus karena HPnya Low Batt, padahal Honey juga sedang dalam perjalanan. It’s OK… Aku ngerti, itu ga disengaja… Aku akhirnya tiba di rumah jam 11 malam. Dan 1 jam kemudian Honey telpon koq, jelasin percakapan yang terputus itu… dan kami berbincang sampai pagi… sampai habis cerita yang bisa dibagi.

Dalam percakapan itu tercetus niat untuk mendirikan sebuah pondok kecil di tepi danau Toba, mungkin di sekitar Meat atau Tao Silalahi. Akan kami tinggali 15 tahun yang akan datang, setelah dia merasa cukup waktunya untuk meninggalkan semua aktifitasnya, dan total menyerahkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Di sana, di pondok kayu aren dan bambu itu kami akan menghabiskan hari-hari dengan bahagia, bersama…. so sweet…

Tiap hari keinginan untuk membangun pondok itu makin kuat. Terpikir untuk menyisihkan beberapa rupiah setiap hari dari pengeluaran rutin yang masih mungkin ditekan supaya tidak menjadi pemborosan. Tadi malam kami kembali teringat dengan pondok mungil yang ada dalam angan… bagaimana kalau kami menuliskan kisah cinta kami ini sebagai sebuah Novel biography. Honey sangat yakin bahwa Novel ini akan laris manis karena mengukir kisah hidup 2 anak manusia dalam petualangannya di dunia ini, akhirnya harus terpaut dengan cara yang tidak biasa. Belum lagi pengalaman dan pergumulan hidupku selama 9 tahun yang sangat real akan menjadi kekuatan dan ruh dari kisah itu. Honey juga punya kisah yang sama kuatnya memberi nuansa dalam novel itu… akan sangat mengguncangkan dunia, minimal dunia orang-orang di sekitarku. Latar belakang kami berdua yang menjadi ornamen kecil dan kebetulan berada di antara “orang-orang besar”, dalam lembaga yang settle dan mungkin sulit menerima perkembangan yang mengejutkan, seperti cerita kami…

Aku berfikir, ada baiknya cerita ini di share, supaya orang juga bisa memetik pelajaran tentang kehidupan dan realitasnya, yang terkadang tidak konvensional. Tadi malam, sesaat setelah kami mengakhiri bincang di telepon (karena Honey harus menulis beberapa artikel untuk pimpinannya dan untuk organisasi di mana dia mendedikasikan dirinya sebagai wujud idealisme), Honey mengirimkan sebuah SMS: “Dalam lamunanku, kita berdiri di beranda, menatap danau keperakan ditimpa cahaya purnama. Aku memelukmu lekat dari belakang, sambil menghirup aroma rambutmu. Kita jadi kanak-kanak yang riang dalam pelukan alam raya”. Aku tersenyum… Rumah kayu di tepi danau masih sebatas angan, tapi Honey sudah melamunkan banyak hal  untuk cita-citanya itu.

Dalam hati aku bergumam… kiranya TUHAN merestui… jangan biarkan kebahagiaan yang kami rasakan hanya tinggal sebagai kenangan… biarlah DIA juga menolong kami untuk mewujudkan bahagia ini… dan untuk itu kami harus bekerja, karena kebahagiaan dan Cinta adalah Kata kerja…. Kita akan sama-sama bekerja mewujudkannya bukan, Honey???
 

Posted by Olin73 at 09:48:47 | Permalink | No Comments »

Thursday, March 5, 2009

Malas… achhh!!!!!!

Hmm… sudah beberapa hari ini aku malas menulis, malas mengupdate blog ini. Ga tau kenapa…Sebenarnya bukan karena ga ada cerita yang bisa kutuliskan, secara sehari ada 24 jam yang penuh dinamika. Boleh jadi kemalasan menulis muncul karena aku agak sedikit disibukkan dengan persiapan Test di Yogya bulan depan: aku harus nyari dan mengcopy buku Dietrich Boenhoeffer yang textnya full English, aku harus selesaikan 5 buku Gerrit Singgih yang sampai sekarang masih on the way dari Jakarta (untuk yang satu ini aku terpaksa minta tolong Honey nyari di Kwitang, tapi laaaammaaaa…bangeeeettt nyampenya??). Tapi yang pasti alasan itu ga keren banget… Artinya, aku sudah melanggar komitmenku kepada diriku sendiri.

Kemalasan mungkin hal yang tidak menjadi masalah, apalagi jika sudah dipelihara dan dibiasakan. Ini pula yang menyebabkan aku sering “ribut” dengan Mama, karena Mama menganggap aku sangat pemalas, apalagi menurut standardnya dia yang emang sangat luar biasa rajinnya.Sering tuh cerita tentang Malas jadi sumber pertengkaran dari tingkat kecil-kecilan sampai yang gede-gedean… Wuiihhh!!!! Gimana ya cara mengatasi malas? Orang Rupat bilang: “ko’ ade obatnye”. Aku suka ngiri tuh sebenarnya sama orang yang rajin, apalagi yang super rajin seperti Mamaku. Tapi aku juga suka kasihan sama Mama, karena kerajinannya membuat Mama kebanyakan ngeluh: “aku capek, ga ada waktu istirahat, dari pagi belum berhenti sebentarpun, aku sampe ga sempat makan….dll, dsb..”. 

Terkadang jika sudah kesal aku suka nyahutin Mama: “salah sendiri! Siapa suruh juga kebangetan rajin?? Wong yang atur hidup kita ya diri kita sendiri… Mbok ya istirahat, nyantai dikit….” Tapi dasar Mama, santai itu adalah “dosa” baginya, sayang kalau ada hari-hari atau waktu yang terbuang percuma tanpa berbuat sesuatu. Hmmm…. Mo diapain lagi, itulah prinsip hidupnya. Kalau difikir-fikir sebenarnya Mama ga salah juga, justru karena kerajinan yang luar biasa dia bisa melahirkan, mangasuh, mendidik, bahkan mencari uang untuk support kebutuhan sekolah dan kesejahteraan keempat anakny dengan baik tanpa bantuan pengasuh atau pembantu. Beda banget sama kedua Edaku (Istri adik laki-lakiku), yang masih punya 2 anak sudah keteteran kemana-mana. Tapi kedua Edaku juga ga bisa disalahkan, mereka punya prinsip yang rada sama dengan aku, “bukan kerjaan yang mengatur diriku, tapi aku yang harus mengatur apa yang akan kukerjakan”. Hidup kita bertiga rada nyantai. Akibatnya ya suka keteteran sendiri, yang rugi ya diri sendiri juga.

Aku sih ngadu juga ke Honey… Sudah beberapa hari ini kayaknya males nulis di blog ini. Aku merasa bersalah karena udah jadi orang yang komit pada diri sendiri, gimana aku bisa komit ke hal lain ya??? Tapi dasat si Honey, dia emang ga pernah mau matahin semangatku. Segimananya juga dia mo kritik aku selalu pake cara yang paling halus.. sampe aku sedih sendiri, jangan-jangan Honey kebanyakan ngalah hanya untuk nyenang-nyenangin hatiku, begitu ga kuat lagi meledak deh akumulasi kegelisahan yang dipendam-pendam. Tapi Honey bilang, sesekali malas itu biasa, ga harus maksain diri nulis. Ato kalo takut merasa bersalah, tuliskan aja announce di blogmu dengan satu dua kalimat: “lagi blank, ga ada ide!”, “Lagi sibuk”, atau apa aja.. Jadi tetap punya self confidence klo udah berusaha koq memenuhi kewajiban…. Aku nyengir aja, paling bisa deh Honey ngeles…

Tapi begitupun ada benarnya, mungkin tulisan hari ini ga jelas juntrungannya, aku hanya mau bilang, aku emang lagi malas nulis, dan yang kutulis ini juga terpaksa kulakukan, karena aku ga bisa berdamai dengan feeling guilty karena sudah absent beberapa hari. Ah… aku akan berusaha ga malas lagi besok-besok ya….

Posted by Olin73 at 08:59:47 | Permalink | No Comments »

Tuesday, March 3, 2009

Aku ga bisa ngomong langsung.. jadinya nulis disini….

Selamat siang Sayangku… Aku mau bikin pengakuan dulu ya…. Sesungguhnya aku sangat menikmati kebersamaan kita day by day…. Hari ini aku mengawali pagi dengan manis bersmamu. Mama lagi pergi sehingga sejenak aku menikmati romantisme bersamamu meski sebentar. Sebagaimana biasanya, kita membiasakan diri mendiskusikan banyak hal mengenai kita setiap hari dan aku menikmatinya sebagai brain storming (kalo terlalu keras disebut sebagai proses brain washing). Aku banyak dapat pelajaran berharga yang menuntun aku pada kemampuan untuk merubah mindset.

Menjalang siang tadi, entah mengapa kita tiba-tiba membicarakan masalah itu, masalah yang sebenarnya bukan masalah jika tidak dipermasalahkan. Aku sadar… selama ini aku kayaknya telah lumayan banyak intervensi (sekalipun sebatas saran, permintaan, harapan) terhadap kehidupan pribadimu: menyangkut Rokok, nge-Net, pola hidup, pola makan, kesehatan dll)… yang secara langsung tidak ada hubungannya dengan diriku.

Sejujurnya aku terganggu dengan kalimat (yang sebenarnya kau pinjam dariku): “Silahkan ditinjau ulang, Honey….”. Aku sedih dan merasa kau takut-takuti Honey: “kekasihmu ini beli ember dan gayungpun ga sanggup, jadi perlu ditinjau ulang”. Walau aku sudah menjawabnya: I’m fine, it’s OK… ga masalah…. (aku yakin masih ada yang bisa diarrange dan dibargain, selama ada kejujuran, ketulusan dan kerelaan menyikapinya dengan egaliter). Namun koq dikau menggunakan kata “Tinjau ulang” untuk topik yang satu ini agak sedikit kebanyakan ya? Perasaanku sontak berubah, moody jadi bad, I lost my spirit dan kayaknya ga pingin ngapa-ngapain lagi hari ini. Drop dan blank banget kurasakan seketika.

Fikiran khas perempuan batak (berfikir terbalik) mendadak kerja: jangan-jangan Honeyku ini sengaja menyuruh aku meninjau ulang karena sebenarnya Honey yang sudah ga mulai jengah menghadapi aku….?? Kenapa berkali-kali aku disuruh tinjau ulang hanya untuk topik yang sama??? Mungkin aku tolol membiarkan perasaan mempengaruhi fikiranku: “mungkin ini signal dari Honey untuk mengingatkan aku bahwa dirinya sudah mulai ga nyaman bersisian denganku… Tapi ga tega harus ngomong langsung???” Waduh.. bodoh kali aku ya??? Tapi itulah yang spontan muncul dalam fikiran dan hatiku. Mengingat, menimbang apa yang kulakukan selama kurang dari 1 bulan ini….

Sayang… aku tidak ingin membebanimu dengan berbagai masalah… kalo kehadiranku membuat irama hidupmu berubah menjadi ga nyaman, belum terlambat bagimu untuk mengembalikannya kenyamananmu, tanpa diriku…. Aku ga mau semua plan-ku di bulan April akan menjadi beban bagimu. Semua itu bisa dibatalkan, toh perasaanku padamu tidak butuh pengorbanan yang sedemikian besar. Secara samar-samar aku menangkap bahwa kehadiranku akan menimbulkan masalah baru bagimu….

Honey, maafkan aku (meski kau katakan: no need for sorry, cinta akan bisa mengerti dengan sendirinya kalaupun ada kesalahan yang dilakukan tanpa kata maaf)…. aku mendadak sensi, ga jelas kenapa. Mungkin karena aku makin nervous dengan semakin mendekatnya jadwalku ke Jakarta dan waktu bertemu dikau kian besar. Tapi ini juga tidak bisa kujadikan pembenaran bagi diriku untuk ketidakmampuan mengelola perasaanku…

Tapi jujur, aku memang sedih sekali… Selama ini dikau juga tau bahwa aku selalu krisis percaya diri menyangkut hubungan kita… aku tidak yakin bahwa diriku cukup layak menerima semua perhatian, kasih sayang, pengertian dan cinta darimu… Aku selalu tidak percaya bahwa tersedia banyak stok dalam hatimu untuk memahami diriku…. aku ragu dengan diriku sendiri… aku ditakuti oleh fikiranku sendiri - begitu dikau menilai aku.

Perasaan yang muncul saat ini begitu nyesak, aku pengen nangis, tapi air matanya ga mau tumpah, aku ingin menuntaskan apa yang mengganjal di hatiku, tapi hatinya ga mau meledak…. Aku senewen, Honey.. mungkin hanya dengan menuliskan messege inilah perasaanku bisa sedikit kudamaikan. Tapi terlepas dari semuanya… Dengan tulus dan jujur aku kembalikan padamu: seleksilah, tinjau ulang… mungkin aku benar-benar bukan orang yang tepat menjadi partnermu meneruskan semua idealismemu, karena aku  mungkin tidak pernah benar-benar punya kemampuan untuk memahamimu seperti yang engkau lakukan terhadapku. Kita tidak ballace, Honey.. dan aku tidak ingin dikau berkorban terlalu banyak untukku… Aku tidak butuh dikasihani…

Maafkan aku, Honey…

Posted by Olin73 at 08:48:32 | Permalink | No Comments »

Sunday, March 1, 2009

Ternyata…..

Beberapa hari terakhir ini kondisi emosional dan psikhisku benar-benar gak stabil. Dari hari yang sangat riang gembira bisa sontak sedih sekali (sampai ‘terdengar sangat lirih’, kata Honey). Aku juga sebenarnya terganggu dengan kondisi itu karena membuatku menjadi ga nyaman. Aku jadi serba salah, lawanku berkomunikasi lebih serba salah lagi. Dan yang paling bisa merasakan kondisi yang berubah drastis itu adalah Honey, karena dengannyalah aku paling intens berkomunikasi.

Aku kesal dengan perasaanku itu. Selera makanku juga turun drastis… (sebenarnya ini blessing karena berat badanku ikut menyusut, dan itu memang sangat kuharapkan, bukan karena takut gendut jadi klihatan jelek, tapi lebih kepada rasa nyaman yang terganggu karena badan sulit dibawa bergerakk dengan lincah). Berkali-kali kukatakan kepada Honey, koq rasanya nyesak banget… tapi aku ga tau kenapa dan ga akibatnya juga jadi bingung menjelaskannya. Honey lebih bingung lagi, karena ternyata dia bisa merasakan ada yang ga beres dengan perasaanku. Berkali-kali juga kucoba mengelak (menyembunyikannya dari Honey), karena aku ga mau dia jadi susah mikirin aku. Tapi seringkali terbongkar juga, karena Honey dengan kesabaran dan pengertiannya berhasil membangun rasa nyaman yang membuatku yakin mengatakan apapun padanya.

Kemaren itu, waktu  kami lagi ngobrol, kuceritakan pendapat teman-temanku tentang diriku. Honey komentar bahwa teman-temanku mungkin bercanda, mereka ga mengenali aku dengan baik, jangan dibawa serius… eh aku justru menanggapi: “masih banyak kesempatan bagimu untuk meninjau ulang, dikau tidak mengenal aku dengan baik, makanya kau anggap aku ini punya banyak sekali kelebihan. Teman-temankulah ‘cermin’ paling jujur, karena mereka telah mengenalku dengan baik dan bersosialisasi denganku selama bertahun-tahun. Karena itu jika ingin ditinjau ulang, terbuka banyak kesempatan, mumpung perasaan ini belum nancap terlalu jauh!”. Gantian Honey yang bingung: “apa-apaan? Memang harus ditinjau ulang, tapi pendapat teman-temanmu itu yang harus ditinjau ulang, karena mereka tidak melihat dan menilaimu secara utuh! Aku sangat percaya dengan keputusanku, karena harus kau ingat, Honey.. aku lebih matang dan lebih berpengalaman dari dirimu! Aku tidak hanya mengikuti perasaan impulsif sesaat….”. Sejenak aku tenang mendengarnya, namun beberapa saat kemudian kembali melow dan pengen nangis.

Honey menenangkanku… “semua itu karena kau kangen padaku, Honey… sama seperti rasa kangenku padamu yang membuncah. Semua tanya dan perasaan ga nyaman itu akan selesai, begitu kita ketemu. Jadi bersabarlah… toh 5 Minggu itu ga lama….”. Tapi apa iya dengan ketemu semua masalah bisa selesai?? Aku ga terlalu yakin juga bahwa perasaan yang terkadang berantakan ini melulu karena kangen. Ya… kutrima saja dulu, sembari diuji dan dibuktikan kebenarnannya.

Dan sepanjang hari kemaren aku menghabiskan seluruh waktu di depan Laptopku, menulis dan membalas e-mail, memposting tulisan di blog ini dan chatting dengan beberapa teman. Aku pulang ke rumah sudah malam dan tiba hampir jam 9. Sesampai di rumah baru aku sadar… panggilan alamiah sebagai perempuan ternyata telah memanggil. Uuupsss, aku lupa kalo kemaren tanggal 28, dan memang sudah seharusnya untuk siklus 28 hari. Akhirnya aku senyum-senyum sendiri… Semua ketidak nyamanan ini terjadi karena Pre Menstrual Syndrome ternyata… Hahahaha.. sorry, Honey! Dikau telah menjadi sasaran dari kegagalanku mengenali diriku sendiri. Dasar…. ada-ada saja Olin!!!

Posted by Olin73 at 10:00:26 | Permalink | No Comments »

Saturday, February 28, 2009

Kangen (puisi Mellow untukmu, Honey…..)

Perlahan kau datang dalam hidupku
mencoba memberi warna
mencoba menghapus luka dari derita lama

aku memberanikan diri, memberi kesempatan itu kepadamu…
dan aku mulai bisa membuka hati

perlahan kau menawarkan sapu tangan
dengan santun kau minta, kuijinkan menyeka darah
yang terus mengalir dari lukaku yang mendera

aku menegarkan hati, membiarkanmu mengobati dan darah itu mulai berhenti
perlahan kau berikan sayang

perhatian tulus, pengertian dan dukungan
kau limpahkan cinta agar aku lupa

aku memberi hati menerima ketulusanmu
dan aku mulai mampu menyingkirkan nyeri

terimakasih, Sayang….
tapi akankah cinta ini sungguh akan jadi milikku???

 

aku berharap kau tak akan pernah pergi
agar aku tak pernah lagi merasakan nyeri

aku mau mencintaimu dengan sepenggal hati

(yang kukumpulkan dari puing luka yang tersisa)

menyayangimu dengan setulus rasa

sampai ajal datang menjemput…

dan aku boleh menutup mata

dengan menyimpan namamu di hatiku hingga denyut terakhir jantungku.

 

Aku mungkin hanyalah gugusan huruf dalam hidupmu
yang memberimu ribuan kata untuk merangkai kalimat
aku mungkin hanya nyata dalam maya
berbahagia dengan impian dan pikiran
mencoba mencintai dengan sepenuh hati

Ya, maafkan aku dengan segala rasaku

(jika kehadiranmu tidak sepenuhnya memberi apa yang kau butuhkan)
tiada aku akan memaksakan diri
cukup kusimpan sayangku sendiri
dalam hati sunyi, dalam ruang di mana aku dapat mengenangmu
selamanya…. sepuas hati…..

 

Sayang….,

jangan biarkan ruang itu menjadi sunyi kembali
ijinkan ruang itu dipenuhi cahaya matahari
bukan lagi ruang redup nan sepi
biarkan wangi ceria lemon grass dan tangerine
dan sesayup harum camelia menyapa hening

 

I love U, Ich liebe dich… Honey!

 

 

Posted by Olin73 at 13:30:27 | Permalink | No Comments »

Friday, February 27, 2009

tentang sebuah keraguan

Mungkin nada yang terdengar dari curahan hati ini tidah semerdu hari-hari kemaren. Namun bukan karena ada yang berubah dengan perasaanku terhadap Honey atau Honey terhadapku. Justru aku tau makin hari “pohon cinta kasih” itu tumbuh makin besar dan akarnyapun semakin kuat nancap di hati. Tadi malam kami terlibat diskusi yang cukup serius mengenai “berkorban”. Cukup serius bagiku karena menguras banyak sekali energiku untuk menganalisa dan perasaan yang jadi tidak karuan.

Ceritanya, kemaren sore aku membantu Ibu Erlina Pardede menyelesaikan Editan Buku hasil Penelitiannya tentang “Kekerasan dalam keseharian perempuan Batak di Dairi dan Sidikalang”. Sembari kerja Honey telpon dan cerita banyak hal tentang aktifitasnya di luar Kantor dan di Kantor (ini tanpa disadari jadi kebiasaan yang baik).  Lalu Honey cerita padaku: “Sayangku, besok siang aku mau Lunch dengan teman yang sudah lama ga ketemu. Dia cewek, sudah seperti adikku sendiri, sangat dekat dengan Mama dan Bapakku, juga dikenal oleh adik-adikku. Dulu ketika kami sama-sama aktif, saat aku masih menggeluti profesi yang sama dengan dia…. Boleh kan???”. Aku terdiam agak lama, memikirkan apa arti dari pernyataan ini. Tanpa sadar perasaanku menggiringku berfikir nyeleneh: ‘duh, Olin… kekasihmu itu kenapa harus segitu-gitunya memberi penjelasan mengenai rencana Lunch-nya besok? Ada apa??? Jangan-jangan kau sudah punya tendensi mengekang kebebasannya sehingga harus sedetil itu dia ceritakan tentang teman lamanya itu!’. Nah lho… setannya mulai nakal menggoda perasaanku. Apa iya begitu?? Tapi kujawab (klo ini jujur tanpa pretensi apapun), “Ga apa-apa, Sayang! Silahkan saja. Kau bebas koq mo kemana-mana. Aku percaya padamu”

Entah apa yang menyebabkan Honey kembali bertanya, “boleh kan, Olin?”. Kujawab lagi: “boleh, sayang!” (kucoba meyakinkan). Eh malah aku ditanya balik: “Kau ga apa-apa kalo aku pergi dengan temanku itu kan? Aku hanya mau menjalani hubungan ini dengan jujur, sedari awal. Aku ga mau kau sampai tau dari orang atau akhirnya mendapat kesan bahwa aku sengaja menyembunyikan sesuatu darimu! Aku tidak ingin kau terganggu, karena aku sangat menjaga perasaanmu. Buatku saat ini kau adalah prioritas utama dalam hidupku, melebihi apapun! Waktuku, fikiranku, seluruh hidupku orientasinya dirimu dan kebahagiaanmu, Honey!”. Mendengar penjelasan ini, aku yang tadinya tidak terganggu akhirnya benar-benar merasa diusik. Mulailah perasaan melankolik yang norak itu muncul. Dadaku bergemuruh kencang, fikiranku jadi kacau dan perasaanku jadi tak nyaman.

Aku sama sekali tidak melihat korelasi antara penjelasan yang sedetil itu dengan pokok masalah. Siapa yang mempersoalkan Honey mo pergi dengan siapa? Siapa yang curiga atau terganggu? Siapa yang dilukai perasaannya dengan rencana lunch itu? Kukira awalnya aku sama sekali tidak punya fikiran yang aneh, sedikitpun. Namun akhirny mau ga mau perasaan terganggu yang sudah mellow itu hampir meledak. “Separah itukah dirimu menilai aku, Sayang? Apakah kau nyaman menjadi kekasihku? Apakah terlihat indikasi bahwa aku sudah mulai mengancam kebebasanmu? Kukira aku tidak butuh penjelasanmu yang panjang lebar itu. Aku sudah sangat berterima kasih dengan kesediaanmu berbagi cerita padaku selama ini. Hampir seluruh kegiatanmu aku dapat ceritanya, tanpa kupaksa, kau memberikan lebih dari yang kubutuhkan, Lalu apa alasanku untuk cemburu / marah padamu?

Pernyataan dan pertanyaanku ditanggapinya: “tidak ada fikiran apapun melatar belakangi niatku cerita padamu. Sejak awal aku sudah kommit pada diriku sendiri, tidak ada yang aku sembunyikan, aku mau hubungan ini berjalan dengan jujur, kita harus membiasakannya dari sekarang, Sayang!”

Aku yang tambah bingung dengan penjelasannya, akhirnya kembali bertanya: “Sayang, benarkah kau menyayangiku, mencintaiku dan membutuhkan aku?”. Lalu Honey bertanya: “Lho, koq pertanyaannya itu-itu lagi? Bukankah kita sudah pernah membahasnya dengan tuntas? Aku tidak mau kau menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk memikirkannya. Aku bukan orang jahat, Honey. Aku tidak bisa berdusta kepada orang lain, bagaimana aku harus mendustai diriku sendiri? Betapa tololnya Honey-mu ini kalau aku selama ini hanya bermanis bibir dan merayu gombal. Betapa tidak bermartabat dan tidak memiliki integritas diriku ini. Aku tau latar belakangmu, Honey.. aku tidak berniat menyakitimu. Memang aku bukan orang yang sangat baik, tapi aku bukan orang jahat! Dan betapa jahatnya aku jika setelah semua cerita perih yang kau katakan padaku harus kubalas dengan menyakitimu dengan kebohongan. Itu akan membuatmu lebih hancur dan aku adalah penjahat paling jahat jika sampai melakukan hal itu!”. Selanjutnya Honey berkata (dan buatku ini memang terdengar keras): “Aku sebenarnya bisa dengan mudah memberikan apa yang kau mau, meyakinkanmu dengan mengatakan: “aku sayang padamu, aku cinta…dll,dst… tapi aku tidak mau melakukan itu, karena aku ingin kau mengambil keputusan sendiri untuk memilihku, bukan karena kuyakinkan, kau bisa yakin dengan keputusanmu… karena bagiku Proses itu sangat mahal harganya…. dan aku ingin kita menikmati proses itu….!”

Lama memang aku bergumul dengan perasaanku, sampai akhirnya (seperti biasa… kesabaran Honey membuatku luluh) aku kembali merasa nyaman. Percakapan berakhir menjelang tengah malam, dan aku bisa tidur dengan nyaman… karena apa yang jadi kupikirkan sebanarnya bukanlah persoalan. Seperti kata Honey: “Sayang, kau sering menakut-nakuti dirimu sendiri dengan bayangan yang gak perlu, yang ga beralasan. Nikmatilah semua proses….. kau pasti bahagia karenanya!”. Hm…. bisa jadi kali ya????

Posted by Olin73 at 08:50:53 | Permalink | No Comments »

Thursday, February 26, 2009

Peranan Mama terhadap gangguan komunikasiku dengan Honey…

Kemaren aku absent ya….?? Iya, karena aku emang ga sempat OL. Aku berangkat ke Medan, mo jemput Mama yang pulang dari “petualangan” di East Borneo. Karena nyampenya udah jam 7-an malam, Mama kurang nekad jalan sendiri, ya, sebagai putri yang manis aku setuju menjemputnya di POLONIA.

Sejujurnya (bukan berarti aku ga jujur sebelumnya), kepulangan Mama ini membuatku sedikit worry. Aku sudah bisa bayangkan apa yang akan terjadi dengan kehidupanku, pasca ketemu Mama lagi setelah 2 bulan memproklamirkan diri menjadi orang merdeka dan mandiri….. Bukan berarti aku ga inginkan Mama ada didekatku… bahkan aku pernah bilang, 2 bulan ga bersama-sama menyisakan kerinduan koq di hatiku… karena diam-diam aku juga kangen dicereweti (selain kangen sama masakannya yang bisa bikin aku jadi genduuuutttt). Tapi klo cerewetnya Mama sampai mengganggu kenyamanan, itu yang jadi masalah…. !

Ceritanya tadi malam, setelah jemput Mama di Polonia, dalam perjalanan Medan - Pematangsiantar Honey telpon sampai berjam-jam. Eh si Mamanya ga trima, katanya apa ga cape ngobrol terus…???  Aku masih senyum. saja menanggapi (walau sudah mulai jengkel) Akibatnya setelah telepon terputus, (padahal masih kurang jika dibandingkan dengan rutinitas dan habbits sebelumnya), kutinggal tidurlah jadinya…

Nah bangun tadi kan ada telepon “selamat pagi” lagi. Kali ini aku yang mulai… tapi karena Honey buru-buru mo ke kantor, harus cepat-cepat mandi, benar-benar hanya sempat say: “Good morning, Dear…”. Dalam perjalanan ke Kantor Honey telpon dan akupun sama-sama lago OTW ke Kantor. Hanya saja, bakalan gawat nih… kenyamanan komunikasi bisa terganggu karena mama yang over protektif. Gimana donk Honey??? I’ll miss U kebanyakan deh.. karena kata-kata yang ada dan ingin kusampein padamu ga sempat nyampe…

Kudu pintar-pintar cari selahnya deh jadinya…. Gimana mengatasi hal ini, Honey??? Aku kangen nih!

Posted by Olin73 at 09:18:24 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 24, 2009

Cinta: haruskah memiliki??

Harus jujur kuakui, semakin hari aku makin yakin dengan cinta yang kumiliki terhadap Honey. Begitupun cinta yang Honey berikan terhadapku, selalu memberikan kenyamanan dalam bathinku. Chemistry yang makin kuat menjadi salah satu indikasi bahwa di antara kami memang sudah semakin jelas pemahaman ke arah mana kami akan membawa biduk cinta kami.Walau aku tetap tidak mau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi untuk relasi seumur jagung ini.

Hari ini aku terusik membaca kata bijak dari Khalil Gibran: “sejatinya cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan pribadi masing-masing”. Aku resah dengan pernyataan ini, karena kupikir aku memang harus menyadari bahwa intensitas komunikasi di antara kami yang kian hari kian meningkat telah menyeretku pada sebuah keadaan (yang tanpa kusadari) membuatku dependent (tergantung) kepada Honey. Memang itu bukan kemauannya, bahkan aku pernah menulis di blog ini, Honey  justru berharap aku merasa bebas terhadapnya dan bersamanya  - jadi bukan sifat Honey yang mau mengatur hidupku apalagi sampai mengendalikan sesuai keinginannya. Bahkan terkadang ada sedikit kejengkelan di hatiku, ketika aku menceritakan sesuatu hal mengenai diriku, masalahku, aku  sebenarnya sedang membutuhkan sedikit komentar dari Honey… tapi dia hanya akan berkata: “Aku bangga padamu, aku yakin kau bisa menyelesaikan semua itu dengan baik!”. Padahal yang kubutuhkan adalah perhatian, sedikit saja…. namun dijawabnya: “kau mungkin akan menganggap aku terlalu tidak peduli terhadapmu, tapi justru dengan sikapku ini aku mau menunjukkan betapa peduli aku pada kemerdekaanmu bertindak dan bersikap. Aku selalu menghargai apapun keputusan yang kau buat, aku akan dukung semampuku!”.

Memang, sebagai perempuan, sejak kecil sangat mandiri karena aku tidak punya saudari untuk diajak sharing, aku ini satu-satunya putri yang dimiliki Papa dan Mamaku, sehingga lucu rasanya bicara masalah ‘jeroan’ perempuan dengan ketiga adik laki-lakiku…. hihihi….. Namun, harus terbuka  kuakui… Cinta ternyata bisa merubah banyak hal. Dan konyolnya, aku yang sebenarnya sangat independent dalam membuat keputusan, bisa dengan pasrah menaklukkan diri supaya ada dalam kendali Honey, bahkan tanpa dia ingini dan dia minta. Kutimbang-timbang dalam hatiku… sepertinya, dengan bersikap demikian aku juga justru sedang berusaha untuk tau banyak hal mengenai dirinya, intervensi dengan segala hal yang dia lakukan sebagai kebiasaan. Dengan mengatas namakan CINTA dan berlindung di balik perasaan sayang, menginginkan yang terbaik untuk seorang kekasih, aku mulai terdengar sering berteriak agar jatah merokoknya dikurang, agar pola hidupnya lebih sehat, agar makannya dijaga dan teratur jadwalnya… agar… agar… dan sekian “agar…” lainnya…

Ah.. aku mulai terseret pada perasaan memiliki yang lebih dalam, menganggap bahwa aku sepertinya lebih berpengetahuan dan lebih teratur hidupnya dari Honey sehingga  aku harus ikut untuk mengorganize dirinya yang diakuinya sangat tidak teratur dan sering tidak terkontrol. Padahal bukan berarti juga ketika Honey bicara mengenai kejelekannya berarti dia sedang meminta aku turun tangan memegang kendali, kan???

Khalil Gibran memang mengusikku: “Cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan masing-masing”. Sekarang aku resah… bagaimana mengatasi perasaan memiliki yang mulai tumbuh…?? Apakah mungkin tendensinya menjadi destruktif terhadap rasa aman dan rasa nyaman yang sudah mulai bisa terbangun ini??? Entahlah….

Posted by Olin73 at 11:27:15 | Permalink | No Comments »

Monday, February 23, 2009

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak bertanya tentang calon suamiku, aku menantinya menjemputku di tempat yang Tuhan sediakan, dan satu hal yang  pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Tuhan. Sehingga aku nikahi seorang suami yang tegar, bertanggungjawab, mencintaiku, menerima apapun keadaanku dan berbati kepada orangtua.

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan calon suamiku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.

Ketika Tuhan menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan calon suamiku, yang rasanya akan sulit aku tandingi.

Ketika Tuhan menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Ya Tuhan, jadikan dia, seorang laki-laki, suami dan ayah anak-anakku kelak, yang dapat bersamaku bergandengan tangan menuju jalan SurgaMu. Amin.

Sahabat-sahabatku, ketika Tuhan menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…., yang….., yang….., dan 1000 “yang”…… lainnya. Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan. Ketika kebersamaan dua insan teruji oleh waktu dan berjalan dalam Takut akan Tuhan.

Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, tidak akan ada ego yang menonjol, yang berkeinginan menguasai satu terhadap yang lain, yang ada hanya saling menolong, menganggap seorang lebih utama dari dirinya sendiri, saling mengasihi, saling melayani sebagaimana kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan.

Sahabat-sahabatku, ketika usiaku 22 tahun, saat menyelesaikan studyku, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Tuhan dengan banyak kriteria dan dengan tanda-tanda yang aku tetapkan supaya Tuhan kabilkan. Meskipun saat itu aku memiliki kekasih, Tuhan belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 25 tahun, saat aku mulai memasuki dunia pelayanan dan karirku, aku juga berkeinginan menikah. Namun kekasih yang kupunya ketika itu tidak lolos memenuhi syarat dan kriteria yang diinginkan oleh orangtua dan keluarga besarku. Akupun gagal sampai kepada tahapan perencanaan dan persiapan untuk menikah.

Saat usiaku 27 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang syarat dan kriteriaku untuk jodoh kepada Tuhan. Rupanya masih terlalu banyak. Dan akhirnya aku menikah, dengan orang yang kukenal ketika pelayanan di Gereja. Semuanya Indah di masa 6 bulan penjajakan…. keluarga calon Mertua juga sangat manis kepadaku. Calon suamiku juga sangat care terhadapku. Dan aku merasa sangat nyaman dengan hubungan yang kami bina, meski hati seorang Bunda-Ibuku agak terusik karena beberapa pertimbangan personal yang tidak ingin dia diskusikan terbuka denganku. Namun aku mengabaikan faktor itu, kuanggap tidak terlalu berpengaruh, kukira tidak ada lagi hambatan untukku melanjut ke jenjang pernikahan.

Dan akupun mendoakan rencanaku, kukatakan kepada Tuhan apa yang kurasakan, kuinginkan, kuharapkan dan kurencanakan. Sejauh kenyataan, semua berjalan seperti apa yang kuharapkan. Aku memang tidak lagi terpaku pada kriteria jodoh yang sejak lama kuimpikan, aku tidak lagi terlalu memaksa agar semua keinginanku menjadi kenyataan, akupun belajar mensyukuri bahwa apapun yang sedang berlangsung berada dalam sepengetahuanNya.

Pernikahan yang mewah (ini sama sekali tidak pernah hadir dalam impianku) akhirnya digelar. Gedung yang megah, tamu dan undangan yang melimpah merayakan hari di mana aku dan suamiku menjadi ratu dan raja sehari. Limpahan hadiah, ratusan ulos, karungan beras dan entah berapa banyak amplop berisi kartu dan bingkisan mewarnai pernikahan tah terfikirkan itu. Aku bahagia, suamiku juga tersenyum gagah…. Mungkin dia bangga berhasil menyunting aku menjadi istrinya. Meski lelah, pulang dari gedung usai menyelesaikan semua rangkaian acara Adat, keluarga besar kami tampak lega. “Akhirnya…..” itulah mungkin yang mereka fikirkan.

Aku memulai hari pertama pasca pernikahanku dengan ketaatan kepada suami sebagaimana ketaatan kepada Tuhan, yang menjadi alasan aku untuk menikah. Namun rasanya aku bertepuk sebelah tangan. Apa yang terasa indah dalam 6 bulan perkenalan dan penjajagan, berubah menjadi drama tragis yang menguras air mata. Hari berlalu tanpa kemesraan dan limpahan kasih sayang, Minggu berganti dengan warna kekerasan yang menyesakkan, bulan berjalan dengan kehampaan dan di akhir tahun kedua semuanya harus berakhir tanpa tuntas penyelesaian.

“Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah”, ternyata tidak meninggalkan damai sejahtera dalam perjalanan hidupku. Aku tidak tau dimana letak kesalahannya: apakah aku kurang gigih menggumulkannya, ataukah Tuhan memang merancangkan jalan hidupku harus melewati semua ini, karena dia punya skenario lain dalam kelanjutan hidupku di masa depan?? Tapi aku tidak mau mempersalahkan Tuhan, tidak akan pernah…. Keputusan yang kubuat dengan kesadaran yang kuat, tanpa tekanan siapapun. Dan aku terima serta jalani babak kehidupanku selanjutnya dengan pasrah dan berserah……

Tujuh tahun berlalu tidak seperti apa yang kumau. Aku memiliki kesadaran yang kuat, ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka aku harus berserah pada rancangan Tuhan untukku. Kuingat bahwa Tuhan memang tidak pernah berjanji akan selalu ada mata matahari, atau akan melulu hujan… Tapi Tuhan akan memperhitungkan setiap tetes airmata, mengenal hatiku yang penuh kepasrahan…..

Lalu sekarang… setelah 7 tahun, aku menemukan jalan menuju kebahagiaan. Kuyakini itu dengan hati karena belum pernah pengalaman ini kualami sebelumnya. Salahkah jika aku kemudian berfikir, inilah jawaban atas kepasrahan dan ketaatan memikul salib untuk pergumulanku? Bolehkah aku berharap bahwa kehadiran seseorang yang sangat mempengaruhi seluruh irama hidupku selama 2 bulan terakhir ini sebagai rencana Tuhan yang manis untuk hidupku. Setiap hari selalu ada komunikasi yang baik antara aku dan dia… semakin lama semakin dalam dan larut kepada saling memahami, tanpa hasrat untuk bersandiwara atau menyembunyikan kenyataan yang ada, kubuka semuanya kepada dia. Diapun sangat bisa memahami, bahkan memiliki chemistry yang sama kuatnya dengan apa yang kurasakan. Aku memang tidak mau punya ekspektasi yang terlalu tinggi akan masa depan dari relasi yang masih seumur jagung. Aku juga tidak mau berharap terlalu besar akan kebersamaan yang manis ini. Aku hanya mau menikmatinya sebagaimana air mengalir…. biarkanlah waktu menguji… dalam perjalanannya akan ada batu karang yang mungkin memecahnya menjadi buih, akan ada riak-riak berupa gelombang yang menghadang, dalam proses menyesuaikan diri sampai kepada satu pemahaman, meski tidak harus selalu seragam, namun ada toleransi dan saling pengertian. Aku hanya mau menikmati setiap hari berlalu sebagai sebuah episode dimana Tuhan menjadi sutradaranya.

Aku tidak merasa cantik, karena itu aku tidak berfikir harus mencari yang tampan. Aku tidak mempersoalkan harta yang cukup, karena aku sadar bahwa hartakupun tiada. Aku tidak menuntut dia harus baik, karena aku sadar aku juga tidak cukup baik. Aku tidak meminta dia harus mengerti aku, karena belum tentu juga aku bisa sepenuhnya mengerti dirinya. Aku tidak minta dia harus pintar, karena akupun belum tentu sepintar apa yang dia inginkan. Akhirnya aku hanya meminta sedikit: “Ya Tuhan, berikan pada kami hati yang terbuka, yang mau menerima satu sama lain apa adanya, jadilah kehendakMu! (Tapi aku percaya Tuhan tetap mempertimbangkan kebutuhan kami).”

Dan aku akan terus menjalani hari-hari ini dengan suka cita, menerobos berbagai rintangan di depan sana. Dengan pengalaman kegagalan sebelumnya, berharap aku bisa membuat keputusan yang lebih baik, yang sungguh-sungguh bersasar kepada dalil: “Ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah”. Sehingga aku tidak akan pernah menyesal lagi… selamanya. Karena ketika Tuhan yang menjadi alasan paling utama untuk menikah, isak tangis akan berubah menjadi damai yang membahagiakan. Dan aku akan bersabar menanti saatnya tiba…..

Posted by Olin73 at 08:48:25 | Permalink | No Comments »

Saturday, February 21, 2009

hmmmm…. tulisan suka-suka…..

Aku bangun tidur kesiangan, hampir jam 8 pagi, abisnya “online” sampai jam 2  lewat tengan malam.  Sebenarnya sih badan masih belum ingin bangkit, masih pingin malas-malasn, toh hari ini Kantor libur. Menghabiskan waktu di hari libur tanpa rencana yang terstruktur mungkin menyenangkan. Jadi aku bisa menghabiskan waktu suka-sukanya aku, mo ngapain kek, mo cemmana kek, pokoknya aku senang.

Tapi ternyata baru saja fikiran itu muncul di benakku, sudah masuk telepon dari Bu RD, Bendahara Kantorku, yang meminta aku datang ke Kantor. Sebenarnya bukan untuk kerja, namun untuk membereskan Ruanganku yang lama, memindahkan isinya ke ruangan yang lebih kecil karena Ruangan itu akan dipakai oleh teman-teman lain: Tulus, Ronald dan Uly juga mungkin. Segera aku mandi dan guyuran air yang dingin menyegarkan. Dengan langkah mantap kubawa Backpack Laptopku menuju kantor. Kubereskan ruangan itu sendirian, secepat yang aku bisa. Karena kupikir, makin cepat selesai, makin banyak waktuku untuk nge-Net, ber Feizbuuk, kirim e-mail, Chatting dan ga lupa nulis Blog ini. Sebenarnya aku juga ga tau apa yang akan kutulis karena kupikir tidak ada juga pengalaman yang sangat istimewa hari ini.

Aku sempat telpon-telpon dengan adikku Melky di Jakarta dan Ricky di Balikpapapn, juga dengan Mama. Akhirnya aku tau kalo mama sudah 2 hari kurang enak badan. Mama sih ga mau ngaku kenapa dirinya, “hanya kurang enak badan!”, itu saja jawabannya. Tapi aku bisa menduga kenapa Mama begitu dan sangat mengerti mengapa Mama akhirnya kurang enak badan. Sudah sejak sebulan yang lalu Mama minta pulang dari Balikpapan, dari rumah anak kesayangannya. Katanya ga betah. Padahal dia belum genap 3 Minggu berada di sana, sejak lewat Natal, tanggal 28 Desember yang lalu. Itupun tidak melulu di Balikpapan, karena aku yang sudah lebih dulu ada di sana dari awal Desember, akhirnya mendapat reward dari Ricky, diajak berlibur ke Yogya bersama Edaku July, Paramanku Paulus dan Phillip juga. Mereka kembali tanggal 7 Januari ke Balikpapan sementara aku meneruskan perjalanan ke Jakarta dan kembali ke Pematangsiantar. Saat itu Mama sebenarnya minta ikut pulang sekalian ke Siantar, kota yang sudah ditinggali Mama sejak berusia 8 tahun. Namun aku, Ricky dan Melky bersekongkol dan sudah sepakat untuk menahan Mama agar lebih lama berlibur di Balikpapan. Toh dalam usia yang hampir 63 tahun Mama itu sudah terlalu letih mengurusi kami, mendukung kami supaya semuanya bisa menyelesaikan study Sarjana. Sejak masih muda hingga sekarang Mama itu selalu mandiri, tidak mau menyusahkan siapapun anaknya, padahal hidupnya sangatlah sederhana….

Hal yang membuat Mama memaksa pulang adalah Kios kecilnya di pasar Horas Pematangsiantar, yang sebenarnya juga sudah tidak terlalu menggembirakan hasilnya. Kami sudah menyarankan agar Mama “pensiun” saja dari ‘karir’nya itu dan menenangkan diri dengan melakukan apa yang bisa menyenangkan hatinya. Namun Mama adalah Mama. Mana bisa dia itu duduk diam…? Sekalipun lagi sakit, semuanya pasti diurusinnya. Kalo kita anak-anaknya flu dikit, Mama pasti merepotkan dirinya dengan segala hal menaggapi keluhan kecil kita. Tapi kalo kita yang berniat baik untuk dia, selalu salah ditanggapi, dia akan bilang: “dang ringkot dope asian muna au, boi dope huula saluhutna” (belum perlu kalian mengasihani aku, aku masih bisa mengerjakan semuanya). Wah… payah! Tapi itulah Mama. Dan hari inipun bisa kubayangkan betapa Mama merepotkan dirinya. Hari ini adikku Ricky genap 32 tahun usianya. Salah satu alasan yang dipakai Ricky untuk mencegah pulangnya Mama segera bulan kemaren adalah: “nunggu aku ulang tahun, Mama… sekalian acara selamatan Rumah ini” (kebetulan Ricky baru membeli sebuah Rumah di Perumahan Balikpapan Baru).

Namun aku menjadi khawatir mendengar suara Mama di telpon tadi.. lemas, tidak berdaya. Mama kehilangan semua semangat dan vitalitasnya. Dan aku sangat yakin itu disebabkan oleh kebosanan yang sudah memuncak di Balikpapan. Seharian kerjaan Mama paling menonton siaran dari saluran Indovision, bermain dengan cucunya Phillip, karena Paulus dan Mamanya, dr. Julyanti sudah disibukkan dengan jadwal rutin: ke Sekolah, Speech Theraphy dan Behaviour Theraphy. Sesekali Mama diajak ke Mall, tapi dia jarang mau ikut, karena capek katanya. Mama juga sudah diajak ke Pantai (lokasi pavoritnya adalah segala yang berhubungan dengan air… lebih luas sudut pandangnya - itu kata Mama). Mama juga sudah diajak kemana-mana, tapi toh tidak berhasil membuatnya betah….

Menjelang sore tadi kutelpon kedua adikku, supaya mereka itu mengalah… mengijinkan Mama pulang tanpa harus menunggu jadwal tiketnya yang sudah dibeli sejak Desember yang lalu. Aku tidak ingin Mama menjadi sakit benaran karena merasa keinginan dan haknya untuk pulang ke rumahnya sendiri diabaikan. Adikku berjanji akan mengurus semuanya sebaik mungkin.

Sempat juga aku curhat kepada Honey tentang ini, saat kami telponan siang tadi (sampai batre abis dan terpaksa dilanjutkan dengan Chatting). Honey sudah mengingatkan aku sejak bulan yang lalu, bahaya dari mengabaikan kebutuhan psikhis orangtua dan dampaknya terhadap semangat hidup dan kesehatannya. Apa yang dikatakan Honey itu terbukti dialami oleh Mama saat ini. Aku menjadi sedih sekali…. Di satu pihak, akupun sudah bosan sendirian di Rumah selama satu setengah bulan ini, sejak kembali dari Yogya. Namun akhirnya kusadari juga bahwa kemerdekaanku untuk mengatur diriku akan ikut terkebiri jika Mama kembali nanti. Aku tidak akan bisa lagi sebebas ini mengatur hidupku. Karena memang sudah terbukti Intervensi Mama sangat dominan terhadap aku, dengan alasan: aku ini boru panggoaran dan boru sasada yang dia punya. Memang Mama tidak pernah punya rancangan yang jahat bagi hidupku, namun seringkali perspektif yang kita ginakan berbeda sehingga terjadi salah pengertian. Niat yang sama-sama baik akhirnya hasilnya berantakan. Tapi apapun… aku akan berusaha mengerti Mama, semampuku, sebagaimana pesan Honey padaku: “Mama tidak akan lama lagi menikmati perannya, jika Honey sayang padanya, apa salahnya membuat orang yang Honey kasihi merasa bahagia?”. Aku kembali teringat statemennya padaku di Valentine’s day seminggu yang lalu: KEBAHAGIAAN adalah KATA KERJA. So kalau aku ingin kebahagiaan, aku ingin membahagiakan Mama, maka aku harus mau bekerja untuk itu, meskipun akan banyak ketidaknyamanan dalam perjuangan mencapainya. Mampukah aku yang temperamental ini melakukannya??? 

Posted by Olin73 at 12:11:49 | Permalink | No Comments »